Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Diantar cowok


__ADS_3

Sekitar pukul delapan malam, vespa Fredy terlihat berhenti di depan gerbang rumah Jemima.


"Nggak mau masuk lu? Abang pasti lagi di rumah," ajak Jemima.


"Nggak lah. Gue mau mandi. Mau siap-siap buat manggung," tolak Fredy.


"Ehm... ya udah. Ati-ati lu," sahut Jemima.


Fredy pun putar balik. Tepat saat itu, mobil Papah juga baru saja sampai, dan melihat anak gadisnya diantar pulang oleh seorang pemuda.


Titttt!!!


Bunyi klakson mobil Papah membuat Jemima menoleh dan menunggu si penumpang membuka kaca mobilnya.


"Siapa itu, Mah?" tanya Papah.


Jemima terlihat kembali berjalan mendahului sang Papah yang menunggu lsatoam membukakan pintu gerbang yang besar.


"Temen, Pah," sahut Jemima singkat.


Gadis itu berjalan melewati halaman, menuju ke arah rumah, dan langsung masuk begitu saja. Sementara dibelakangnya, Papah yang sudah turun dari mobil, menyusul masuk dan lanjut bertanya kepada anak gadisnya.


"Temen mu yang mama, Mah? Kok papah belum pernah liat," tanya Papah lagi.


"Ada apa sih, Pah? Kok pulang-pulang malah nanyain si Imah gitu?" tanya Mamah yang sejak tadi berada di dapur, dan mendengar suara kedua orang itu.


"Itu si Imah, tadi dia pulang dianter cowok," sahut Papah menyerahkan tas kerjanya pada Mamah.


"Hah? Cowok? Mana? Kamu punya cowok, Mah? Kok nggak dikenalin ke Mamah sih?" tanya Mamah kemudian.

__ADS_1


Jemima terlihat memutar bola matanya mendengar rekasi kedua orang tuanya, yang begitu antusias dengan hal tersebut.


Tak dipungkiri kenapa mereka begitu tertarik. Pasalnya, sejak masa puber, Jemima belum pernah memiliki seorang pacar. Apa lagi sampai diantar pulang seperti ini.


Gadis itu pun berbalik dan berjalan menaiki tangga ke atas.


"Imah, dih nih anak. Ditanya juga, malah ngeluyur aja," keluh Mamah.


Sementara itu, Jordi yang berpapasan dengan Jemima di tangga, sedikit mendengar pembicaraan antara adik dan kedua orang tuanya tadi.


Jemima tak menanggapi sang kakak yang sepertinya penasaran, dan melewatinya begitu saja.


"Pah, Mah... kenapa tuh sama si Imah?" tanya Jordi yang menghampiri kedua orang tuanya.


"Tuh, kata papah dia dianter pulang sama cowok," tutur Mamah.


"Aawww! Sakit, Mah," keluh Jordi.


"Lagian kamu kalo ngomong sembarangan banget. Adek mu lho itu," sahut Mamah.


"Ya abisnya, aneh aja. Kok bisa? Emang cowoknya kek apa sih, Pah?" tanya Jordi pada Papah.


"Papah nggak lihat jelas mukanya. Cuma, dia pake motor vespa tadi," jawab Papah.


"Vespa?" gumam Jordi.


"He'eh... udah ah. Papah mau mandi. Kalo penasaran, tanya aja tuh sama si Imah," sahut Papah yang lalu naik ke lantai atas.


Mamah pun kembali ke dapur dan melanjutkan memasak. Sementara itu, Jordi masih berdiri dengan tangan yang mengusap dagunya sembari memikirkan perkataan papahnya tadi.

__ADS_1


Tiba-tiba, sebuah seringai muncul di wajahnya, seolah dia menemukan sesuatu yang menarik.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


...Keesokan harinya, Jemima yang mobilnya ditinggal di kampus, terpaksa meminta belas kasihan pada kedua kakaknya, karena dia tak mungkin meminta tolong sang Papah. ...


Tempat kerja Papahnya cukup jauh dari rumah, sedangkan arahnya berlawanan dengan kampus tempat Jemima dan Jordi belajar.


Hanya Tomi dan Jordi yang bisa, akan tetapi saat Jemima sedang bersiap di atas, kakak sulingnya, Tomi, sudah lebih dulu berangkat.


Alhasil, dia hanya punya Jordi. Tapi seperti biasa, Jordi tidak pernah mau ditebengi oleh adiknya dengan alasan yang sampai saat ini tidak diketahui oleh Jemima.


"Hah... buset dah. Punya kakak kebangetan bener. Nebeng searah aja kagak mau," gerutu Jemima.


Dia masih berada di teras rumah, karena tadi sempat mengejar Jordi yang sudah menyalakan mesin motornya.


"Ditinggal lagi sama kakakmu?" tanya Mamah.


"Iya nih. Bang Odi parah bener. Nggak ada care-care-nya sama sekali ke adek sendiri," keluh Jemima.


"Ehm... kesian anak Mamah. Kenapa nggak minta cowok semalem aja buat jemput kamu?" goda Mamah.


"Dih... amit-amit. Ogah. Mending aku jalan kaki aja deh," sahut Imah kesal.


"Bagus kalo gitu. Kan kamu juga udah biasa naik bus ini kan. Semangat, Imah," ucap Mamah yang terdengar seperti mengejek.


Jemima pun menghela nafas panjang, sebelum akhirnya pamit berangkat ke kampusnya.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


__ADS_2