Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Kehebohan


__ADS_3

Malam hari sekitar pukul tujuh, Jemima dan Fredy terlihat sedang melaju di jalanan. Awalnya gadis itu mengajak Fredy untuk makan dulu sebelum pulang, akan tetapi karena pemuda tersebut tahu kebiasaan di rumah Jemima yang mewajibkan makan malam bersama, maka dia memilih untuk langsung mengantarkan gadis tersebut pulang ke rumah.


Saat sampai di depan gerbang, awalnya Fredy akan langsung pulang setelah gadis itu masuk ke dalam gerbang, namun siapa sangka, bunyi klakson mobil membuat keduanya menoleh dan melihat kehadiran sang tuan rumah.


"Mah, kenapa temennya nggak di ajak masuk?" tanya Papah.


"Dia udah mau pulang. Benerkan?" sahut Jemima pada kedua orang tersebut.


Namun bukannya langsung masuk setelah pak satpam membuka gerbang lebar-lebar, Papah justru turun dan menghampiri Jemima dan juga Fredy.


"Malem, Oom. Maaf baru nganter Jemima pulang," sapa Fredy.


"Nggak papa. Lagian ini juga masih sore banget. Masuk dulu yuk. Mah, lain kali kalo ada temennya ke sini, diajak masuk dulu dong. Ajakin makan malem kek, apa kek. Ayok, Nak. Kebeneran kita juga mau makan malam," ajak Papah.


Fredy terlihat menoleh ke arah Jemima, seolah tengah berdiskusi dengan telepati.


"Udah, ayo masuk... Pak, ini nanti mobil sama motornya Anak ini di bawa masuk ya," ajak Papah kepada Fredy dan memerintahkan satpam untuk memasukkan kendaraan mereka.


Fredy dan Jemima tak bisa lagi menolak. Mereka bertiga pun masuk ke dalam bersama.


Kehebohan kembali terjadi, saat Mamah melihat Fredy dan Jemima datang bersama.

__ADS_1


"Wah... Nak Fredy. Kebetulan banget dateng ke sini. Ayo sini masuk, Nak," seru Mamah ramah.


"Ih... Mamah apaan sih. Lebay bener sama anak orang. Sama anak sendiri teganya minta ampun," gerutu Jemima yang langsung mendapatkan cubitan dari sang Mamah.


Fredy hanya bisa tersenyum kikuk karena mendapatkan perlakuan yang aneh dari kedua orang tua Jemima.


Akhirnya karena kesal, Jemima pun meninggalkan Fredy di bawah bersama Mamah dan Papah, sementara dirinya naik ke atas.


Saat di tangga, dia berpapasan dengan sang kakak yang baru saja turun.


"Ada apaan sih, Mah. Rame bener di bawah," tanya Jordi.


"Temen gue?" tanya Jordi lagi.


Namun, sang adik sudah lebih dulu naik dan menghilang di ujung tangga. Dia pun lalu berjalan menghampiri kekaduhan di ruang tamu. Saat melihat pusat keributan, pemuda tersebut seolah mengerti situasinya dan berusaha menahan tawa.


"Tumben mampir? Biasanya langsung pulang lu," tanya Jordi.


"Oh iya, kamu temennya Jordi juga kan?" tanya Mamah.


"Iya, Tante," sahut Fredy canggung.

__ADS_1


"Ke belakang yuk. Kita nongkrong di sana sambil nunggu makanan siap," ajak Jordi.


Fredy yang merasa diselamatkan pun langsung mengiyakan dan pamit pada kedua orang dewasa itu.


Sesampainya di gazebo belakang, Jordi meraih gitarnya dan mulai memetik senar di intrumen tersebut.


"Hah... Gokil banget oran tua lu ya, Di," ungkap Fredy.


Sontak saja, tawa Jordi meledak membuat Fredy merasa konyol di depan temannya itu.


"Si*lan lu, malah pake ngetawain gue lagi," umpat Fredy.


"Hahaha... Lucu aja lihat elu yang niasanya kaku, dingin dan pendiem, bisa kek tadi, kikuk, canggung dan kek orang bloon... Hahaha...," ejek Jordi.


"Ya gimana gue nggak bingung coba, reaksi bokap nyokap lu bener-bener absurd banget. Gue sampe dikerubutin gitu," jawab Fredy.


"Hehehe... Ya, maklumin aja lah. Soalnya mereka kelewat seneng, baru kali ini si Imah deket ama cowok, sampe dia dianterin pulang mulu... Hahaha...," ungkap Jordi.


"What? Baru pertama?" pekik Fredy tak percaya.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


__ADS_2