
Keesokan harinya, saat pelajaran Pak Dimas, Jemima dan Fredy maju untuk presentasi tugas kelompok mereka. Keduanya terlihat begitu kompak dan juga saling bersinergi dalam menjelaskan hasil observasi mereka.
Slide presentasi yang dibuat begitu unik dan menarik membuat para audien tak merasa bosan dan terus menyimak apa yang di sampaikan.
Bahkan sesi tanya jawab yang merupakan ajang saling menjatuhkan antar kelompok, dilewati dengan begitu baik dan lugas oleh keduanya.
Sang dosen pun terlihat puas dengan penampilan Jemima dan juga Fredy.
"Demikian yang dapat kami sampaikan. Kurang lebihnya mohon, dan terimakasih," ucap Jemima mengakhiri.
Tepuk tangan pun diberikan kepada mereka berdua.
"Bagus sekali. Sudah saya katakan bukan, kalian berdua itu sangat cocok. Feeling saya tidak salah. Penampilan kalian sejauh ini yang paling baik. Selamat," puji Dimas.
Jemima terlihat tersipu mendapatkan pujian dari dosen kesayangannya.
"Hehehe... kalo feeling Bapak ke saya, gimana, Pak?" tanya Jemima langsung.
Fredy menoleh dengan tatapan tajam ke arah Jemima. Dimas menyadari hal tersebut dan tersenyum tipis.
"Feeling saya ke kamu tetap sama, kalau kalian berdua sangat cocok satu sama lain," sahut Dimas.
Jawaban sang dosen sontak membuat semua mahasiswa di ruangan tersebut tertawa menimpali pernyataan Dimas.
__ADS_1
"Ih... kok, Bapak gitu...," keluh Jemima.
"Apa saya sudah bisa duduk, Pak?" sela Fredy, membuat Jemima melirik tajam karena kata-katanya dipotong.
"Silakan," sahut Dimas.
Fredy pun berjalan meninggalkan Jemima yang masih betah berdiri di depan kelas, dan menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa di sana.
"Kelompok berikutnya silakan bersiap-siap," seru Dimas seolah mengusir halus Jemima untuk segera duduk di kursinya.
Gadis tersebut kesal bukan main. Dia bahkan sampai berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Elu sih suka ngadi-ngadi. Pak Dimasnya jadi illfeel sama elu kan," bisik Jessica.
"Tau nih si Imah. Sudah bener dikasih tau," timpal Daisy.
"Ya ampun, Imah," sahut Daisy.
Jessica menepuk keningnya mendengar ucapan dari temannya itu.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Sore hari sekitar pukul setengah empat, kelas pun berakhir. Jemima terlihat begitu terburu-buru seolah hendak pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
"Tumben lu buru-buru banget. Mau kemana lu?" tanya Jessica.
"Lu berdua harus ikut gue. Kalian mesti jadi saksi buat kejadian bersejarah yang akan gue buat hari ini," jawab Jemima.
"Apaan sih? Lu jangan aneh-aneh deh," tanya Jessica khawatir.
"Nggak. Gue nggak akan aneh-aneh. Ikut aja dan lihat aja, oke. Yuk," ajak Jemima.
Dia berjalan lebih dulu keluar kelas, dan berhenti di ambang pintu karena merasakan kedua sahabatnya belum juga menyusul.
"Cepetan. Keburu orangnya pulang," seru Jemima.
"Mau ngapain tuh anak?" tanya Daisy.
"Tau. Udah yuk, ikutin dia aja. Kalo nggak bisa ngambek dia. Sekalian jadi satpam, kali aja dia bakal bikin masalah," ajak Jessica.
Daisy pun mengangguk. Mereka berjalan mengikuti Jemima yang masih menunggu mereka di depan pintu.
Melihat kedua temannya sudah berjalan, Jemima pun kembali melangkah dan menuju ke ruang dosen di lantai tersebut.
"Waduh... gue punya feeling nggak enak nih," gumam Jessica.
"Maksud lu?" tanya Daisy menoleh ke arah Jessica.
__ADS_1
Kedua gadis itu melihat temannya berjalan semakin dekat ke arah ruangan besar di ujung koridor. Sementara Daisy masih belum paham apa yang dimaksud Jessica tadi.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥