Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Backing-an preman


__ADS_3

Makan malam di rumah keluarga Pak Budiman selalu berjalan dengan tenang. Masakan makan malam kali ini terlihat spesial karena rumah kedatangan tamu.


Mamah bahkan lebih sibuk menjamu sang tamu dibandingkan dengan suami dan anak-anaknya sendiri.


Setelah makan malam selesai, Jemima membantu sang Mamah, sementara kedua kakaknya dan juga Fredy duduk di gazebo belakang.


Ayah memilih ke kamar untuk istirahat karena lelah bekerja seharian.


"Mah, Bang Odi emang nggak manggung malam ini? Bukannya tiap malming selalu pulang pagi ya?" tanya Jemima yang sedang mencuci piring.


"Katanya sih lagi ngurangin jadwal manggung. Kan abangmu lagi sibuk ngurus skripsi. Udah mau kelar katanya," jawab Mamah.


"Oh...," sahut Jemima singkat.


Sekitar setengah jam, akhirnya Jemima selesai membantu mamah dan berencana pergi ke kamar. Namun, Mamah memanggilnya lagi hingga gadis itu kembali lagi ke dapur.


"Mah, bawaan kue sama buah ini ke belakang gih," seru Mamah.


"Kok aku? Nggak suruh Bibi aja, Mah?" keluh Jemima.


"Eh... Anak cewe disuruh gini aja kok ngeluh. Buruan, kasian abang-abangmu nggak ada camilan," seru Mamah.


Jemima pun mencebik kesal dengan kaki yang dihentak-hentakkan dengan kasar, tanda protes dari seorang Jemima.


"Nah, gitu dong," ucap Mamah.

__ADS_1


Meski dengan wajah kesal, gadis itu tetap melaksanakan perintah mamahnya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Di gazebo balakang, Tomy, Jordi dan Fredy terlihat sedang mengobrol santai sambil sesekali memetik senar gitar Jordi yang ada di sana.


"Jadi lu seharian di perkampungan dekat pasar itu?" tanya Jordi.


"Kalo sama si Imah sih aman banget," sahut Tomy.


"Aku sampe kaget lho, Bang, pas dia ternyata kenal sama preman sana. Kok bisa gitu cewek baik-baik kek Jemima bisa deket sama mereka," timpal Fredy.


"Lu belum kenal adek gue aja, Fred. Kalo lu tau aslinya dia kek gimana... Beeeehhhh... Pusing sendiri pasti," tutur Jordi.


"Emang kenapa sih? Penasaran. Mana gue akhir-akhir ini sering banget satu kelompok ama tuh anak lagi," tanya Fredy.


"Badut juga oke... Gembel... Tuh yang terakhir tuh...," timpal Tomy.


"Bener. Sampe masuk kantor dinsos lagi," sahut Jordi.


"Hah, gembel? Dinsos?" tanya Fredy kaget.


"Lagi pada ghibahin gue ya lu pada? Wah... Kebangetan. Nih bantuin gue bawain makanan," gerutu Jemima yang tak sengaja mendengar percakapan kedua kakak dan juga teman kampusnya.


Tomy yang berada paling dekat dengan sang adik pun bangun dan membantu Jemima membawa piring berisikan camilan dan juga buah.

__ADS_1


"Lu beneran pernah ketangkep trantib? Gimana ceritanya?" tanya Fredy pada gadis itu.


"Cosplay jadi gembel. Lu inget dong tugas Bu Dian sebelum dia cuti lahiran?" jawab Jemima.


"Wah... parah. Pantesan pas itu...," ucap Fredy terhenti.


Dia lupa bahwa hal yang akan dikatakannya tidak boleh sampai Jemima tau. Dia dan Jordi sudah sepakat bahwa kejadian di Dark Rose club akan dirahasiakan dari Jemima, karena tak ingin gadis itu trauma.


Namun, Jemima yang pintar bisa menangkap bahwa pemuda di depannya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apaan? Kok nge-rem?" tanya Jemima penasaran.


"Oh.... ya... ya pantes lu kek akrab gitu ma prema-preman tadi. Sering cosplay kan lu?" elak Fredy.


"Makanya, jangan macem-macem sama gue lu. Tau kan sekarang, backing-an gue preman pasar," sahut Jemima bangga.


Seketika, sebuah sendok mendarat di kepala gadis itu, dan membuatnya memekik kesakitan.


"Awww... sakit, Bang. Tega bener sama adek sendiri?" gerutu Jemima sambil mengusap kepalanya.


"Lagian, temenan sama preman kok bangga. Heran gue, kok bisa punya adek kek elu," sahut Tomy.


Jemima hanya bisa mencebik kesal, sementara Jordi justru tertawa terpingkal melihat sang adik kesakitan dipukul kakak sulung mereka.


Hah... hampir aja keceplosan, batin Fredy.

__ADS_1


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2