
"Ada apa, Mah? Kesambet lagi lu?" tanya Jessica yang melihat temannya itu tiba-tiba bengong melihat ke sebuah arah, dimana tak ada siapapun di sana.
"Eh... Tadi kalian lihat nggak orang yang lewat?" tanya Jemima.
Daisy dan Jessica pun menoleh ke kanan dan kiri, melihat sekeliling mereka. Namun, tak ada hal aneh yang bisa ditangkap oleh indra penglihatan kedua gadis tersebut. Hanya ada mahasiswa yang berlalu lalang sepeti biasa.
"Emang lu lihat apaan sih, Mah?" tanya Jessica.
"Gue tadi lihat...," ucap Jemima.
"Eh, udah hampir masuk nih. Yuk buruan ke atas," sela Daisy setelah melihat jam tangannya.
"Ya udah, yuk," ajak Jemima.
Ketiga gadis itu pun kemudian menuju tangga eskalator dan berjalan ke arah kelas mereka. Di sana sudah banyak mahasiswa yang hadir, akan tetapi dosen belum datang.
Jemima dan teman-temannya duduk di barisan nomor tiga. Tata letak tempat duduk mahasiswa di kelas tersebut berundak. Semakin kebelakang semakin naik. Sehingga tak membuat pandangan mahasiswa yang berada di belakang terhalang.
"Eh... hari ini dosen penggantinya dateng kan?" tanya Jessica.
"Kalo kata Bu Dina sih iya. Eh... Penasaran nggak sih, dosen penggantinya cewe apa cowo?" tanya Daisy balik.
__ADS_1
"Kenape lu, Is? Mau oleng lu dari abang gue? Yah... Ngomongnya setia. Preeeett...," ejek Jemima.
"Lagian elu nggak ada mau bantuin gue. Usaha apa salahnya sih," kilah Daisy.
"Bilang aja setia lu setipis tisu, haha...," ledek Jemima lagi.
Namun, tawanya terhenti saat melihat seseorang masuk ke dalam kelas. Rautnya tiba-tiba saja berubah suram seolah tak senang dengan kehadiran orang tersebut.
"Orang aneh dateng. Bikin males aja," gerutu Jemima lirih.
Jessica dan Daisy pun melihat ke arah mahasiswa yang tak lain adalah Fredy itu datang, dan kemudian menoleh melihat ekspresi Jemima.
Keduanya saling pandang dan mengedikkan bahu masing-masing.
Fredy terlihat menatap deretan tempat duduk di depannya. Namun semua nampak telah penuh. Pandangannya tertuju pada baris kedua tepat di depan tempat duduk Jemima dan kawan-kawan.
Pemuda tersebut nampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya berjalan menghampiri tempat duduk itu.
Dia mencoba tak melakukan kontak mata dengan gadis yang sudah ribut dengannya beberapa hari lalu di perpustakaan.
Keduanya pun duduk dalam diam dan memilih bersiap mengikuti kuliah.
__ADS_1
Tak berapa lama, pintu kembali terbuka dan muncullah sosok baru yang terlihat dewasa dan juga tampan. Mengenakan kemeja putih dan celana hitam, serta rambut yang agak panjang dan disisir rapi.
Wajahnya bersih dengan kacamata bertengger di batang hidungnya.
Jessica terlihat membola sambil menepuk-nepuk pundak Daisy yang duduk di sampingnya saat menyadari kehadiran sosok tersebut.
"Apaan?" tanya Daisy.
"Tuh... Lihat tuh...," seru Jessica sambil menunjuk ke arah pria itu.
Daisy pun menoleh ke depan, dan dia tak kalah kagetnya dengan Jessica. Seperti dejavu, Daisy juga menepuk-nepuk pundak Jemima hingga membuat gadia itu menoleh.
"Apaan?" tanya Jemima singkat.
Suasana hatinya masih kesal karena kehadiran Fredy di kelasnya.
"I... Itu... Itu...," ucap Daisy tergagap.
Jemima pun mencebik dan dengan malas menoleh ke depan. Dia terkejut bukan main saat melihat pria asing itu, hingga dia bangun dan membuat kursinya jatuh ke belekang, membuat gaduh seisi ruangan.
Omo... Omo... Daebak, batinnya.
__ADS_1
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥