Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Deg-degan


__ADS_3

"Berdiri lu. Mau sampe kapan lu gelayutan ma gue, hah?" ucap Fredy yang sontak membuat Jemima tersadar.


Gadis itu pun buru-buru membetulkan berdirinya dan meraikan diri.


"Ehem... Ya... Ya udah, gue balik dulu.. Jangan lupa besok kita bahas tugas. Bye," sahut Jemima.


"Iye, bawel bener lu jadi cewek. Bisa ke jalan sendiri kan lu?" tanya Fredy.


"Tenang aja, gue bukan cewek manja," sahut Jemima.


Dia pun keluar dari kamar kosan Fredy tanpa berbalik. Sementara Fredy terus memperhatikan gadis itu, bahkan hingga Jemima telah keluar dari halaman kosan.


Sebuah tawa tertahan muncul di wajah yang biasa dingin itu. Pemuda tersebut pun kembali masuk dan merebahkan diri di atas kasurnya.


Tanganya meraih dada. Dia terlihat sedang merasakan sesuatu yang muncul beberapa saat lalu, ketika dia berada di jarak yang begitu dekat dengan adik temannya.


Fredy tak berucap sama sekali. Hanya matanya yang ia rapatkan, dan jakun yang naik turun dengan lambat, seolah begitu susah menelan ludahnya.


Sementara Jemima yang sudah sampai di mobilnya, langsung ke dalam dan dudul di balik kursi kemudi.


Gadis itu pun melakukan hal yang sama, memegangi dadanya yang beberapa saat lalu berdetak begitu cepat, kala matanya terkunci oleh tatapan Fredy yang begitu teduh.


"Ada apa sama gue? Kenapa deg-degan gini?" gumamnya pada diri sendiri.


Dia bahkan merasa wajahnya yang panas, hingga Jemima menyalakan AC mobil dengan level paling tinggi.

__ADS_1


Tak mau berlama-lama di sana, dia pun memilih untuk pulang ke rumah.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Di dalam kamarnya, Jemima terlihat tengah berbaring tengurap di atas ranjang, dengan tangan dan kepala yang menjuntai ke bawah.


Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar dari luar.


"Siapa?" tanya Jemima lemas.


"Gue, Jordi," sahut orang di luar yang tak lain adalah kakak keduanya.


"Ngapain lu ketuk-ketuk?" tanya Jemima lagi dengan malas.


"Gue masuk ya," sahut Jordi.


Dengan jailnya, dia mendekat dan menarik kedua lengan Jemima tiba-tiba, hingga gadis itu terjatuh di atas karpet bulu empuk di bawah tempat tidurnya.


"Aaaaa.... Abaaang! Rese banget sih jadi orang," gerutu Jemima yang akhirnya terduduk di atas karpet.


Bukannya merasa bersalah, Jordi justru tertawa terpingkal-pingkal melihat adiknya yang merajuk.


"Lagian elu tanggung banget cuma kepala ama tangan doang yang di bawah, jadi gue bantu biar semuanya aja yang turun. Hahaha...," sahut Jordi enteng.


Jemima meraih sebuah bantal dari atas kasur dan melemparkannya ke arah sang kakak. Namun hal itu justru membuat Jordi semakin keras tertawa.

__ADS_1


"Ih... Abang nyebelin. Lagian ngapain sih kesini segala? Ganggu orang aja," keluh Jemima.


Jordi lalu duduk di ata tempat tidur sang adik sambil meraih sebuah bantal guling dan memeluknya.


"Hehehe... Nggak ada, gue cuma mau ngerjain lu aja. Lagian siapa suruh tadi siang nggak sopan banget sama gue," tutur Jordi.


"Nggak sopan gimana?" tanya Jemima.


"Pake nanya. Lu telpon gue di tengah kelas, giliran dah dapet jawaban, langsung matiin gitu aja. Apa dong kalo nggak sopan," keluh Jordi.


"Oh... Itu, ya maaf," sahut Jemima enteng.


"Terus, lu udah ketemu sama tuh anak?" tanya Jordi.


"Udah, kok. Dia pulang pagi katanya. Motornya mogok lagi jadi milih nggak masuk sekalian dari pada kena semprot dosen. Besok juga kita mau ke... temu...," ucap Jemima terjeda.


Jordi merasa ada yang aneh di ujung kalimat yang diucapkan sang adik. Gadis itu bahkan terlihat terdiam, dengan tatapan kosong.


"Woi... Ngapa lu?" tanya Jordi sambil melambaikan tangan di depan wajah adiknya.


Jemima pun seketika tersadar dari pikirannya dan mengerjapkan mata.


"Ehm... Ah... Nggak... Nggak papa kok. Udah jam depalan, mending lu keluar deh, Bang. Gue mau turun. Mau makan, laper," sahut Jemima yang tampak gugup.


Jordi menatap curiga ke arah adiknya, akan tetapi Jemima menutupinya dengan tawa canggung dan terus mendorongnya keluar dari kamar.

__ADS_1


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2