
Hari-hari berlalu sejak kejadian itu, dan Jemima pun semakin terbuka dan sering terlihat bersama dengan Fredy, meski ta dipungkiri bahwa keduanya pun masih sering terlibat cekcok.
Namun, jika sebelumnya mereka akan ribut hebat, kali ini keduanya lebih memilih menganggapnya sebagai gurauan saja, dan kembali berbincang meski lagi-lagi berdebat.
Kepribadian Jemima yang selalu seenaknya, dan Fredy yang pendiam bahkan cenderung dingin, membuat keduanya selalu tak bisa akur dalam waktu lama.
"Gengs, bisa nggak kalo ngerjain bertiga?" tanya Daisy pada Jemima dan Jessica.
Kedua gadis tersebut baru saja kembali dari ruang dosen, setelah mencoba bernegosiasi tentang tugas kelompok yang baru saja diberikan.
Jessica menggeleng, pertanda negosiasi gagal.
"Kalian berdua aja deh, nggak papa. Gue nanti coba cari temen lagi. Kali aja ada yang belum dapet kelompok," ucap Jemima.
"Li serius nggak papa?" tanya Jessica.
"Ya mau gimana lagi dong? Lu denger sendiri tadi tuh dosen sak klek banget," sahut Jemima.
"Beneran nggak bisa bertiga ya, gengs?" tanya Daisy.
"Tau sendiri Pak Koco kek gimana? Malah tadi dia bilang, kalo maksa bertiga bakal dianggeo gagal semester ini. Mana tadi keknya udah pas dua-dua. Tinggal kita aja yang tiga orang," tutur Jessica.
Jemima terlihat diam, dan tiba-tiba dia mengacung-acungkan jarinya ke atas.
"Keknya tadi ada yang nggak masuk deh. Biar gue coba ngomong sama dia. Lu berdua gue tinggal dulu ye," ucap Jemima.
__ADS_1
Gadis itu pun bergegas pergi meninggalkan kedua temannya.
"Mah, lu serius mau bareng ama tuh orang?" tanya Jessica yang sepertinya tahu siapa yang dimaksud oleh temannya itu.
"Tenang aja. Lagian ini juga bukan yang pertama kan," sahut Jemima.
Jemima pun terus berjalan pergi, sementara kedua temannya merasa tak enak dengan gadis tersebut.
"Siapa sih yang dimaksud si Imah?" tanya Daisy.
"Siapa lagi kalo bukan Fredy," sahut Jessica.
🐥🐥🐥🐥🐥
"Kemana sih tuh anak? Apa jangan-jangan dia nggak masuk?" gumamnya pada diri sendiri.
Jemima pun lalu keluar dan pergi ke area kantin, dimana biasanya banyak mahasiswa berkumpul.
Namun, Lagi-lagi dia tak melihat keberadaan pemuda yang dicari. Akhirnya, dia pun mencoba menghubungi sang kakak, berharap Jordi tau dimana Fredy berada.
Panggilan pertama tak mendapatkan sahutan. Jemima pun mencobanya lagi hingga panggilan kelima barulah Jordi mengangkat telepon dari sang adik.
"Halo, Bang," sapa Jemima.
"Ngapain sih lu telpon-telpon gue? Nggak tau apa gue lagi ada kelas tadi," gerutu Jordi.
__ADS_1
"Iye, maaf. Elah tinggal ijin bentar kali, gitu aja emosi. Eh, iya... Bang, lu tau si kupret di mana nggak?" tanya Jemima langsung.
"Hah? Kupret? Siapa tuh? Kagak kenal," jawab Jordi.
"Dih... itu lho, si Fredy maksudku, Bang. Lu tau nggak?" tanya Jemima lagi.
"Ngapain lu nanyain tuh anak? Nggak biasa-biasanya? Demen lu ye?" terka Jordi asal.
"Anjir, lu... emang nyariin dia harus demen dulu gitu? Seriusan deh, tau tuh orang kagak?" tanya Jemima.
"Bilang dulu mau apa. Gue nggak mau ya kalo kalian berdua sampe buat ribut dan malu-maluin gue," seru Jordi.
"Ya elah, Bang. Ini tuh soal tugas. Lu kan tau dia ada ikut beberapa mata kuliah di semester gue. Tadi dia nggak masuk, gue cuma mau kasih tau aja. Sekalian ngajakin dia kelompok bareng. Nggak ada anak lagi soalnya," terang Jemima.
"Oh... gitu. Dia nggak masuk. Keknya masih di kosannya deh. Coba aja lu...," sahut Jordi.
"Thanks, Bang," sela Jemima.
Tut... tut... tut...
Panggilan seketika dimatikan, bahkan sebelum Jordi selesai berucap.
"Nah kan... kek gini nih yang gue nggak suka dari si Imah. Dasar cewe absurd," keluh Jordi.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥
__ADS_1