Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Boncengan


__ADS_3

Jam setengah dua, Jemima terlihat sedang berada di parkiran, menunggu kedatangan Fredy yang sebelumnya sudah membuat janji untuk pergi ke kantor dinsos.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya pemuda itu muncul dan melambaikan tangan dari kejauhan.


Jemima pun bangun dan memakai tasnya, menunggu pemuda tersebut menghampiri.


"Udah lama lu?" tanya Fredy.


"Setengah jam. On time juga lu ye," puji Jemima.


"Udah tuntutan profesi," sahutnya cepat.


Fredy berjalan ke arah motor vespanya, membuat Jemima mengerutkan kening.


"Ngapain lu? Nggak bareng mobil gue aja?" tanya Jemima.


"Mending lu yang ikut gue bonceng motor deh. Lagian kita mau ke daerah kumuh. Kalo pake mobil keknya terlalu mencolok deh," ucap Fredy.


"Iya juga sih," gumam Jemima.


Akhirnya gadis itu kembali menutup pintu mobilnya dan mengunci kendaraan tersebut di sana.


Untuk kedua kalinya, Jemima naik vespa bersama Fredy dan meninggalkannya di tempat parkir.


Butuh waktu sekitar dua puluh menitan untuk sampai ke kantor dinsos terdekat. Karena ini hari kerja, sehingga kantor tersebut masih buka hingga jam tiga.

__ADS_1


Di sana, Fredy dan Jemima terlihta bertanya seputar kehidupan masyarakat di salah satu daerah pemukiman padat penduduk, atau yang sering dikatakan sebagai kawasan kumuh.


Dari petugas, keduanya mendapat cukup banyak informasi yang bisa menunjang tugas mereka.


"Kira-kira, memungkinkan tidak kalau kami melakukan kunjungan ke salah satu tempat tersebut, Pak?" tanya Fredy memastikan.


"Untuk itu, sebenarnya mungkin-mungkin saja. Tapi masing-masing daerah memiliki karakter yang berbeda. Ada yang tenang, ada juga yang banyak premannya. Kalau mau, adek berdua bisa pergi ke kawasan di sisi selatan sana yang lebih aman," tutur seorang petugas.


"Baik, Pak. Karena informasi yang kami dapat sudah sangat cukup, jadi kami mau pamit undur diri," ucap Fredy lagi.


"Oh, ya... silakan," sahut si petugas.


"Terimakasih ya, Pak," ucap Fredy sambil berjabat tangan.


Begitu pun Jemima yang sejak tadi seolah terus saja diam dengan tenang, mendengarkan sesi wawancara yang dilakukan oleh Fredy dan petugas tersebut.


"Jelas banget malah. Tapi, gue nggak mau kalo kita ke selatan," sahut Jemima.


"Kenapa?" tanya Fredy mengerutkan kening.


"Lu juga denger dong tadi, kalo daerah dengan permasalahan komplek itu justru di sini, bukan di sana. Sedangkan kita itu lagi cari permasalahan sekomplek-kompleknya. Ngapain ke selatan cuma gara-gara aman doang," ungkap Jemima.


"Eh, Jemima. Kalo gue nugas sendirian atau nggak bareng cowok, gue juga bakal ambil yang di dekat sini. Tapi kan gue bareng elu. Apa lagi lu adeknya si Jordi. Gue nggak mau sampe lu kenapa-napa entar," sanggah Fredy.


"Bodo amat. Pokoknya gue nggak mau. Udah ah... gue laper nih. Makan yuk," sahut Jemima enteng.

__ADS_1


Dia bahkan lebih dulu naik ke atas motor, bahkan sebelum Fredy menurunkan standar-nya.


Pemuda tersebut pun hanya bisa mencebik kesal, dan menghampiri motornya.


"Turun dulu napa. Main naik aja," ucap Fredy ketus.


"Oh... hehehehe... sorry," sahut Jemima.


Setelah gadis itu turun, Fredy lalu menyiapkan motornya, dan naik ke atas kendaraan ya g sering mogok itu.


"Naik," serunya.


Jemima pun kembali baik dan pergi dari kantor dinsos bersama pemuda tersebut.


"Mau makan apa lu?" tanya Fredy.


"Apa aja, yang penting makanan manusia," sahut Jemima.


Fredy tak menyahut lagi. Dia hanya terus melajukan motornya hingga tiba di salah satu warteg pinggir jalan langganannya yang berjarak tak terlalu jauh dari kantor pemerintahan tadi.


"Kita mau makan di sini?" tanya Jemima.


"Kata lu yang penting makanan manusia kan?" sahut Fredy ketus.


Jemima pun hanya bisa gantian mencebik kesal karena sikap Fredy yang lagi-lagi menurutnya sangat menyebalkan.

__ADS_1


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2