
Seminggu berlalu sejak perbincangan Fredy dengan Jordi. Malam ini, Jordi pulang sekitar pukul sepuluh dengan diantar oleh taksi online.
Sang sekuriti terlihat memapah anak majikannya itu ke dalam rumah, karena Jordi pulang dalam kondisi mabuk berat.
Mamah yang saat itu masih bersama Papah sedang menonton pertandingan bola rutin di akhir pekan, melihat kepulangan anak kedua mereka yang terlihat tak baik saja.
"Ya ampun, Jordi. Kamu mabok?" tanya Mamah yang bangun dan menghampiri putranya.
Papah yang melihatnya pun ikut menghampiri Jordi yang di duduk kan di sofa ruang tengah.
"Tadi, Mas Jordi dianter sama Grab, Nyah," tutur sang sekuriti.
Sementara yang diomongin, hanya terduduk dengan sesekali cegukan, dan menggumam tak jelas.
"Nih anak lagi kenapa sih? Udah dibilangin, minum boleh asal jangan sampe mabok, lah ini malah pulang kayak gini. Jordi... Di... eh, habis dari mana kamu hah? Jordi," panggil Mamah.
Dia berusaha menginterogasi anaknya yang sedang tidak dalam kondisi normal.
"Udah, Mah. Percuma ditanya-tanya. Orang anaknya juga nggak sadar gitu. Pak, tolong bantu angkat dia ke kamarnya," ucap Papah kepada Mamah dan juga sekuriti.
"Baik, Pak," sahut sekuriti.
__ADS_1
Pria berseragam itu pun lalu membangunkan Jordi yang terduduk, namun tiba-tiba pemuda tersebut menyingkirkan tangannya.
"Apaan sih pegang!" tolak Jordi.
Dia lalu membuka mata, yang sejak tadi terus terpejam. Pemuda tersebut terlihat memicingkan matanya, mencoba melihat siapa saja yang ada di depan.
"Ah... gue udah pulang ternyata... eh... ada Mamah... Papah juga ada... hek.. hek...," racau Jordi.
Pemuda itu berusaha bangun, akan tetapi tubuhnya yang sempoyongan membuatnya jatuh lagi.
"Jordi, kamu mending ke kamar aja deh. Tidur, dari pada teler di sini," seru Mamah kesal.
Dari arah tangga, nampak Tomi yang mendengar keributan di lantai bawah, turun dan melihat semua orang sedang berdiri mengelilingi Jordi.
"Eh... Abang gue atu-atunya. Kek kurang satu ye... siapa ya...," ucap Jordi.
Dia terlihat seolah sedang mengingat-ingat, dengan telunjuknya tenga menempel di pelilis.
"Oh iya... astaga... adek gue yang abnormal... Imah... Imah... lu dimana woy... Imah...," teriak Jordi.
"Tom, mending kamu bawa adekmu ke atas deh," seru Papah.
__ADS_1
"Nggak... aku nggak mau ke atas. Mumpung semuanya kumpul, ada yang mau aku omongin ke kalian semua... Imah... turun lu... Imah, Woy...," teriak Jordi lagi.
"Apaan sih, Bang. Berisik tau tereak-tereak kek di hutan aja. Lagi cosplay jadi tarzan lu ye?" gerutu Jemima yang terganggu dengan teriakan kakaknya.
"Ah... tuh anaknya nongol. Sini deh pada ngumpul sini... gue mau ngomong penting," seru Jordi.
Jemima pun perlahan turun dan bergabung dengan yang lainnya.
"Paan sih, Mah?" tanya Jemima yang berdiri di sebelah Mamahnya.
"Tau tuh anak," sahut Mamah.
"Gue mau cerita soal si Imah yang pergi ke klub malem sampe pulang nggak sadarin diri," ucap Jordi.
Seketika, semua mata tertuju pada sosok satu-satunya gadis yang ada di sana. Bahkan Jemima sendiri sampai terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak.
"Apa maksud kamu, Di?" tanya Mamah yang tak mengerti perkataan putranya itu.
"Bang, kok Abang gitu...," ucap Jemima yang merasa keberatan.
"Semua orang harus tau kejadian malem itu... termasuk elu, Imah," sela Jordi sebelum adiknya selesai berucap.
__ADS_1
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥