
"Lu kenapa sih bisa sampe telat gitu. Udah tau Pak Koco orangnya sak lek. Gue denger si Fredy aja telat lulus gara-gara tuh dosen satu," tanya Jessica.
Jemima terlihat masih merebahkan kepalanya di atas meja, namun kali ini dia berada di kantin kampus bersama dua temannya itu.
"Ah... au ah. Gara-gara kalah taruhan sama bokap jadi gini," keluh Jemima.
"Bola lagi?" tanya Daisy.
Jemima mengangguk lemas, lalu mencoba mengangkat kepalanya dan duduk bersandar di kursi.
"Lagian elu, udah tau besoknya ada kuliah dosen killer, masih sempet-sempetnya begadang. Jadi gini kan. Untung tugasnya masih mau diterima dan nama elu nggak disuruh dicoret. Kalo nggak, lu bakal jadi penerusnya si Fredy itu," tutur Jessica.
"Wah... jahat gila lu nyumpahin temen sendiri kek gitu. tega lu, Nces," gerutu Jemima.
"Bukan nyumpahin, cuma kasih tau doang," sanggah Jessica sambil meminum es rasa jeruknya.
Jemima terlihat kesal dan meraih gelas minumannya. Dengan wajah ditekuk, dia menyedot jus stroberinya.
__ADS_1
Ketiganya pun menikmati snack masing-masing, dan kembali melanjutkan kelas yang masih tersisa. Namun, sepanjang hari Jemima terlihat tak bersemangat, gara-gara masalah tadi pagi dengan salah satu dosennya.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Malam hari di rumah, Jemima baru saja pulang sekitar pukul tujuh lebih, karena dia harus menunggu bus dan beberapa kali ganti kendaraan untuk bisa sampai di rumahnya.
"Mah, aku pulang," panggil Jemima berjalan masuk dengan gontai.
"Ehm... baru pulang kami, Mah?" sahut Mamah dari arah dapur.
Wanita itu sedang menyiapkan makan malam bersama asisten rumah tangganya.
"Ehm... bau banget. Mandi dulu napa lu," seru Jordi yang sejak tadi berada di sana sambil menonton TV.
"Capek, Bang. Lu nggak tau apa hari ini gue si*l banget," keluh Jemima.
"Ehm... anak Mamah capek banget yah? Nih minum dulu," ucap mamah yang datang sambil membawa segelas jus jeruk segar untuk sang putri.
__ADS_1
"Mamah the best," sahut Jemima.
Gadis tersebut meraih gelas dan meneguk isinya hingga tandas.
"Makanya lain kali nggak usah pake acara taruhan sama Papah. Jadi gini kan. Kunci mobil diambil papah, kamu nggak boleh nebeng abangmu juga. Mana trayek dari sini ke kampus harus pindah berkali-kali," omel Mamah.
"Tau ni anak. Makanya nggak usah sok-sokan," sahut Jordi.
"Diem lu, Bang. Nggak ngebantu juga omelan lu," tepis Jemima kesal.
"Dih, dikasih tau juga malah nyolot. Mandi sonoh. Bau banget tau nggak, atau gue semprot pake obat serangga nih," seru Jordi.
Tangannya sudah terulur hendak meraih botol aerosol berisi cairan pembasmi serangga yang ada di bawah meja, membuat adiknya memekik.
Jemima pun segera bangun dan memukul sang kakak dengan bantal duduk, lalu dia berlari ke tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Tak berselang lama, Papah juga baru pulang kerja dan langsung membersihkan diri. Tomi yang pulang paling akhir karena harus memantau jam sibuk di kafenya terlebih dulu.
__ADS_1
Tepat pukul delapan malam, semuanya sudah berkumpul dan makan malam bersama berlangsung dengan tenang, meski sebelumnya terjadi perdebatan kecil antara Jordi, Jemima dan juga Tomi yang selalu mewarnai hari-hati di rumah keluarga Budiman tersebut.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥