Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Si cupu dan si freak


__ADS_3

SREEEEK!


Terlihat pintu kelas terbuka dan muncullah seorang mahasiswi yang tampak terengah-engah sambil memegangi tas selempangnya.


"Pagi, Pak," ucapnya.


"Pagi," sahut dosen yang saat itu sedang mengajar.


Sang dosen terlihat melihat jam di tangannya, dan kemudian kembali pada mahasiswanya yang tak lain adalah Jemima.


"Anda tau ini jam berapa? Ini sudah jam sepuluh lebih sepuluh menit. Anda tau kan kalau saya tidak bisa mentolerir ketidak disiplinan?" ucap sang dosen yang bernama Sukoco itu.


"Maaf, Pak. Saya tadi udah berusaha supaya nggak telat, tapi...," jawab Jemima.


"Tidak perlu jelaskan apapun. Yang namanya telat ya tetap telat. Silakan Anda tinggalkan kelas saya sekarang juga," sela Pak Koco.


"Tapi Pak, tolong kasih saya kesempatan lagi. Lagipula ini juga pertama kali...," bujuk Jemima.


"No excuse. Hal ini sudah dibicarakan di awal semester, dan tak ada peringatan lagi. Silakan keluar. Jangan ganggu kelas saya," seru Pak Koco.

__ADS_1


Jemima tak bisa lagi mendebat sang dosen. Dia sadar bahwa dia telah salah. Gadis itu hanya bisa menerima hukum untuk melewatkan kelas kali ini, dari pada semakin membuat dosen idealis itu semakin berang.


Jessica dan Daisy kasihan melihat temannya itu diusir dari kelas. Keduanya pun heran kenapa Jemima bisa sampai terlambat seperti ini.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Di perpustakaan, Jemima terlihat duduk dengan kepala yang terkulai di meja rendah di area lesehan.


Dia nampak lesu karena baru saja diusir dari kelas Pak Sukoco. Gadis itu bahkan tak memperhatikan sekitar dan hanya sibuk mengeluhkan keterlambatannya.


"Apes banget gue hari ini. Tuhan... udah kalah taruhan ama bokap, kesiangan, diusir dosen. Stop, please. Udah sampe sini aja, Tuhan. Jangan ditambah lagi," pinta Jemima.


Seseorang yang sejak tadi berada di sana, terlihat melirik ke arah gadis itu berada, dan kembali sibuk dengan urusannya.


"Eh, cewe freak. Udah untuk gue mau berenti tadi. Lu nya aja yang kegedean gengsi pake acara nolak segala. Udah tau Pak Koco sak lek parah. Diusir kan lu. Sukurin," sahut Fredy yang ternyata berada di sana sejak awal.


Jemima pun sontak terkejut dengan keberadaan mahasiswa telat lulus itu di sana. Terlebih karena Fredy mendengar semua perkataannya tadi.


"Eh, kupret. Ngapain lu di situ? Ngikutin gue lu ye?" terka Jemima asal.

__ADS_1


"Dih, kek nggak ada kerjaan lain aja," sahut Fredy ketus.


"Baru juga ngadem, malah ketemu cowo cupu nyebelin. Mending gue pergi dari sini, dari pada diusir dua kali," ucap Jemima.


Gadis tersebut pun pergi dari perpustakaan meninggalkan Fredy sendirian.


Tak berselang lama, muncul dua orang pemuda dari area arsip, sambil membawa beberapa jurnal penelitian dari mahasiswa terdahulu, dan duduk di meja yang sama dengan Fredy.


"Hah... gue cuma nemu tiga. Lu berapa, Jor?" tanya seorang pemuda dengan rambut kriting berwarna pirang.


"Gue dapet dua malah. Nggak tau di rak satunya ada apa nggak," sahut pemuda satunya.


"Gue tadi kek denger lu ngomong ma orang deh, Fred. Siapa?" tanya si pirang.


"Adeknya Jordi," sahut Fredy singkat.


"Hah... si Imah kesini? Mana tuh anak? Bukannya dia bilang ada kelas. Bolos ya dia?" timpal Jordi ternyata salah satu dari tiga pemuda itu.


"Dah pergi. Dia diusir dari kelas gara-gara telat," sahut Fredy.

__ADS_1


"Lah... ada-ada aja kelakuan tuh anak. Ampun dah," ucap Jordi menepuk keningnya.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2