Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Women in black


__ADS_3

Sebuah mobil Ronda Jezz biru metalik terlihat memasuki area parkir Dark Rose Club sekitar pukul delapan malam.


Seorang gadis keluar dari mobil tersebut. Dia mengenakan celana skinny jeans, dipadukan dengan crop top yang dilapisi sebuah jaket kulit hitam.


Rambutnya terkuncir ke atas dengan sepasang anting lingkaran besar. Make up-nya bold dengan polesan lipstik maroon dan bagian mata yang intens.


Dia berjalan masuk ke dalam tempat tersebut sambil menenteng sebuah tas tangan dengan warna senada dengan outfitnya.


Gadis tersebut terlihat berhenti sejenak di depan pintu masuk, dan mendongak ke atas, melihat papan nama klub itu yang bersinar terang.


"Oke, Mah. Ayo kita dapetin bahan buat tugas Oppa kesayangan. Semangat," ucap gadis tersebut yang tak lain adalah Jemima.


Dia menarik nafas dalam, dan menghembuskan sekaligus. Jemima pun lalu kembali berjalan masuk ke dalam, dan melihat bahwa suasana sudah sangat ramai.


Dia mendengar seseorang berbicara dari atas panggung, namun karena bukan itu tujuannya, sehingga dia pun tak fokus ke area tersebut.


Jemima berjalan menuju meja bar, dimana cukup banyak orang yang duduk di sana. Dia melihat ada sebuah kursi kosong di sana, dan memutuskan untuk duduk sembari melihat kondisi tempat itu, sebelum memulai misinya.

__ADS_1


Saat dia baru beberapa saat duduk, pengisi acara sudah akan memainkan musik, hingga membuat semua pengunjung bersorak.


Banyak orang yang tadi duduk di depan meja bar, seketika menghambur masuk ke lingkaran lantai dansa.


Jemima terus mengedarkan tatapan mata coklat gelapnya, seperti sebuah lensa kamera yang merekam setiap kejadian yang ada di hadapannya.


Kaki dan tangannya terlihat mulai bergerak seiring dentuman suara musik yang menggema di seluruh klub tersebut.


"Asik juga lagunya," gumamnya saat menikmati lagu.


Dia pun melihat kearah panggung. Karena posisi keyboard yang berada di belakang, ditambah Jordi yang lebih banyak menunduk memainkan tuts keyboardnya, membuat Jemima tal sadar bahwa saat itu di sana ada kakaknya.


"Ah... nggak mungkin. Cowo cupu plus kutu buku itu masa iya bisa kek gitu. Kayaknya efek lampu disko bisa bikin puyeng deh," sanggahnya pada diri sendiri.


Dia masih menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Fredy sambil memandangi wajah sang vokalis. Hingga dia menyadari bahwa vokalis itu terus melihat ke arahnya, dan membuat Jemima merasa risi.


Gadis itu pun memilih untuk berhenti melihat ke arah panggung, dan beralih ke bar tender yang bertugas malam ini.

__ADS_1


"Baru pertama kesini ya?" tanyanya.


Jemima mengerutkan keningnya saat mendapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu.


"Muka lu asing soalnya, jadi gue bisa langsung tau," tambah bartender yang seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jemima.


"Oh... iya nih," sahut Jemima.


Gadis itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan, sambil menutupi sebelah wajahnya dengan tangan, dan berbisik pada bartender tersebut.


"Tapi keep silent ya. Gue lagi nyari jabl*y bocil nih. Banyak kan di sini?" ucap Jemima.


Sang bartender sempat mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Jemima. Namun sejurus kemudian, dia tersenyum seolah kembali paham isi kepala Jemima.


"Butch? or Femme?" tanya si bartender.


Anjir! Gue dikira lesb*ian, batin Jemima.

__ADS_1


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2