Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Cemberut


__ADS_3

Hingga malam, kekesalan Jemima pada Fredy dibawanya ke rumah. Sejak turun dari mobil hingga hingga menjelang makan malam, wajahnya terus ditekuk dengan bibir yang maju ke depan.


Mamah yang melihat sang putri terus cemberut pun mencoba mendekatinya dan duduk di samping Jemima.


"Kamu kenapa, Mah? Dari pulang tadi kayaknya manyun mulu? PMS ya?" tanya Mamah.


"Aku lagi sebel sama orang, Mah. Penginnya tuh kek mau makan tuh orang tau nggak sih," jawab Jemima.


"Hus... Nggak boleh gitu ah. Masa anak cantik kek gini jadi gendurwi sih," sahut Mamah.


"Kok gendurwi? Bukannya gendurwo ya, Mah?" tanya Jemima bingung.


"Itu kalo cowo. Kalo cewe ya gendurwi," jawab Mamah.


"Oh... Eh, bentar deh... Mamah, ih... Kok malah aku dikatain gendurwo sih? Mamah ah...," keluh Jemima.


Mamah hanya terkekeh melihat tingkah sang putri yang semakin kesal dibuatnya. Dengan lembut, perempuan itu merangkul pundak putri semata wayangnya dan mengusap surai hitam berlayer pirang Jemima.


"Hehehe... Iya deh, Mamah minta mamaf. Cerita dong ada apa, kok sampe bisa mau makan orang segala. Serem amat," bujuk Mamah.


Dengan masih mengerucutkan bibirnya ke depan, Jemimapun bercerita mengenai insiden di perpusatakaan yang melibatkan dirinya dan juga mahasiswa bernama Fredy.


"Jadi gitu, Mah. Kan sebel jadinya. Mana tuh tugas dikumpulinnya minggu depan lagi," tutur Jemima.


"Oh... Naksir kamu kali dia," goda Mamah.

__ADS_1


"Ih... pede gila. Ogah banget deh," sahut Jemima.


Tiba-tiba seseorang menoyor kepalayanya dari belakang, hingga gadis tersebut terhuyung ke depan dan mengaduh.


"Pede gila lu. Bucin baru tau rasa," ucap Jordi yang muncul dari arah ruang tengah.


"Abang, ih... Rese banget sih dateng-dateng malah KDRT ama adeknya," gerutu Jemima.


"Hahaha...," tawa Jordi seolah tak merasa bersalah.


"Mah, abang nakal," adu Jemima sambil memeluk Mamahnya.


"Jordi, nggak boleh gitu sama adeknya. Nanti tambah eror lagi gimana," timpal Mamah yang membuat Jordi semakin tertawa, serta Jemima yang semakin kesal.


"Mamah...," rengek Jemima.


Tomi menyusul turun setelah Papah dan kelima orang itu pun berkumpul seperti biasa di meja makan.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Akhir pekan berakhir, dan kini pekanbaru dimulai. Seperti biasa, Jemima selalu pergi ke kampus dengan mobilnya kesayangannya dengan segala ornamen berwarna ungu di dalamnya.


Sempat dia meminta ijin agar bagian luar mobilnya pun dicat ungu metalik, akan tetapi dilarang oleh kedua kakaknya dengan alasan norak.


Alhasil, hanya bagian dalamnya saja yang full dengan ungu. Kata dia "borahae" setiap kali ada yang mencibir tentang interior mobil tersebut dengan raut wajah ceria, namun menghilang sesaat setelah mengucap kata tersebut.

__ADS_1


Jemima memang bukan gadia penurut. Dia cenderung pembangkang. Hanya keluarganya yang bisa mengerem keinginannya yan serba aneh-aneh.


Setelah keluar dari area parkir mahasiswa, Jemima segera menuju gedung fakultasnya. Disana sudah ada Jessica dan juga Daisy yang seperti biasa berangkat lebih awal dibandingkan si maniak warna ungu itu.


"Hai, gengs. Pada ngapain disini?" sapa Jemima.


"Pake nanya lagi. Ya nungguin elu lah," sahut Jessica.


"Eh, abang lu masuk kuliah nggak?" tanya Daisy.


"Mana gue tau. Lihat aja sono di fakultasnya," sahut Jemima judes.


"Idih... Nih anak jutek amat. Kesambet lu yah," sindir Daisy.


"Lagian elu, nanyain kabar gue kek, apa kek. Ini malah nanyain Bang Odi mulu. Males gila. Emang gue baby sitter-nya," jawab Jemima.


"Ya pan elu adeknya," sahut Daisy.


"Eh... Selama hampir setahun gue kuliah dimari, mana pernah dia mau berangkat bareng ama gue. Kemaren pas mobil gue ketinggalan di mall aja dia ogah berangkat bareng," ungkap Jemima kesal.


Namun, ditengah rasa kesalnya, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat perhatiannya teralihkan.


Eh... Mata gue nggak salah lihat kan? Batinnya.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


Lihat apa ya si Imah, ges???


Tunggu next eps ya😁 jangan lupa like and comment


__ADS_2