
Keesokan harinya, Jemima kembali berangkat ke kampus menggunakan bus. Ini adalah hari ke enamnya mendapat hukuman dari Papah. Tinggal sehari lagi dan dia bisa kembali menggunakan mobilnya.
Seperti biasa, Jemima akan memilih tempat duduk di dekat jendela. Saat itu, Bus sedang penuh. Semua kursi sudah ditempati. Bahkan beberapa orang terpaksa berdiri karena kehabisan tempat duduk.
Hari ini Jemima memang memiliki kelas pagi, sehingga dia pun mau tak mau harus berdesakan dengan penumpang lain, karena ini adalah waktu dimana orang-orang berangkat untuk beraktivitas.
Tak berselang lama, bus berhenti di sebuah halte. Jemima turun karena ini adalah pemberhentiannya. Tinggal satu bus lagi dan dia akan tiba di halte kampus.
"Semoga bisnya nggak kek tadi," gumamnya setelah berhasil turun dengan susah payah, akibat berdesakan dengan para penumpang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, bus datang dan berhenti tepat di depan Jemima.
Gadis tersebut melihat dari luar bus, dan mendapati bahwa semua penumpang tampak duduk. Tak ada satupun yang berdiri. Dia tersenyum lega karena bus yang datang tak seperti yang ditakutkan.
Jemima pun segera naik. Setelah dia masuk, gadis tersebut mulai mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang kosong.
"Ah... itu dia," ucapnya tersenyum lega.
Jemima melihat sebuah kursi kosong di samping seseorang. Memang bukan di samping jendela, tapi paling tidak dia bisa duduk.
Namun, baru saja dia melangkah mendekat, senyumnya hilang kala menyadari siapa orang yang duduk lebih dulu di sana.
Kenapa tuh anak bisa di sini sih? batik Jemima kesal, saat melihat Fredy juga berada di dalam bus tersebut.
__ADS_1
"Neng, jangan ngalangin jalan. Itu masih ada kursi kosong," seru kenek bus yang melihat Jemima terus berdiri di tempat, menghalangi berkeliling meminta bayaran.
"Gue berdiri aja lah, Bang," sahut Jemima.
Dia melirik sekilas ke arah Fredy. Namun rupanya, pemuda itu pun sedang menatapnya balik, membuat Jemima langsung menghindari tatapan mata orang tersebut.
Tiba-tiba, dia merasakan seseorang berjalan melewatinya, dan berdiri di dekat pintu bus.
Ngapain tuh anak berdiri di situ? Bukannya kampus masih jauh? Beg* bener, batin Jemima.
Dia pun lalu berjalan ke arah bekas kursi yang tadi diduduki Fredy, dan duduk di sana sambil melihat keluar jendela.
Fredy tampak menoleh sekilas ke arah Jemima berada, lalu kemudian kembali melempar pandangan ke arah jalanan.
Pemuda itu berjalan lebih dulu di depan dengan langkah lebar, sementara Jemima sengaja berjalan pelan agar berada di belakang Fredy.
Masih ada cukup waktu sampai kelas dimulai, sehingga gadis itu terlihat tak terlalu gugup seperti sebelumnya.
Begitu sampai di kampus, keduanya pun sama-sama berjalan menuju ke gedung fakultas ilmu sosial. Di sana sudah ada Jessica dan juga Daisy yang seperti biasa menunggu kedatangan temannya.
Jemima pun menghampiri kedua temannya, sementara Fredy terus berjalan ke arah tangga eskalator.
"Cieeee... ehem... akur bener," ledek Jessica.
__ADS_1
"Cieee... yang berangkat barengan," timpal Daisy.
"Apaan si lu pada. Nggak jelas banget," sanggah Jemima kesal.
"Ehm... bilangnya ogah, nggak mau, pede gila, eh... malah satu bis bareng. Ulululu...," ledek Jessica lagi.
"Maksud lu gue sama si kupret? Muke gile lu mikir gue sengaja bareng ama dia. Kalo tau dalem bis ada dia, mana mau gue naik ke bis itu. Anjir lu. Lagian dari mana lu pada tau kalo gue bareng satu bis ama dia sih? Gosip bener," elak Jemima.
"Kamu nanya? Kamu bertanya?" ledek Jessica.
"Sialan lu. Beneran gue nggak sengaja bareng. Males banget," sahut Jemima semakin kesal.
"Iya in aja deh. Dari pada keluar Godam-nya," goda Daisy.
"Anjir lu. Sialan pada lu. Udah ah, gue mau masuk kelas. Mau nungguin ayang Dimas," ucap Jemima kesal.
"Eh, Imah. Tungguin pe a," seru Daisy.
"Awas lu malu-maluin lagi kek minggu kemarin," seru Jessica.
"Nggak lah. Gue bakal jaim kali ini, biar dia kesengsem sama gue," sahut Jemima.
Ketiganya pun berjalan ke arah tangga eskalator, dan menuju ke kelas mereka.
__ADS_1
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥