
"Lu kenapa nggak masuk?" tanya Jemima.
Gadis itu duduk di atas kasur lipat yang sepertinya baru saja ditempati oleh Fredy.
"Gue pulang pagi, ngantuk banget. Jadi mending gue tidur dari pada ngantuk di kelas. Habis gue kena omel Pak Koco," jawab Fredy.
Pemuda itu terlihat ke dapur mengambil air minum untuk tamunya.
"Emang pulang jam berapa? Abang gue nggak bareng ma elu?" tanya Jemima lagi.
Fredy datang membawa segelas air minum dan meletakkannya di atas lantai.
"Bareng. Cuman pas di jalan motor gue mogok lagi," tutur Fredy.
"Ehm... Pantesan gue nggak lihat motor lu di luar tadi. Lagian motor kek gitu masih dipake aja. Beli lagi kali," seru Jemima.
"Eh, lu kira beli motor nggak pake duit? Enak banget bilang beli lagi. Di kira cari duit gampang apa," gerutu Fredy.
"Ya mana gue tahu. Kerjaan gue kan emang ngabisin duit orang tua," sahut Jemima enteng.
"Makanya kalo belum pernah ngerasain sendiri, nggak usah nasehatin gue," ucap Fredy kesal.
"Iya deh, iya. Biasa aja kali, nggak usah ngegas," sahut Jemima.
"Lagian lu jadi tamu ngeselin bener. Sebenernya ngapain sih lu kesini segala?" tanya Fredy kemudian.
"Ah iya, gue sampe lupa. Ada tugas kelompok dari Pak Koco. Satu kelompoknya dua orang. Lu bareng gue yah," ajak Jemima langsung.
__ADS_1
Sontak Fredy memicingkan mata dengan alis yang bertaut sempurna. Dia lalu mengulurkan tangannya menyentuh kening Jemima.
"Sehat lu?" tanya Fredy.
Seketika gadis itu menyingkirkan tangan Fredy dengan kesal.
"Sehat lah. Eh, denger ya. Gue itu cuma berbaik hati kek elu, ngasih tau elu soal tugas ini biar elu buruan lulus dan nggak bikin mata gue sakit mulu," timpal Jemima ketus.
"Elah... Sok-sokan bilang baik hati. Bilang aja lu nggak ada teman kan? Kelas lu kan ganjil jumlahnya," sindir Fredy.
"Nah tuh tau. Jadi gimana?" tanya Jemima.
"Ya mau gimana lagi? Terpaksa juga gue terima tawaran elu," sahut Fredy.
"Oke, sip," timpal Jemima.
"Eh, tapi gue heran deh," ucap Fredy.
"Kenapa lu nggak bilang lewat telpon aja? Kenapa pake acara ke sini segala? Jangan-jangan modus lu ya," terka Fredy.
"Dih...Sorry, dorry, morry. Lagian elu, apanya yang mau di modusin sih? Eh, dengernya kupret. Kenapa gue nggak telpon elu, pertama gue nggak punya nomer lu, kedua mau minta Bang Odi juga percuma nggak bakal dikasih. Berhubung gue tau kosan lu, jadi mending gue ke sini aja ngomong langsung. Paham, ente?" jelas Jemima panjang lebar.
"Oh...," sahut Fredy.
"Udah, Oh... Doang?" tanya Jemima kesal dengn respon Fredy.
"Terus, lu maunya apa? Oh, gini kali ya... Jemima, thanks banget lho udah mau ke sini,ke tempat akyu. Ya amlun kamu baik banget deh... Najis gila gue ngomong gitu," sahut Fredy.
__ADS_1
Seketika semua hening, namun tiba-tiba tawa Jemima pecah melihat tingkah Fredy yang barusan. Dia bahkan tertawa terpingkal-pibgkal hingga perutnya sakit.
"Cocok bener lu jadi penghuni taman lawang. Hahaha...," ejek Jemima.
"Si*lan lu," umpat Fredy.
Namun, pemuda itu pun tersenyum tipis melihat tingkah gadis di depannya.
Tak lama setelah itu, Jemima pun pamit pulang. Dia melihat jam di dinding kosan sudah menunjukkan hampir jam enam petang. Gadis itu harus segera pulang karena jarak antara kosan Fredy dan rumahnya cukup jauh.
Jemima tak mau terlambat pulang dan diinterogasi oleh orang tua dan kedua abangnya.
"Besok gue tunggu di kampus. Kita bahas masalah tugas secepetnya biar lu juga bisa garap revisian skripsi lu," seru Jemima.
"Iye, bawel," sahut Fredy.
Jemima pun bangun dan hendak berjalan ke arah pintu, namun dia lupa di depannya ada gelas minumnya yang tadi berada di atas lantai.
Tak sengaja, gadis itu hampir menendangnya, akan tetapi dia bisa mencegah kakinya mengenai gelas tersebut.
Namun karena hal itu, pijakannya tak kuat hingga dia limbung hampir terjungkal ke belakang.
Beruntung Fredy dengan sigap menangkap pundak gadis itu dari belakang, hingga membuatnya tak terjatuh.
Karena terkejut, tanpa sengaja tangan Jemima meraih lengan Fredy hingga jarak keduanya begitu dekat.
Tatapan mata mereka bertemu, dan seolah saling mengunci satu sama lain. Waktu seolah berhenti. Hembusan nafas hangat menerpa kulit wajah masing-masing, membuat degupan yang cukup keras di dada.
__ADS_1
Keduanya seolah saling menghipnotis hingga membeku.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥