
Tiga pemuda terlihat sedang duduk bersantai di belakang panggung. Satu diantaranya meminum cola, dan dua yang lain menyegarkan tenggorokan dengan segelas bir dingin.
"Besok kalian dateng ke kosan gue ya," ucap Fredy.
"Kosan baru lu yang ada di Jak-pus kan?" tanya Husein.
"Hooh, gue mau undang kalian party kecil-kecilan sebelum gue berangkat. Sekalian bantuin gue packing," ucap Fredy.
"Lu jadi pergi minggu depan? Nggak nunggu sampe lu kelas wisuda dulu gitu?" tanya Jordi.
"Sidang skripsi gue udah selesai, dan hasilnya udah di transfer ke sana. Gue udah harus ngurus resgistrasi ulang di kampus baru sebelum penutupan akhir bulan. Jadi, mau nggak mau gue harus pergi sekarang."
"Dan lagi, lu tau sendiri semuanya gue dapet secara free dari pemerintah. Gue nggak bisa seenak jidat ngatur jadwal kek pake uang pribadi. Sekali jadwal gue berangkat, ya udah gue harus pergi dan bakalan lama balik lagi," tutur Fredy panjang lebar.
"Ya kalo gue sih paham-paham aja. Soal band, keknya kita juga bakal sibuk sama karir masing-masing kedepannya. Pasti bakal susah ngatur jadwal manggungnya," sahut Husein.
"Thanks ya bro," ucap Fredy.
"Kalem... nyantai aja lagi. Gue ke toilet dulu yak," sahut Husein.
__ADS_1
Pemuda berambut ikal mengembang itu lalu pergi meninggalkan sang vokalis dan juga keyboardist.
"Gimana sama si Imah? Lu nggak mau ketemu dia dulu?" ucap Jordi tiba-tiba.
Fredy yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba membeku dengan helaan nafas yang berat terdengar. Akan tetapi, pemuda itu seketika merubah ekpresinya seperti aktor yang sadar kamera.
"Ah iya, adek lu. Gue juga mesti ngucapin makasih buat dia kan. Kalo bukan karena dia, gue nggak bakal bisa secepet ini nyelesein penelitian. Sampein salam dari gue ya, thanks gitu udah bantuin cari lokasi yang pas," ucap Fredy.
Pemuda itu kembali menyetel senar gitarnya, dan mengalihkan fokus dari pembicaraan tadi.
Namun, semua itu bisa dilihat jelas oleh Jordi yang cukup lama mengenal Fredy.
Hal itu sontak membuat gerakan Fredy kembali terhenti.
"Lu ngomong apaan si...," elak Fredy.
"Gue tau lu suka ama adek gue. Gue bisa lihat itu dari sikap dan perlakuan lu ke dia. Dan gue yakin lu pun sadar kalo adek gue juga ada rasa sama elu. Iya kan?" sela Jordi cepat sebelum Fredy selesai berkilah.
Keduanya kemudian diam. Fredy bisa lagi menatap Jordi yang sejak tadi terus menatap tajam ke arah temannya itu.
__ADS_1
Jordi meneguk birnya setelah melihat reaksi Fredy yang dinilainya seperti seorang pengecut.
"Kalo bukan elu, gue pasti bakal mukul cowok cemen yang udah berani bikin adek gue kek orang aneh sekarang," ucapnya kemudian.
Fredy yang mendengar hal itu pun sontak menoleh dan melihat ke arah Jordi, seolah meminta penjelasan dari perkataannya tadi.
"Kita semua tau si Imah tuh kek gimana? Dia selalu totalitas, nekat, bar-bar, seenaknya sendiri, pecicilan, dan nggak mau diatur orang lain. Gue yakin lu nyadar kalo dia berubah banyak sejak deket sama elu."
"Cewek kek si Imah tiba-tiba nurut dan mau dengerin omongan orang lain, apa kalo bukan dia juga ada rasa sama elu, hah? Jadi cowok gentle dikit napa, Fred?" pungkas Jordi.
Fredy masih diam, sementara Jordi meneguk habis birnya. Dia sudah selesai membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang.
"Eh... lu mau kemana, Jor?" tanya Husein yang baru saja kembali dari toilet.
"Sorry, Bro. Gue keknya udah hampir oleng. Sebelum kobam, mending gue balik dulu. Bye," ucap Jordi.
Dia pun lalu pergi, sambil menepuk pundak Fredy yang masih diam, kemudian keluar dari tempat tersebut.
Bersambung... 🐥🐥🐥🐥🐥
__ADS_1