
Sore itu, mobil Jemima terpantau sedang berada di sekitar jakarta timur. Dia terlihat menuju ke salah satu tempat kosan yang cukup terkenal dengan sebutan seribu pintu.
"Di sini deh keknya waktu itu," gumamnya sendiri.
Dia mencoba mengingat gang kecil yang pernah dia datangi saat mengantarkan Fredy pulang tempo hari.
Saat sampai di depan gang, dia mencari tempat parkir untuk mobilnya, karena jalan itu benar-benar sempit dan hanya bisa dilewati oleh sepeda motor.
Jemima pun memilih pelataran minimarket dua puluh empat jam yang ada di seberang jalan, sebagai tempat parkir darurat.
Gadis itu nampak menyeberang jalan dan berjalan memasuki gang sempit tersebut.
Sekitar seratus meter, jalan itu terasa begitu sesak dengan kedua sisi yang terbatasi oleh tembok rumah warga. Namun, setelah melewatinya, tampak sebuah halaman luas dimana bangunan tiga lantai dengan banyak pintu berdiri di sana.
Bangunan mirip rumah susun itu dipenuhi oleh banyak jemuran yang tersampir baik di teras maupun pagar.
"Ini bukan ya kosannya si kupret?" gumam Jemima.
Matanya mencoba mengedar, hingga seorang penghuni menghampiri gadis yang terlihat bingung berdiri di depan kos-kosan tersebut.
"Neng, mau cari siapa?" tanya seorang pemuda.
"Ehm... Bang, apa di sini ada yang namanya Fredy?" tanya Jemima.
__ADS_1
"Fredy?" ulang pemuda itu seraya mengingat.
"Dia biasanya pake motor vespa, Bang. Kalo malem biasanya manggung dia," jelas Jemima.
"Oh... cowok keren itu. Ada, ada. Dia di lantai tiga. Sorry banget, Neng. Sangking banyaknya penghuni di sini jadi nggak inget nama satu-satu. Tapi kalo dia, saya tau banget," tutur si pemuda tadi.
"Hehe... iya, Bang. Nggak papa kok. Tadi, lantai tiga yah?" tanya Jemima memastikan.
"Iya, lantai tiga. Kamar yang nomer lima dari tangga," sahut si pemuda.
"Oke, makasih ya Bang," ucap Jemima.
Dia pun kemudian naik ke atas, hingga sampai di depan kamar yang ditunjuk oleh pemuda di bawah tadi.
Meski masih ragu, gadis itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok... tok... tok...
Tok... tok... tok...
Tak lama kemudian, gagang pintu berputar dan papan itu pun bergeser. Jemima mundur selangkah dan mencoba melihat siapa yang muncul dari balik pintu tersebut.
"Jemima? Ngapain lu di sini?" tanya Fredy yang terkejut dengan kemunculan Jemima yang tiba-tiba berada di depan kamar kosannya.
__ADS_1
Sementara gadis itu justru tersebut lebar memamerkan deretan gigi putihnya hingga gusinya pun terlihat jelas.
"Beneran di sini rupanya. Hai, kupret. Pa kabar lu? Gue cari juga," sapa Jemima seenaknya.
"Ngapain lu di sini?" tanya Fredy.
"Ada yang mau gue omongin ke elu. Lu... lu lagi nggak sibuk kan?" tanya Jemima.
Dia terlihat memeriksa sesuatu di dalam kamar tersebut, dan membuat Fredy mengerutkan keningnya.
"Liat apaan sih lu?" tanya Fredy yang ikut menoleh ke dalam kamar.
"Ya... kali aja lu lagi ama cewek. Takut ganggu aja," sahut Jemima enteng.
Fredy menautkan keningnya, dan hanya bisa geleng kepala mendengar perkataan dari adik temannya itu.
Pemuda itu pun lalu membuka lebar-lebar pintu kamarnya dan membuat Jemima bisa melihat dengan jelas kondisi di dalam sana.
"Oh... kosong ternyata. Hehehe... boleh masuk nggak?" tanya Jemima.
Tanpa menjawab, Fredy hanya menggeser tubuhnya dan membuat jalan untuk gadis itu. Jemima pun masuk tanpa segan sama sekali.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥
__ADS_1