Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Apa iya?


__ADS_3

Usai pertunjukan, Jordi dan teman-temannya berkemas. Fredy seperti biasa memasukkan kembali gitarnya ke dalam tas, sementara Husein mengantongi stik drum nya. Hanya Jordi yang tak mengemas instrumen karena dia jarang membawa keyboard nya saat manggung.


Dia lebih senang menggunakan alat musik yang sudah di sediakan oleh penyelenggara, dari pada repot-repot membawanya.


Setiap minggu sore, mereka akan meliburkan diri karena job manggung biasanya akan sepi di hari itu, mengingat keesokan harinya adalah senin, dan kebanyakan orang-orang memilih untuk beristirahat menyiapkan diri untuk aktivasi rutin esok hari.


Saat libur, ketiga pemuda itu akan berlatih di sebuah studio musik. Biasanya mereka patungan untuk menyewa tempat sekitar tiga sampai lima jam.


Saat itulah Jordi baru akan membawa alat musiknya, karena biasanya alat musik di sana dalam kondisi kurang baik sehingga menghambat latihan.


Setelah semuanya selesai berkemas, mereka pun menghampiri Jemima yang masih berada di meja pengunjung.


Fredy yang lebih dulu keluar, dan mendapati gadis itu tengah merebahkan kepalanya, dengan satu tangan lurus di atas meja sebagai bantalan.


Matanya terpejam dan terlihat begitu tenang. Dia berjalan mendekat, dan melihat ada rambut yang di wajahnya yang mengganggu tidur Jemima.


Entah sadar atau tidak, Fredy mengulurkan tangannya dan membantu Jemima menyingkirkan rambut yang mengganggu itu.


"Akhirnya pulang juga. Capek banget gue," ucap seseorang dari arah backstage.


Tiba-tiba, suara Husein yang datang bersama Jordi mengagetkannya dan membuat Fredy segera menarik tangan dari Jemima. Dia mencoba bersikap se normal mungkin sambil membetulkan tali tas gitarnya.


Karena suara berisik itu, Jemima pun terbangun dari tidurnya dan melihat sang kakak sudah siap untuk pulang.


"Udah selesai, Bang?" tanya Jemima sambil mencoba menyadarkan diri.


"Udah. Yuk balik," ajak Jordi.

__ADS_1


"Ehm... oke... Hoaaaammmm...," sahut Jemima sambil menguap.


Dia meregangkan kedua tangannya yang terasa begitu kaku, lalu bangun dan meraih tasnya.


"Gue balik duluan ya. Sen, helm lu gue pinjem dulu," ucap Jordi pada kedua temannya itu.


"Oke, Bro," sahut Fredy.


"Ati-ati lu," timpal Husein.


Jordi dan Jemima pun keluar lebih dulu dan pulang ke rumah. Sementara Husein, dia tiba-tiba merangkul pundak Fredy sambil terus melihat ke arah kakak beradik itu menghilang.


"Lu naksir adeknya Jordi kan?" tanyanya tiba-tiba.


Hal itu sontak membuat Fredy menoleh dengan kedua alis yang bertaut. Sementara Husein, dia malah menyeringai sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Nggak usah ngelak. Gue liat kok tadi apa yang lu lakuin ke Jemima. Hem... Hem...," goda Husein.


"Eh, Sen. Kalo gue suka sama tuh cewe, itu tandanya gue masih normal. Lagian keknya lu dah ngantuk deh. Yuk ah pulang," sahut Fredy.


Dia meraih tas gitarnya dan berjalan keluar menuju parkiran.


Selama di perjalanan, Fredy terus memikirkan perkataan Husein tadi.


Gue suka sama tuh cewe freak? Kalo iya, fix gue udah gila, batin Fredy.


Dia bahkan sampe bergidik seolah ngeri dengan hal itu.

__ADS_1


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Keesokan harinya, Jemima bangun siang karena pulang larut, ditambah lagi dia tak ada kuliah di hari sabtu.


Sementara Jordi terlihat sudah rapi karena harus melakukan bimbingan skripsi dengan dosen yang sudah membuat janji di akhir pekan.


Tomi seperti biasa akan pergi ke katanya, dan Papah ada meeting dengan seluruh kepala cabang yang ada di Jakarta.


Gadis itu turun dari kamarnya dengan masih mengenakan piyama, bahkan rambutnya pun masih acak-acakan dan belum ia ikat.


Berkali-kali terlihat Jemima menguap saat menuruni anak tangga, hingga sampai di depan meja makan.


"Pagi semua," sapa Jemima.


"Pagi," sahut Papah.


"Buruan duduk. Kita cuma nungguin elu buat makan tau," seru Jordi.


Jemima tak menyahut dan langsung duduk di samping Mamah. Tak ada perbincangan awal dan mereka langsung memulai sarapan karena waktu sudah cukup siang.


Setelah selesai makan, Jemima membantu Mamah membereskan meja makan dan menaruh alat makan yang kotor di wastafel.


"Semalam kenapa bisa sampe ketilang sih?" tanya Mamah.


Jemima baru sadar kalau dia belum dapat alasan untuk masalah itu. Dia pun berusaha memutar otak, hingga Mamah curiga dan kembali memanggilnya.


"Imah, kamu nggak macem-macem lagi kan?" tanya Mamah curiga.

__ADS_1


Namun, Jemima hanya menjawabnya dengan senyum lebar, selebar samudra hingga gusinya pun terlihat jelas kemerahan.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2