
Setelah turun dari bus, keduanya berjalan bersama namun tidak beriringan. Jemima berjalan lebih dulu beberapa langkah di depan, sementara Fredy memilih berjalan menjaga jarak sedikit di belakang.
Mereka tak bicara sedikitpun hingga sampai di gerbang kampus. Jemima berjalan lurus ke arah gedung fakultasnya, sementara Fredy berbelok ke ruang dosen pembimbingnya yang berada di gedung pusat.
Kebetulan dosen pembimbing skripsinya menjabat sebagai salah satu wakil rektor, sehingga ruangannya tidak sama dengan dosen lain yang berada di gedung fakultas masing-masing.
Jemima merasa Fredy sudah tak mengikutinya lagi, dan membuat gadis itu berbalik. Pandangan mengedar seolah mencari keberadaan pemuda tersebut.
Helaan nafas terdengar begitu panjang dari mulut gadis itu.
Gue kenapa sih? Kenapa tiba-tiba grogi kek tadi sih? batin Jemima.
Dia kembali berjalan ke depan hingga sampai di fakultasnya. Seperti biasa, Daisy dan juga Jessica sudah menunggunya di sana.
Keduanya terlihat khawatir dengan teman mereka itu, karena sejak kejadian kemarin, Jemima sama sekali tak menghubungi salah satu dari mereka.
Mereka berdua pun mencoba untuk memberi waktu Jemima untuk sendiri dan tak mengganggunya.
"Imaaaahhh...," panggil Daisy yang langsung menghambur memeluk adik Jordi itu.
Sementara Jessica dengan kalem berjalan menghampiri kedua temannya yang sudah saling berpelukan.
"Lu nggak papa kan, Mah?" tanya Jessica.
"Iya, Mah. Kita khawatir banget sama elu. Sejak kemarin lu nggak ada kabar sama sekali. Lu nggak papa kan?" timpal Daisy.
__ADS_1
Jemima pun berusaha tersenyum meski terlihat dipaksakan.
"Ya mau gimana? Yang namanya ditolak ya mestinya sedih kan. Tapi nggak papa kok. Lagian sejak semalem gue bisa tidur dengan pules," jawab Jemima.
Daisy menangkup kedua pipi temannya itu, dan mencoba melihat wajah Jemima dengan teliti. Dia bahkan menarik-narik bagian kelopak mata Jemima hingga adik Jordi itu menepis tangan temannya.
"Lu ngapain sih, Is?" keluh Jemima.
"Lu nggak nangis ya, Mah? Bukannya ini pertama kalinya elu nembak cowo? Harusnya kan sakit banget pas ditolaknya," tanya Daisy.
"Siapa bilang gue nggak nangis. Gue nangis kok. Malah sampe tereak-tereak. Tapi lu bedua tau sendiri kalo gue bukan tipe cewek yang kelamaan nangisin sesuatu kan," jawab Jemima.
"Tapi kan...," sanggah Daisy.
Keduanya pun mengiyakan dan berjalan menuju kelas.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Sore hari setelah perkuliahan selesai, Jemima dan kedua temannya pun saling berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Gadis itu pun mengambil mobilnya yang sejak semalam terparkir di parkiran kampus, dan pulang dengan kendaraan roda empat tersebut.
Di jalan menuju halte bus kampus, dia melihat seorang pemuda yang tadi pagi sempat membuatnya gugup karena alasan yang dia sendiri tak tahu.
Dengan inisiatifnya, Jemima mengimbangi Fredy yang berjalan di trotoar.
__ADS_1
"Eh, kupret. Mau bareng nggak? Motor lu mogok dimana? Biar gue anterin ke sono," tawar Jemima.
"Nggak usah. Gue bisa sendiri," tolak Fredy ketus.
"Dih... sok gengsi banget sih. Anggep aja ini balas budi gue, karena lu udah nyelametin muka gue depan dosen itu kemaren," bujuk Jemima.
Fredy berhenti dan membuat Jemima tiba-tiba menginjak remaja, hingga kelapanya hampir membentur dashboard.
Pemuda itu lalu mengetuk kaca mobil, membuat senyum Jemima tertahan melihat kelakuan Fredy. Dia membuka kunci dan membiarkan sang gitaris masuk.
"Gue terima balas budi lu. Inget, bukan gue yang minta tebengan ya," ucap Fredy ketus.
Jemima terus menahan tawanya dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil merem.
"Iya... iya... bawel bener. Pake tuh sabuk pengaman. Bisa kan makenya? Apa perlu gue bantu?" tanya Jemima.
"Udah nih. Jalan gih. Keburu bengkelnya tutup," sahut Fredy.
"Iye... iye... bawel lu," gerutu Jemima.
Gadis itu pun mencoba fokus pada kemudinya, meski dia masih menahan geli mengingat sikap jual mahal Fredy tadi.
Dia bahkan sampai tak sadar, bahwa Fredy yang sejak tadi memalingkan wajah ke samping pun sama dengannya yang terus mengulum senyum.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥
__ADS_1