Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Perbincangan absurd


__ADS_3

"Mana bengkelnya?" tanya Jemima yang sudah berhenti di tepi jalan.


"Yah... kok udah tutup sih. Bentar, gue turun cek dulu," sahut Fredy.


Pemuda itu turun dari mobil dan berjalan ke arah sebuah bengkel kecil yang sepertinya memang sudah tutup sepenuhnya. Jam memang sudah menunjukkan pukul setengah enam petang, dimana sebagian besar usaha di siang hari sudah tutup.


Fredy terlihat mengetuk-ngetuk pintu bengkel, namun tak ada yang keluar atau merespon. Tak lama kemudian, pemuda tersebut kembali berjalan ke arah mobil Jemima.


"Gimana?" tanya gadis itu membungkuk melihat wajah Fredy yang sepertinya kecewa.


"Tutup," sahutnya singkat sambil menggaruk keningnya.


"Mau gue anter pulang sekalian? Nggak papa kok," tawar Jemima.


Fredy terlihat diam, dan lekas merespon tawaran tersebut. Hingga Jemima kembali mengatakannya.


"Gimana? Mau dianter nggak?" tanya Jemima lagi.


"Ya udah lah," jawab Fredy.


Dia pun lekas masuk ke dalam dan mobil kembali melaju.

__ADS_1


Rupanya mereka harus putar balik, karena arah dari kampus ke bengkel, dengan ke tempat tinggal Fredy berlawanan arah. Jaraknya pun lumayan jauh hingga Fredy harus berpikir dua kali untuk pulang sendiri.


"Mogok dari semalem?" tanya Jemima.


"Ho'oh, pulang manggung," sahutnya malas.


"Terus lu naik bus gitu? Jauh banget dong. pantesan tadi pagi kek capek, ngantuk banget. Kenapa nggak nebeng abang gue aja sih?" cecar Jemima.


"Kenapa lu mendadak bawelnya kumat sih? Nggak lihat tadi dimana? Itu bukan jakurnya Jordi. Husein juga nggak lewat jalan situ."


"Ya mau gimana? Udah malem juga. Gue nggak mau ngerepotin orang. Lagian gue cowo ini. Mau naik bus, mau jalan kaki malem juga nggak masalah," tutur Fredy.


"Yeh... biasa aja kali. Nggak usah ngegas gitu jawabnya," timpal Jemima ketus.


"Iye deh, iye... ampun ngegas mulu nih cowo. Susah dapet pacar ntar lu," ledek Jemima.


"Sok tau. Banyak cewek yang ngantri pengin jadi pacar gue, tau nggak lu," elak Fredy.


"Anjir... pede gila nih cowok," sahut Jemima gedeg.


Keheningan terjadi sejenak. Namun, tiba-tiba tawa mereka meledak. Keduanya seolah menyadari obrolan mereka itu meski terdengar penuh dengan perdebatan, tapi terasa lucu hingga tanpa sadar koneksi terjadi dan mereka tertawa bersama.

__ADS_1


perjalanan yang memakan waktu kurang lebih empat puluh menit itu pun menjadi tak terasa, karena keduanya terus saja melempar tanya jawab yang absurd.


"Udah di sini aja. Kosan gue masuk gang. Mobil lu nggak bakal muat," ucap Fredy.


Pemuda itu pun turun dari mobil. Jemima menurunkan kaca mobil dan menunduk agar bisa melihat wajah Fredy.


"Entar malem manggung nggak? Mau gue kasih tau abang gue buat jemput lu nggak?" tanya Jemima.


"Nggak usah. Gue bisa naik bus sendiri. Lu cepetan balik sana, udah malem," seru Fredy.


"Ya udah. Gue balik dulu. Bye," sahut Jemima sembari melambaikan tangan.


"Thanks ya," ucap Fredy yang juga melambaikan tangan.


Gadis itu pun kembali melajukan mobilnya pulang ke rumah.


Seperginya Jemima, Fredy masih terlihat terdiam dengan tangan yang mengambang di udara.


Hingga dia tersadar dan segera menurunkan tangannya dan memijat kening, seraya menyembunyikan senyumnya.


Pemuda tersebut lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam gang, dimana kos-kosannya berada, dan bersiap untuk pertunjukan nanti malam dengan teman band-nya.

__ADS_1


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2