
"Eh, gimana lu katanya mau cerita," tanya Jessica.
"Tau nih si Imah. Dari pagi ditanya katanya entar. Giliran di kampus, bela-belain gue tungguin bilangnya juga entar. Sekarang mau bilang entar lagi lu, hah?" timpal Daisy.
Namun, Jemima yang ditanya seolah tak peduli dan hanya mengaduk bola bakso yang ada di mangkoknya.
Mereka baru saja selesai mengikuti kelas, dan sekarang sedang jajan di kantin.
Jemima sama sekali belum bersuara, dan hanya menghela nafas panjang berkali-kali. Hal itu membuat kedua temannya saling pandang, dan mengangkat bahu.
"Eh, Imah. Napa lu? Kesambet demit ajojing lu?" panggil Jessica.
"Demit ajojing? Gaje lu, Nces. Gue cuma lagi penasaran aja sama tadi malem," ucap Jemima akhirnya.
"Penasaran gimana? Kita nih yang lebih penasaran dari elu," sahut Daisy.
"Gue juga kali. Abang gue nggak mau bilang apa yang terjadi. Dia cuma ngancem kalo gue kek gitu lagi, bakal diaduin ke bokap biar masuk asrama," tutur Jemima.
"Emang lu nggak inget apa-apa gitu?" tanya Jessica.
Jemima menggeleng cepat. Lidahnya meraih sedotan dan meminum es alpukat kocoknya.
__ADS_1
"Mabok kali lu," timpal Daisy.
"Gue berani sumpah, gue nggak mabok. Orang mabok tuh kalo bangun tidur pala pusing, Iis," elak Jemima.
"Lah emang lu kagak puyeng gitu?" tanya Jessica.
"Dibilangin, gue tuh nggak inget sama sekali. Tau-tau gue bangun udah di kamar gue. Kek ngimpi aja, udah," ungkap Jemima.
"Kok aneh?" timpal Daisy.
"Makanya gue juga bingung. Mana Bang Odi nggak mau kasih tau lagi. Rese bener dah. Gimana caranya cari bahan buat tugas kalo gini?" gerutu Jemima.
"Kalo kaga gue nih, mending lu ikut idenya si Fredy aja deh. Lebih aman juga," seru Jessica.
"Kurang maksimal gimana? Bukannya dia ngajakin lu ke lokalisasi tempat tinggal mereka gitu ya?" timpal Daisy.
"Buat gue itu kurang maksimal. Gue nggak bisa lihat kek gimana kegiatan mereka di tempat kerja, kek gimana momen mereka sama pem-booking, pokoknya kurang maksimal," sanggah Jemima.
"Serah lu deh, Mah. Capek ngomong sama elu, kalo udah kek gini. Mending kita makan bakso aja deh. Entar keburu adem," pungkas Jessica.
Ketiganya tak lagi membahas hal itu, dan fokus pada makanan masing-masing. Waktu menunjukkan pukul setengah satu saat mereka telah selesai makan.
__ADS_1
Setengah jam lagi mereka memiliki kelas terakhir, setelah itu seperti biasa Jessica dan Daisy harus segera pulang, sementara Jemima akan ikut ke rumah salah satunya untuk bermain.
Atau kedua temannya itu meminta ijin untuk hangout, hingga waktu yang ditentukan masing-masing orang tua.
"Eh, bentar. Gue kek ketinggalan sesuatu di mobil. Lu berdua ke kelas dulu aja deh. Sekalian cariin bangku buat gue yah," seru Jemima.
"Jangan lama-lama lu," sahut Jessica.
Jemima hanya melambaikan tangan sembari berjalan ke arah parkiran. Saat hampir sampai, dia melihat motor sang kakak baru saja melewati gerbang.
"Bang Odi tuh baru dateng. Ba...," gumamnya.
Namun ketika hendak memanggil sang kakak, suaranya tertahan saat melihat sebuah motor vespa yang melaju di belakangnya.
Matanya terus mengikuti kedua motor tersebut, hingga keduanya berhenti di tempat parkir yang kosong.
Dari kejauhan, Jemima melihat sang kakak melepas helmnya dengan masih duduk di atas motor.
Sementara si motor vespa berhenti tepat di sampingnya. Pengemudi motor itu juga terlihat melepas helm bogo dan juga jaket hoodie yang sejak tadi dipakainya.
Jemima terkejut melihat rupa pemuda ber hoodie yang ternyata adalah Fredy. Ditambah, interaksi antara sang kakak dengan pemuda yang menurutnya menyebalkan, terlihat begitu akrab.
__ADS_1
Ada apa nih? Kenapa bisa mereka deket gitu? batin Jemima
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥