Imah, Si tukang Ngabrut

Imah, Si tukang Ngabrut
Seorang kenalan


__ADS_3

"Hahahaha...," tawa Jordi menggema di seluruh kamarnya.


Fredy terlihat duduk di atas karpet sambil menyangga dagunya dengan kedua tangan. Wajahnya ditekuk setelah menceritakan kejadian yang baru saja dia alami.


"Ya gimana nggak ke sasar masuk kamar, orang kamarnya modelan cowok gitu," keluh Fredy.


"Ya emang tuh anak nggak ada model-model feminimnya," sahut Jordi yang masih terkekeh.


Fredy masih kesal sekaligus malu karena tak sengaja melihat apa yang tak seharusnya dilihatnya.


"Kalo bukan elu, gue pasti udah hajar elu sampe bonyok. Tapi gue percaya kalo elu nggak minat sama yang modelan kek si Imah," ucap Jordi.


"Hah... tau lah. Keknya mending lu pukul gue deh. Mata gue tiba-tiba burem lihat adek lu," sahut Fredy.


Seketika sebuah bantal melayang mengenai kepala Fredy.


"Si*lan lu. Biar tomboy, dia itu tetep adek gue. Body-nya bagus cuma emang nggak ada spek cewenya sama sekali, cuma casing-nya doang," timpal Jordi.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Seusai makan malam yang cantik canggung antara Fredy dan Jemima, pemuda itu lalu pamit pergi bersama Jordi melakukan pekerjaan sampingan mereka.


Selama makan, Jemima terus manyun. Sementara Fredy terus menunduk. Hal itu membuat Jordi berusaha menahan tawa, bahkan hingga sampai di kafe tempat mereka manggung pun dia masih terus terbahak kala mengingat cerita Fredy.

__ADS_1


"Nyesel gue cerita ke elu," keluh Fredy.


"Hahaha... gokil parah. Kok bisa sih?" tanya Husein yang diceritai oleh Jordi tentang kejadian di rumahnya tadi.


"Anjir lu pada. Bukannya prihatin malah ngeledek gue mulu," gerutu Fredy.


Dia pun keluar dari backstage dan menuju meja barista, hendak meminta minum kepada pelayan di sana.


Namun tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Fredy pun berbalik dan melihat seseorang yang sepertinya familiar.


"Lu... lu Fredy kan? Anaknya Oom Arman," ucapnya.


Fredy mengerutkan kening seolah tengah mengingat-ingat siapa gadis yang sekarang berada di depannya.


"Oh... Karin... anaknya Oom Irfan yang kuliah di Ausi?" sahut Fredy.


"Nah tuh inget. Pa kabar lu?" tanya Karin.


"Baik. Kapan lu balik ke sini?" tanya Fredy.


"Udah semingguan. Bokap suruh gue balik karena kuliah gue emang udah selesai di sana. Lu sendiri ngapain di sini?" tanya Karin lagi.


"Beres dong. Calon CEO baru di Frame style. Gue di sini kerja sambilan," sahut Fredy.

__ADS_1


"Lho kok bisa? Emang Oom Arman nggak ngasih elu posisi di perusahaan?" tanya Karin.


"Gue nggak mau bergantung ma bokap. Lebih enak hidup mandiri," jawab Fredy.


"Lu masih marah sama bokap lu?" tanya Karin.


Fredy hanya tersenyum kaku menanggapi pertanyaan itu. Dia memilih diam dan menghindar.


"Gue ke dalem dulu. Have fun ya," ucap Fredy mengambil minumannya yang telah jadi.


"Eh, Fred...," panggil Karin.


Namun, pemuda tersebut tak menghiraukan dan terus berjalan ke dalam, kembung ke backstage menemui temannya.


Beberapa saat kemudian, ketiga pemuda itu pun naik ke panggung. Saat itu lah Karin melihat bahwa pekerjaan sambilan yang dimaksud oleh Fredy adalah sebuah band indie.


Gadis itu kemudian terlihat mengarahkan kamera ponselnya dan memotret Fredy yang tengah perfom di atas panggung sambil memetik senar gitarnya.


Dia lalu mengirim foto tersebut kepada seseorang dengan sebuah pesan.


[Aku menemukan dia]


Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥

__ADS_1


__ADS_2