Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Tiba-tiba gugup


__ADS_3

Halte bus ketiga telah dilewati oleh Jemima. Gadis itu harus berhenti hingga empat kali baru bisa sampai di halte kampusnya.


"Rese bener deh punya abang kagak ada gitu yang kesian ama adek sendiri. Heran gue," keluh Jemima di tengah-tengah penantiannya.


Di jam sibuk seperti ini, terutama di kota besar, tidak sulit menemukan bus yang lewat, namun karena penuh sesak, sering orang-orang malas untuk naik kendaraan umum tersebut.


Cuaca panas serta kurangnya fasilitas pendingin di dalamnya, membuat banyak orang mengeluh akan fasilitas umum itu. Meski sekarang ada bus trans dari pemerintah, namun sayang jalur dari perumahan ke kampus tidak dilewati oleh jalurnya.


Mau tak mau Jemima pun menggunakan bus umum yang cukup membuat pakaiannya basah oleh keringat.


Beberapa saat kemudian, bus datang. Jemima pun bangun dan bersiap naik. Dia mendongak memastikan kondisi di dalam, serta menyiapkan dadanya agar bersabar dengan apa yang akan dia alami di sana.


Namun rupanya, tak nampak banyak penumpang yang membuat Jemima pun sedikit bernafas lega.


Gadis itu naik, dan melihat ke sekitar mencari tempat duduk yang kosong, hingga matanya menangkap keberadaa seseorang, yang seketika membuat senyumnya tiba-tiba mengembang dengan sendirinya.


Jemima pun melangkah dan duduk di samping seorang pemuda yang duduk seorang diri di barisan belakang.

__ADS_1


"Demen banget duduk di kursi ini. Enaknya apaan sih?" tanya Jemima tiba-tiba.


Pemuda berkacamata yang sejak tadi memejamkan mata sambil bersandar di kaca mobil pun menoleh, dan melihat keberadaan Jemima di sampingnya.


"Ngapain lu duduk deket gue?" tanya pemuda tersebut yang tak lain adalah Fredy.


"Eh, kupret. Lu nggak lihat apa? Noh... noh... udah penuh semua tuh. Tinggal di sini doang yang lega. Pede gila lu dikira gue sengaja. Dih...," gerutu Jemima.


Fredy kembali menyandarkan kepalanya dan terpejam. Seperti pemida itu masih mengantuk setelah semalam manggung bareng Jordi dan Husein.


"Lu sengaja nggak bawa motor gegara ngantuk ya?" tanya Jemima.


"Oh... kok bisa? Bukannya semalem nggak papa ya?" tanya Jemima lagi.


Fredy tak menyahut. Dia masih memejakkan matanya dan mengacuhkan Jemima yang terus bertanya.


"Dih... nih anak. Di tanya baik-baik juga, malah jutek," keluh Jemima.

__ADS_1


Gadis itu pun akhirnya ikut diam dengan wajah ditekuk kesal karena perlakuan Fredy padanya.


Sekitar lima belas menit kemudian, bus hampir sampai di halte kampus, dan Jemima pun bersama bangun untuk turun.


Fredy yang merasa tempat duduk di sampingnya kosong pun membuka mata dan melihat gadis itu sudah berdiri. Rupanya mereka sudah hampir sampai dan Fredy pun ikut berdiri dan menunggu hingga tiba di depan halte tepat di belakang Jemima.


saat bus berhenti, sang supir terlalu dalam menginjam rem hingga membuat mobil sedikit berguncang.


Jemima dan Fredy yang saat itu berdiri pun hilang keseimbangan, dan membuat gadis itu hampir terjatuh.


Beruntung, Fredy dengan sigap menangkap pundak Jemima dan membuat gadis itu tidak terjungkal. Gadis itu reflek menoleh membuat pandangan mereka bertemu.


Saat itulah, tiba-tiba jantung Jemima berdegup begitu kencang hingga membuatnya hilang kesadaran sekilas.


"Lu nggak papa?" tanya Fredy.


Jemima pun segera membetulkan berdirinya dan berdehem menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya.

__ADS_1


"Nggak papa. Thanks," sahut Jemima cepat.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2