
Pagi hari menjelang. Seorang gadis terlihat masih tertidur di dalam kamarnya yang nyaman. Banyak poster dan ornamen khas K-pop terpajang di sana.
tirai berkelebat tertiup angin, dan membuat sinar mentari menerobos masuk menimpa wajah damai gadis yang tertidur itu.
"Ehm...,"
Dia terlihat menggeliat, meregangkan kedua tangannya ke atas, sambil melengkungkan badannya.
"Ah... pegel bener badan gue," gumamnya.
Dengan malas, dia bangun dan duduk meski matanya masih tertutup dan enggan membuka. Gadis berambut panjang itu menggaruk kepalanya karena merasa gatal, tapi tiba-tiba dia ingat sesuatu sampai matanya membelalak.
"Dimana gue?" tanyanya terkejut.
Dia melihat sekelilingnya, dan mendapati dia berada di dalam kamarnya sendiri.
"Kenapa gue ada di rumah? Siapa yang bawa gue pulang?" tanyanya.
Dia pun lalu meraih ponselnya dan menghubungi Daisy. Tapi ternyata benda itu mati.
"Ehm... lowbatt segala lagi," gerutunya.
Dia lalu meraih charger dari dalam nakas dan memasangnya untuk mengisi saya ponselnya. Tapi rupanya, ponselnya memilik cukup banyak baterai.
"Kok aneh sih? Masa baru beberapa bulan baterainya udah soak?" gumamnya.
Dia pun menghidupkan benda pipih tersebut, dan langsung melakukan panggilan.
Pada deringan pertama, sambungan dijawab.
__ADS_1
"Imah, lu kemana aja sih? Gue nungguin lu semaleman tau nggak. Pake HP lu nggak bisa dihubungi lagi," cerocos Daisy sesaat setelah telepon tersambung.
"Anjir lu. Gue belum ngomong, lu udah nyerocos aja kek kereta api," keluh Jemima.
"Lagian elu bikin gue kuatir tau nggak. Hikhik... gimana kalo Bang Jordi sampe nyalahin gue semisal lu kenapa-napa... hikhikhik...," gerutu Daisy.
"Wah... kebangetan lu, Is. Kirain beneran peduli ma gue, taunya ada embel-embel abang gue juga," keluh Jemima.
"Lu emangnya kemana aja sih, Mah?" tanya Daisy lagi.
"Gue ke klub. Tapi nggak tau kenapa tiba-tiba aja gue udah di kamar gue," jawab Jemima.
"Hah... kok bisa? Emang lu nggak sadar gitu? Apa lu mabok?" cecar Daisy.
"Entar aja gue ceritanya. Intinya gue udah nggak papa. Lu bisa tenang sekarang," sahut Jemima.
"Beneran. Gue mau mandi dulu. Udah siang, entar bokap gue marah kalo gue nggak ikut sarapan," sahut Jemima.
"Ya udah deh, bye," ucap Daisy.
"Bye," timpal Jemima.
Telepon pun terputus.
Jemima bangun dan masuk ke kamar mandi. Dia bukan tipikal gadis yang menghabiskan waktu lama untuk mandi dan berdandan. Cukup setengah jam dia sudah siap dan turun ke meja makan.
"Pagi, Mah," sapa Jemima saat melihat mamah sedang sibuk di dapur.
"Pagi. Kirain bakal bangun telat," sahut Mamah.
__ADS_1
"Mah, semalem Mamah lihat aku pulang nggak?" tanya Jemima.
"Lihat. Kamu pulang digendong Abangmu. Dia bilang kamu ketiduran di kafe tempat dia manggung. Capek banget ya? Katanya mau nginep di rumah Daisy?" jawab Mamah yang berujung interogasi.
"Abang? Abang yang mana, Mah?" tanya Jemima.
"Gue," sahut Jordi yang tiba-tiba muncul sambil menjitak kepala adik bungsunya.
"Aww... sakit, beg*," keluh Jemima.
"Imah, ngomongnya...," tegur Mamah.
"Bang Odi rese, Mah," tutur Jemima.
"Kalian tuh kalo ketemu selalu ribut. Udah ah, Mamah mau lanjut masak," keluh Mamah.
Dia pun kembali ke dapur meninggalkan kedua anaknya. Jemima lalu menghampiri sang kakak, bermaksud menanyakan perihal tadi malam.
Dia duduk di kursi yang biasa ditempati Tomi, namun Jordi langsung mendorong wajah Jemima hingga gadis itu mengaduh lagi.
"Bang," keluh Jemima.
"Jangan deket-deket gue," seru Jordi.
"Dih... lu mah gitu. Gue cuma mau nanya, emang semalem beneran elu yang bawa gue pulang?" tanya Jemima.
"Kenapa emang, hah? Gue aduin ke bokap soal semalem, abis lu jadi anak rumahan," ancam Jordi.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥
__ADS_1