
AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!
Suara teriakan yang beradu dengan deburan ombak memecah karang, terdengar sayup di sekitar pantai.
Terlihat seorang gadis tengah berdiri di tepi bebatuan karang, dengan rambut panjang yang berkibar tersapu angin hingga menutupi wajahnya.
Dia nampak menangis dan meluapkan semua kesedihan di hatinya.
Tak jauh dari tempat gadis itu berdiri, seorang pemuda duduk di atas motor vespanya, dan terus memperhatikan gadis tersebut dari belakang.
Cukup lama mereka di sana, hingga tak terdengar lagi jeritan pilu dari gadis itu. Dia bahkan terlihat duduk dengan kaki menjuntai ke bawah, membiarkan kakinya tersapu air laut yang menghampiri.
Si pemuda merasa gadis itu sudah lebih baik, dan dia pun perlahan menghampirinya sambil membawa sebuah tumbler di tangan.
Gadis tersebut masih mengusap wajahnya yang basah, karena rupanya dia masih belum berhenti menangis.
"Teriakan lu kenceng juga ya. Ombak aja sampe kalah kenceng sama teriakan lu," ucap si pemuda yang tak lain adalah Fredy.
Dia sengaja membawa Jemima ke tepi laut, karena dia tau hanya di sanalah orang bisa berteriak sepuas mereka tanpa terdengar oleh orang lain.
Pemuda tersebut yakin, jika setelah ditolak oleh sang dosen, gadis itu pasti sangat sedih dan butuh meluapkan kesedihan.
__ADS_1
"Nggak usah ngeledek deh lu. Seneng kan lu lihat gue ancur kek gini?" timpal Jemima kesal.
"Ancur? Lu bilang kek gini ancur? Hah... cetek bener pikiran lu. Ditolak cowo itu hal sepele tau nggak. Kita ini mahasiswa jurusan sosial, masalah yang lebih berat dari ini tuh banyak. Jadi kalo elu mikir kek gitu aja idup lu ancur, berarti lu itu loser," sanggah Fredy sinis.
"Kebangetan bener sih lu. Bukannya ngehibur gue, malah jatohin mulu dari tadi. Nggak ada empati-empatinya jadi orang," gerutu Jemima.
"Terus mau lu apa? Gue puk-puk lu sambil bilang, 'semangat ya. Cowo masih banyak.' Gitu? Sorry, gue bukan tipe orang yang suka menye-menye. Hidup itu keras. Kalo gini aja udah ngeluh, gimana kalo ngadepin yang lebih sulit," sanggah Fredy.
Jemima kembali diam. Kata-kata Fredy memang terdengar sangat keras dan kasar. Tapi dalam hati, Jemima sadar jika semua itu memang benar.
Dia hanya bisa terus menghalau air mata yang masih saja keluar, meski dia sudah begitu lelah menangis.
"Nih minum, biar lu nggak dehidrasi gara-gara nangis mulu," ucap Fredy mengulurkan tumbler-nya.
Jemima menoleh sekilas, lalu dengan cepat meraih benda tersebut dan meneguk isinya. Dia menghela nafas panjang setelah berhasil menghabiskan semua isinya.
"Thanks," ucap Jemima mengembalikan benda tersebut.
Fredy meraihnya dan bermaksud meminum sisanya, tapi rupanya tempat minum itu sudah kosong.
"Haus lu?" sindir Fredy.
__ADS_1
Jemima lalu berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang sedikit berpasir.
"Ngafe yuk. Gue traktir lu minum. Laper gue nangis mulu dari tadi," ajak Jemima.
"Udahan nangisnya?" tanya Fredy mengejek.
"Udah. Lagian mau gue nangis ampe air mata kering juga, tuh cowo nggak bakal ada respon," sahut Jemima ketus.
"Sukur deh kalo elu cepet move on. Lagian lu juga kalah saing ama ceweknya. Udah cakep, keknya juga dewasa. Nggak absurd kek elu," ejek Fredy.
"Dih... sekate-kate ya ente. Udah buruan dih. Laper nih gue. Mau ditraktir kagak sih lu," sahut Jemima kesal.
Dia bahkan berjalan lebih dulu di depan, meninggalkan Fredy yang masih berdiri di tepi pantai.
Pemuda tersebut tampak tersenyum geli melihat tingkah Jemima yang cepat sekali berubah dari sedih, menjadi dia yang selalu bicara nge-gas.
"Buruan, kupret," pekik Jemima yang sudah sampai di dekat vespa Fredy.
"Iya, bawel," sahut Fredy.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥
__ADS_1