Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Kesiangan


__ADS_3

"Siap banget. Pake acara kesiangan lagi," gerutu Jemima.


Gadis itu terlihat berlarian di sepanjang trotoar dari halte bus menuju kampusnya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari jalan raya.


Semalam dia kalah taruhan dengan Papah, karena klub andalan Papah yang menang. Parahnya lagi, Jemima bangun kesiangan akibat menonton sepak bola hingga larut malam. Dia bahkan sarapan dalam kondisi benar-benar baru melek dari tidurnya.


Kedua kakaknya terus meledeknya karena muka bantal Jemima yang luar biasa, lengkap dengan belek dan bekas iler dipojokan bibirnya.


Gadis tersebut makan sambil menyangga dagunya, dengan mata yang masih terasa berat. Namun karena peraturan Papah yang mewajibkan semua orang untuk sarapan dan makan malam bersama, sehingga mau tak mau Jemima pun duduk di meja makan dengan penampilan yang luar biasa kacaunya.


Setelah sarapan, kedua kakak dan juga Papah berangkat untuk beraktivitas. Jemima yang lemah belum bersiap kuliah pun kembali masuk ke kamar hendak bersiap.


Namun sesampainya di kamar, gadis itu justru merasa masih kangen dengan bantal dan gulingnya.


Dia pun kembali berbaring di sana.


"Bentar aja nggak bakal kesiangan kan ya," gumamnya sambil memeluk gulingnya dengan nyaman.


Namun, dia justru kembali tertidur. Beruntung Mamah yang merasa anak gadisnya terlalu lama di kamar, masuk dan melihat Jemima yang kembali tidur.

__ADS_1


"Ya ampun, Imah. Udah siang lho ini. Kamu emang nggak kuliah, hem?" tanya Mamah sambil mencoba membangunkan putrinya.


Jemima terlihat menggeliat. Dengan malas dia meregangkan tangannya dan masih memejamkan matanya yang terasa berat.


"Ehm... cuma tiduran bentar, Mah. Lagian masih jam delapan ini. Aku ada kelas jam sepuluh," ucap Jemima malas.


"Eh... ni anak. Bangun cepetan. Lihat tuh jam! Ini udah pukul sembilan lewat lima belas. Kamu lupa kalo harus berangkat pake bus?" seru Mamah.


Mendengar ucapan Mamah, Jemima seketika membuka matanya lebar, dan meraih ponsel dari atas nakas.


Matanya semakin membola dan dia langsung terduduk sambil mengusap anak rambutnya ke belakang.


"Gawat. Aku telat. Aduh... gawat," gumam Jemima.


Mamah hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan sang putri yang benar-benar luar biasa.


Akhirnya, Jemima pun berlarian mengejar bus, hingga dia juga harus berlarian menuju ke arah kampusnya berada karena kalah taruhan ditambah kesiangan.


Dia terus melihat jam di pergelangan tangannya, dan memastikan bahwa masih ada waktu yang cukup untuknya agar bisa sampai tepat waktu.

__ADS_1


Saat dia sedang berlari, seorang dengan motor vespa melaju di sampingnya. Jemima pun menoleh, begitu pun si pengendara.


Gadis itu terlihat senang karena ada yang lewat dan bermaksud meminta boncengan. Senyumnya melebar, dan langsung melambaikan tangan agar si pengendara segera berhenti.


Pengemudi vespa itu masih melaju sekitar beberapa meter di depan, dan kemudian menepi.


Jemima yang melihatnya pun segera berlari mengejar dan menghampiri pengemudi tersebut.


Nafasnya terengah-engah karena dari tadi terus berlarian dari halte bus. Namun, senyum lebarnya seketika menghilang saat matanya melihat siapa si pengemudi motor antik itu.


"Elu?" tanya Jemima.


"Kalo mau nebeng cepetan, gue nggak mau telat gara-gara elu," seru si pengemudi vespa yang tak lain adalah Fredy.


"Pede gila. Ogah gue naik motor butut lu. Nggak level. Dasar cupu," elak Jemima.


Gadis itu kembali berjalan melewati Fredy begitu saja dan urung meminta boncengan. Pemuda tersebut pun tak mau pusing dan segera malaju kembali menuju kampusnya.


Begitu Fredy lewat, Jemima terlihat berhenti dan menjejakkan kakinya kesal karena lagi-lagi bertemu Fredy yang selalu membuatnya kesal.

__ADS_1


Dia melihat jam lagi, dan ternyata sudah hampir terlambat. Jemima kembali berlari secepat mungkin untuk mengejar waktu.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2