Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Warung bakso


__ADS_3

Sepanjang jalan, Jemima terlihat diam dengan wajah cemberut. Fredy yang tak tahu menahu pun hanya bisa melirik beberapa kali ke arah spion, dengan kening yang terus berkerut.


"Makan bakso dulu yuk. Gue belum sarapan nih," ajak Fredy.


Dia menepikan motornya di depan sebuah penjual bakso yang mangkal di sana. Jemima phn turun dan ikut duduk di bangku yang berhadapan dengan Fredy.


"Lu mau bakso nggak?" tanya Fredy.


"Ya iyalah, sekalian. Emang lu pikir gue mau gitu duduk disini cuma liatin lu makan doang," sahut Jemima ketus.


Fredy lagi-lagi hanya bisa geleng kepala sambil menghela nafas panjang melihat sikap Jemima yang tiba-tiba ketus, entah kenapa.


"Bang, bakso dua. Campur ya. Sama es teh...," seru Fredy.


"Gue es jeruk," sela Jemima cepat.


Fredy sampai mengerem ucapannya karena kaget.


"Es jeruk saru, es teh satu," lanjut Fredy kemudian.


Pemuda tersebut lalu kembali menghadap ke depan di mana gadis itu berada.


"Lu kenapa sih? Manyun mulu dari tadi. PMS lu?" tanya Fredy akhirnya yang penasaran dengan sikap gadis di depannya.

__ADS_1


Jemima tak langsung menjawab, namun dia lebih dulu menegakkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah pemuda di hadapannya.


"Ngapain sih lu pake acara ke rumah gue segala?" tanya Jemima.


"Emang kenapa? Bukannya kita udah janjian mau pergi perkampungan bareng. Lu lupa ya?" jawab Fredy.


"Iya gue tau. Tapi ngapain lu pake acara jemput gue di rumah? Nyebelin tau nggak," sahut Jemima.


"Ya, gue kira lu bakal butuh tumpangan. Kan mobil lu ditinggal di kampus kemarin. Emang lu mau ke lokasi naik bus?" tanya Fredy.


Jemima diam karena kesal, akan tetapi tak bisa lagi membantah perkataan Fredy. Karena bagaimanapun, semua yang diucapkan pemuda tersebut masuk akal.


Tak lama, pesanan mereka datang. Jemima dan Fredy tak lagi membahas hal itu dan hanya menikmati apa yang sudah tersaji di depan mereka.


Fredy selesai makam terlebih dulu, dan dia memilih diam sambil memainkan ponselnya sembari menunggu Jemima selesai makan.


"Kita berangkat sekarang," serunya.


Jemima pun bangun dan mengambil dompet dari tasnya.


"Nggak usah. Udah gue bayar," ucap Fredy.


Jemima menoleh dan melihat pemuda tersebut berjalan keluar warung bakso itu. Dia pun memasukkan kembali dompet beserta isinya ke dalam tas dan segera menyusul Fredy yang sudah lebih dulu naik ke atas motornya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, keduanya kembali diam. Jemima yang masih merasa kesal dengan kedatangan Fredy yang tiba-tiba, sementara Fredy yang merasa niat baiknya justru disalahkan oleh Jemima.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di perkampungan tujuan mereka. Hanya butuh sekitar lima belas menit dari warung bakso tadi ke lokasi.


Jemima terlihat turun lebih dulu, dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah topi baseball hitam keluar dari sana, dan di gigit oleh gadis tersebut.


Dia meraup rambut panjang ikalnya keatas, dan kemudian memakai topi, lalu memasukkan rambutnya ke dalam lubang hingga seperti dikuncir.


Fredy hanya memperhatikan dalan diam, sambil memarkirkan motornya di depan sebuah tempat parkir pasar yang ada di dekat perkampungan.


"Buruan! Gue udah siap nih," seru Jemima.


Fredy pun mendekat. Jemima lebih dulu berjalan di depan, dan masuk ke dalam gapura perkampungan.


Begitu masuk, tampak sebuah gazebo yang ditempati oleh sekelompok pria besar bertato, dengan rambut panjang keriting dan brewok yanh lebat.


Fredy seketika menarik lengan Jemima dan membuat gadis itu berbalik.


"Keknya mending kita ke selatan aja deh," ujar Fredy.


Namun, Jemima justru menyingkirkan tangan Fredy dari tangannya.


"Cemen lu," ucap Jemima.

__ADS_1


Gadis itu bukannya menurut, dia justru maju dan menghampiri para preman itu. Hal itu sontak membuat Fredy panik dan segera mengikutinya.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2