
Jemima masih diam, karena akan alasan kenapa dia bisa sampai menyukai Pak Dimas bahkan sejak pertama bertemu.
"Jemima, bukankah kita belajar tentang ilmu sosial. Saya rasa wajar jika terjadi ketertarikan antara pria dan wanita. Tapi, tidak setiap ketertarikan itu bisa diartikan dengan sebuah perasaan cinta. Saya yakin kamu tahu akan hal itu," ucap Pak Dimas.
Dia mencoba meluruskan pikiran mahasiswinya, barang kali Jemima tengah mengalami kebingungan.
"Ta... tapi, Pak. Saya emang ngerasa ada getaran saat pertama kali melihat Bapak," sanggah Jemima.
"Benarkah? Kira-kira kenapa itu? Semua pasti ada alasannya. Saya tidak percaya kata-kata 'cinta datang tanpa alasan' Jemima," sahut Pak Dimas.
Jemima kembali diam. Pak Dimas terus memperhatikan mahasiswinya yang biasa begitu percaya diri, tapi kini justru tampak sangat ragu dengan dirinya.
"Maaf, apa karena wajah saya yang mirip seseorang?" lanjut Pak Dimas.
Jemima seketika mengangkat pandangannya. Dia melihat lekat-lekat wajah Dimas. Memang benar dia jatuh hati pada sosok di depannya karena pria tersebut mirip dengan idolanya.
"Diam kamu berarti ya." Pak Dimas menghela nafas panjang, dan meminum minumannya yang baru saja datang.
"Jemima, saya itu bukan rasa suka seperti apa yang kamu pikirkan. Itu lebih ke obsesi kami untuk memiliki sosok yang kamu lihat ada di diri saya. Sebaiknya kamu coba renungkan lagi apa yang kamu ucapkan tadi," lanjut Pak Dimas.
"Tapi, Pak...," sanggah Jemima.
"Sayang," panggil seseorang dari arah lain.
__ADS_1
Sontak kedua orang itu menoleh karena terkejut. Pak Dimas terlihat melambaikan tangan, membuat Jemima semakin terkejut.
Seorang perempuan dewasa terlihat menghampiri mereka berdua, dan segera memeluk Pak Dimas begitu mereka bertemu.
"Aku kira kamu nggak akan ke sini," ucap Pak Dimas.
"Kamu kelamaan. Jadi aku samperin aja," sahut perempuan cantik dengan dandan smart casual itu.
Dia menoleh dan melihat Jemima yang masih duduk dengan tatapan terkejut ke arah mereka berdua.
"Sayang, ini...," tanya si perempuan.
"Dia mahasiswiku yang sangat berbakat. Kami sedang berbincang soal persepsi sosial individu. Benarkan, Jemima," jawab Pak Dimas.
Gadis itu berdiri dan memberi salam kepada perempuan tersebut. Jemima seolah mendadak tak tau harus berbuat apa.
Tiba-tiba, seseorang kembali datang dan menyapa Pak Dimas.
"Siang, Pak. Maaf, apa Jemima sudah selesai konsultasinya?" tanya orang itu yang tak lain adalah Fredy.
Jemima pun menoleh karena kembali dikejutkan dengan kehadiran pemuda tersebut.
"Ya, kami sudah selesai," sahut Dimas yang paham dengan maksud mahasiswanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami permisi. Ayo, ikut gue," seru Fredy sambil menarik tangan Jemima.
Gadis itu tak melawan. Dia hanya mengikuti kemana Fredy membawanya. Sementara Jessica dan Daisy yang juga sejak tadi mengintai di sana, ikut pergi ke arah Fredy dan Jemima berada.
"Si Imah pasti sakit hati banget deh," ucap Daisy.
"Salahnya sendiri. Udah dibilangin jangan nekat, malah nggak mau. Udah, kita lihat kondisinya dulu," sahut Jessica.
Mereka pun keluar dari area kantin. Fredy terlihat menuju ke parkiran. Namun, saat Jessica dan Daisy berhasil mengeja, keduanya sudah pergi dengan menggunakan motor vespa pemuda tersebut.
"Eh... mau kemana tuh mereka?" pekik Daisy.
Jessica melihat dari jauh bahwa Jemima nampak diam di kurs belakang motor antik itu. Sementara Daisy terus memanggil-manggil temannya.
"Gimana nih? Kita susul aja apa gimana, Nces?" tanya Daisy bingung.
"Keknya kita biarin dulu deh si Imah tenang. Mungkin Fredy bisa bikin dia lebih tenang. Kita tunggu aja," sahut Jessica.
"Lu yakin?" tanya Daisy.
Jessica terlihat diam dengan tatapan yang terus tertuju ke arah menghilangnya kedua orang tersebut.
Gue yakin si Fredy tadi berusaha nyelametin muka si Imah di depan Pak Dimas sama ceweknya, batin Jessica.
__ADS_1
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥