Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Kek kenal?


__ADS_3

Jemima duduk di kursi yang berada dua baris di depan pemuda misterius itu. Dia terlihat melirik ke belakang, namun kembali memalingkan pandangan dan memilih melihat keluar kaca jendela.


Kali ini, dia tak menikmati pemandangan malam kota, melainkan terus memikirkan siapa pemuda yang ada di belakang sana.


Serius. Kaya nggak asing, batin Jemima.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, gadis itu kembali turun di halte, untuk menunggu bus terakhir menuju ke rumahnya.


Saat dia sudah turun, bus pun melaju. Jemima lagi-lagi memperhatikan pemuda yang masih ada di dalam bus itu.


Tiba-tiba matanya membulat, seolah dia bisa melihat bagaimana rupa dibalik hoodie itu.


"Itu kek si... ah... tapi masa dia sih? Kupret kan cupu. Mana ada penampilan kek gitu," gumam Jemima seorang diri.


Tak berselang lama, bus pun datang. Gadis itu pun segera masuk karena ingin segera sampai di rumah dan beristirahat.


Tak perlu memakan waktu lama. Cukup lima belas menit, bus sudah kembali berhenti di halte yang berada di depan gerbang komplek perumahan Royal Residen, tempat rumah keluarga Budiman berada.


Jemima pun segera turun dan berjalan masuk ke dalam wilayah komplek tersebut. Seperti biasa, gadis ceria dan periang itu selalu menyapa setiap orang yang ditemuinya, hingga hampir semua penghuni komplek yang terlihat individualis itu mengenalnya.


Saat dia baru melewati beberapa rumah, sebuah sepeda motor nampak dari kejauhan hendak lewat di jalan seberang.

__ADS_1


"Kek motornya Bang Odi. Mau kemana tuh orang?" gumam Jemima.


Dia pun kemudian berteriak memanggil kakaknya yang baru saja lewat. Jordi pun mengerem motornya dan menoleh ke belakang tanpa mematikan mesinnya.


Jemima terlihat melambai-lambaikan tangannya ke arah sang kakak. Jordi lalu kembali melakukan motornya dan memutar arah, menghampiri adiknya yang masih berdiri di tepi jalan.


"Ngapain manggil-manggil?" tanya Jordi saat dia sudah berhenti di depan Jemima.


"Mau kemana, Bang? Ikut dong," pintar Jemima.


"Nggak ada ikut-ikut. Pulang gih sonoh. Udah malem juga. Gue mau kerja, bukan mau main. Lagian bentar lagi jam malem lu nyampe," sahut Jordi.


"Yah... Abang mah gitu ama adeknya. Gue kan juga pengin lihat elu tampil kek apa. Pelit bener," keluh Jemima.


"Ya seenggaknya anterin gue balik kek," sahut Jemima.


"Lu lupa taruhan lu ama bokap? Dah ah, gue cabut. Pulang sono jalan kaki. Udah deket ini," ucap Jordi.


Pemuda itu pun kembali menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan Jemima yang kesal dengan sikap kakak keduanya yang benar-benar cuek.


Jemima pun akhirnya kembali melangkah menuju rumahnya yang masih tinggal tiga blok lagi.

__ADS_1


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Di jalanan ibu kota, Jordi mengendarai motornya membelah jalan yang ramai dengan hiruk pikuk kendaraan. Sudah hampir jam delapan malam, dan dia hampir terlambat untuk live perfomance.


Kali ini dia akan tampil di sebuah klub malam yang cukup terkenal, menjadi penampil tambahan, sebelum guest star utama tampil.


Sekitar hampir setengah jam berkendara, Jordi akhirnya tiba di tempat tersebut. Saat pemuda itu hendak berbelok menuju parkiran basement, dia melihat seseorang berjalan di trotoar sambil menggendong tas gitar.


Meskipun penampilannya begitu tertutup, namun dia sangat mengenal dia orang tersebut.


Jordi pun menepikan motornya tepat di samping orang tersebut.


"Yuk masuk bareng gue," ajaknya.


Orang tersebut pun menoleh. Rupanya dia adalah sang gitaris, Fredy, yang malam ini tidak memakai vespanya.


"Kirain dah di dalem lu," sahut Fredy.


"Gue telat, soalnya harus ijin dulu sama komandan. Tau sendiri kan gimana bokap gue. Motor lu mana, Fred? Kok jalan kaki?" tanya Jordi.


"Mogok. Tadi gue naik bus buat ke sini," jawab Fredy.

__ADS_1


Keduanya pun masuk ke dalam bersama, dan bersiap melakukan pertunjukan.


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥


__ADS_2