
Pukul setengah delapan malam, Fredy baru saja kembali ke kamarnya setelah mencoba membetulkan sendiri motor vespanya yang sudah membuat dia dan Jemima kelelahan sore tadi.
"Mah, lu...," ucap Fredy terhenti.
Dia membatalkan semua ucapannya saat melihat gadis yang sudah ikut mendorong motornya sepanjang jalan, terlihat ketiduran di atas kasur lantai.
Fredy masuk perlahan dan berjongkok di samping Jemima. Dia menatap wajah tenang gadis tersebut dalam diam.
Tangannya terulur dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. Helaan nafas terdengar begitu berat keluar dari mulut pemuda tersebut.
Dia lalu berdiri dan mengambil tasnya. Dia mencari ponsel yang sejak tadi tersimpan di sana.
Fredy mencari kontak seseorang di daftar ponselnya, lalu mengarahkan kamera kepada Jemima yang masih tertidur.
[Adek lu ketiduran di tempat gue. Mending lu jemput deh. Gue nggak tega banguninnya]
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Di jalan, Jemima yang sudah berpindah ke dalam mobil Jordi terlihat mengerjapkan mata, dan mulai bangun dari tidurnya.
"Ehm... gue dimana?" gumamnya dengan suara serak.
__ADS_1
Kedua tangannya terentang, mencoba meregangkan otot-otot yang kaku. Saat dia menoleh ke samping, matanya menangkap kehadiran Jordi yang sedang mengemudi.
"Kok gue bisa sama elu, Bang?" tanya Jemima.
Gadis itu nampak menegakkan duduknya dan mengucek kedua matanya.
"Fredy chat gue. Katanya lu molor di kosan dia," sahut Jordi.
"Oh...," timpal Jemima.
Jemima melihat jam di dashboard, dan rupanya hampir jam sembilan.
"Bokap pasti bakal marahin gue deh," gumam Jemima lirih.
"Tapi kan mestinya bisa dikasih toleransi. Lagian kenapa sih makan malam harus bareng segala. Kesibukan orang kan beda-beda," keluh Jemima.
"Eh, Imah. Kalo mau protes, sono ke bokap. Kenapa malah ke gue," sahut Jordi ketus.
Gadis itu pun lalu diam hingga mobil Jordi sampai di depan gerbang rumah. Saat pak satpam membukaan gerbang untuk mereka, di teras sudah terlihat Mamah dan Papah yang menunggu kedatangan kedua anak mereka.
Jemima nampak menghirup nafas dalam, lalu menghelanya sekaligus.
__ADS_1
"Udah, nggak usah kek orang mau sidang skripsi aja. Adepin aja kek Jemima yang biasanya," ucap Jordi yang sedang melepas sabuk pengaman.
Jemima pun menurut dan melakukan hal yang sama, lalu turun dari mobil dengan lemas.
Saat dia baru menginjak tanah, Mamah sudah lebih dulu menghampiri bahkan sebelum kaki satunya turun.
"Imah, kamu nggak papa kan, Mah?" tanya Mamah khawatir.
Dia menangkup kedua pipi anak gadisnya dan memalingkan ke kanan dan kiri, seolah tengah memeriksa kondisi Jemima.
"Ih... Mamah apaan sih? Aku nggak papa kok. Jangan lebay deh," gerutu Jemima.
"Lebay bagaimana? Kamu nggak tau apa gimana kita semua khawatir sama kamu. Udah malem nggak pulang-pulang. Taunya lagi tidur di kosan cowok. Siapa yang neting coba," sahut Mamah.
"Lagian cuma tidur doang. Neting gimana sih?" ucap Jemima sambil berjalan pergi meninggalkan sang Mamah.
Gadis itu berjalan ke arah rumah dimana Papah berdiri di teras, dan menatap ke arahnya.
"Mulai besok, kamu nggak udah bantu si Fredy lagi. Fokus aja sama kuliahmu sendiri," ucap Papah tiba-tiba.
"Terserah," sahut Jemima kesal.
__ADS_1
Gadis itu terlihat tak peduli dengan perkataan Papahnya, akan tetapi matanya tak bisa berbohong. Dia mengusap lelehan bening yang meluncur begitu saja dari matanya.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥