
"Habis ini kita ke jaksel kan ya?" tanya Jordi.
"Bener. Tadi Kak Diva udah telah aku nanyain jadi main disitu nggak?" jawab Husein selaku humas.
"Ya udah. Biar nggak telat, kita langsung ke sana aja. Biar kita minta makan pas udah sampe," seru Jordi.
Fredy terlihat merapikan tas gitarnya, karena tadi dia buru-buru keluar untuk mengejar jadwal manggung.
Namun saat dia baru saja selesai mengemas, matanya menangkap sesuatu di seberang jalan.
"Di, itu bukannya mobil adek lu?" ucap Fredy yang melihat mobil Jemima masih berada di seberang jalan kafe.
Jordi pun ikut melihat ke arah yang ditatap oleh temannya.
"Kok iya sih? Bentar gue ke sana dulu," sahut Jordi.
Pemuda tersebut pun lalu berjalan menyeberang ke arah mobil itu berada. Sesampainya di sana, dia melihat seorang gadis sedang duduk sambil melempar batu ke arah jalanan.
"Bener kan dugaan gue. Pasti lu ijin nginep cuma boongan," ucap Jordi.
Jemima sampai terkejut hingga terlonjak kaget melihat kehadiran sang kakak di sana.
"Kok Abang bisa tau gue di sini?" tanya Jemima panik.
Jordi tak menyahut. Dia lalu melihat mobil sang adik, dan mendapati bahwa ada gembok ban terpasang di salah satu roda mobil itu.
__ADS_1
"Lu ketilang?" tanya Jordi.
Jemima hanya mengangguk sambil tersenyum kaku. Sementara Jordi hanya bisa menghela nafas sambil berkacak pinggang melihat kelakuan sang adik yang benar-benar menyusahkan.
"Mending lu pulang deh. Udah malem juga. Panggil taksi sono," seru Jordi.
"Ogah. Gue takut diinterogasi Papah. Lu anterin gue ya, Bang," pinta Jemima cepat.
"Nggak ada. Gue sibuk. Sekarang aja gua jadi telat gara-gara elu," sahut Jordi ketus.
"Ya udah gue ikut elu aja," jawab Jemima.
"Hah? Nggak bisa. Gue pulang pagi. Bahaya kalo cewe keluyuran malem-malem," sanggah Jordi.
"Tapi kan ada elu, Bang. Bukannya lebih aman kalo sama abang sendiri. Boleh ya, please," rengek Jemima.
Dia lalu berbalik dan pergi, akan tetapi Jemima mengikuti Jordi hingga sampai ke parkiran kafe.
Di sana Husein dan Fredy sudah siap di atas motor masing-masing.
"Bang, gue...," ucap Jemima.
"Sen, pinjem helm cadangan lu," sela Jordi.
Husein pun kembali turun dari motornya dan mengambil helm cadangan dari bagasi.
__ADS_1
"Nih helmnya," ucap Husein.
"Noh dipake kalo mau ikut," seru Jordi pada Jemima.
Gadis itu pun tersenyum dan segera meraih benda tersebut dari tangan Husein.
"Makasih, Bang," ucap Jemima.
Gadis itu pun segera memakai helm naik ke atas motor sang kakak. Fredy sama sekali tak berkata apapun dan hanya melakukan motornya lebih dulu di depan, diikuti Husein lalu Jordi.
Sekitar hampir setengah jam, akhirnya keempat orang itu sampai di sebuah kafe. Ini adalah tempat manggung mereka berikutnya.
"Abang mau main di berapa tempat sih ni malem?" tanya Jemima begitu mereka menghentikan laju motor.
"Kenapa? Udah ngantuk kan? Gue bilang juga apa. Mending lu pulang aja. Bandel banget," keluh Jordi.
"Yeh... siapa yang ngantuk? Gue cuma nanya. Gitu amat jawabnya," sahut Jemima.
"Yuk masuk. Gue udah laper," ajak Fredy.
Husein pun berjalan mengikuti Fredy. Jordi tak lagi meladeni Jemima, dan segera turun dari motor dan berjalan ke dalam.
Jemima masih berdiri di dekat motor sang kakak dan melihat ketiga pemuda itu masuk ke kafe.
"Fix, Abang gue masuk circle cowo freak. Klop banget ama si kupret," gerutu Jemima.
__ADS_1
Dia pun kemudian ikut masuk ke dalam, mengikuti Jordi dan lainnya.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥