Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Tour keliling kota


__ADS_3

Malam itu, Jemima benar-benar ikut tour keliling kota bersama sang kakak, dari panggung ke panggung.


Dia terus memperhatikan band indie kakaknya, dan merasakan jika aura anak band benar-benar terlihat di diri ketiganya.


Pantesan aja Abang gue banyak fansnya, termasuk si Iis, batin Jemima.


Dia baru sadar jika mereka memang keren dan memiliki aura berbeda ketika di atas panggung.


Yang paling membuatnya tak percaya adalah penampilan Fredy yang sangat berbanding terbalik dari yang dia lihat selama satu tahun belajar di kampusnya.


Namun, egonya bersikeras menyangkal pesona Fredy kala berada di atas panggung sambil memainkan gitarnya.


Setelah membawakan tiga lagu, ketiga pemuda itu turun dan bergabung bersama Jemima.


Pelayan langsung menghampiri ketiganya sambil membawa minum dan snack.


"Makasih ya, Mbak," ucap Husein.


Pemuda itu langsung mengambil segelas jus jeruk dan menyedotnya hingga tersisa setengah gelas.


"Haus, Bang," tanya Jemima.


"Iyalah aus. Nggak liat tadi gue habis gebukin tuh gendang," jawab Husein sambil meraih beberapa buah kentang goreng.


"Drum, Bang. Drum," sahut Jemima.


"Iya, itu. Udah ganti nama emang?" tanya Husein bergurau.

__ADS_1


"Becandanya basi, tau nggak," keluh Jemima.


"Kagak tuh. Hahahaha...," sahut Husein tertawa.


Dia bahkan high five dengan Fredy karena melihat adik temannya itu kesal.


"Bang, circle lu bener-beber nyebelin ya," keluh Jemima pada Jordi.


"Lu aja yang baperan. Mending pulang deh lu, dari pada ngeribetin gue. Kek bawa anak kecil aja tau nggak," sahut Jordi.


"Kagak tuh," sanggah Jemima sambil memakan stik kentang goreng.


Husein kembali tergelak melihat kelakuan dia saudara itu. Sementara Fredy hanya tersenyum tipis menyaksikan interaksi tersebut.


"Ini tempat terakhir kan?" tanya Fredy.


"Fred, gue nggak jadi nginep di tempat lu. Mending gue balik aja bawa nih anak kucing," timpal Jordi.


"It's oke," sahut Fredy.


Pemuda itu terlihat menyandarkan punggung di kursi sambil memejamkan matanya. Ekor mata Jemima sejak tadi terus melirik ke arahnya, seolah masih tak percaya bahwa ini adalah Fredy yang dia kenal.


Sejak Jemima memutuskan ikut keliling bersama sang kakak, belum sepatah katapun yang terucap di antara keduanya, seolah mereka tak saling kenal.


Hingga akhirnya Husein menyinggung hal tersebut.


"Kalo nggak salah, Fredy ngulang mata kuliah di kelas elu kan? Berarti kalian udah saling kenal dong?" tanya Husein.

__ADS_1


Hal itu membuat Jemima mengangkat alis, dan melirik kembali ke arah Fredy. Sementara pemuda itu masih tetap terpejam dan tak bereaksi sedikit pun.


"Ya, cuma dua kelas aja. Lagian kita juga nggak deket amat, jadi ya nggak begitu tau," sahut Jemima sekenanya.


"Eh... eh, tapi yang waktu itu di klub... Awwww...," ucap Husein terhenti karena sesuatu menyakitinya.


Dia terlihat memegangi kedua kakinya, dan membuat Jemima melirik ke arah bawah meja, tapi tak melihat apapun.


Sepertinya Jordi dan Fredy bersama-sama menendang kaki Husein sebelum dia mengatakan apa yang terjadi di Dari Rose Club malam itu.


"Tadi lu mau bilang apa, Bang? Klub? Klub apa?" tanya Jemima penasaran.


"Ehm... mak... maksud gue... teater... iya bener. Gue kek pernah lihat elu di klub teater. Bener nggak sih?" jawab Husein canggung.


"Oh... itu pas awal-awal masuk kuliah. Keknya seru aja main roleplay gitu. Tapi nggak lama sih, cuma berapa bulan doang habis itu aku out," jawab Jemima.


"Ehm... padahal bagus tuh kalo elu masuk situ," timpal Jordi.


"Emang kenapa, Bang?" tanya Jemima.


"Dari pada elu nyamar jadi gembel, ditangkep satpol PP beneran kan lu," jawab Jordi.


Sontak semuanya tergelak, tak terkecuali Fredy yang terlihat tersenyum lebih lebar dan akhirnya membuka mata meski menundukkan pandangan.


"Si*lan lu," keluh Jemima.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


__ADS_2