
Mereka berkumpul di ruang TV. Setelah 15 menit Karina meminta Yoona istirahat.
" Ingat ya rik jangan ganggu Yoona dulu..."
ucap Karina.
Erik cuek menggandeng tangan istrinya menuju kamar. Sampai di kamar Yoona membaringkan tubuhnya di tempat tidur Erik menyiapkan vitamin agar Yoona dapat dengan mudah meminumnya.
Yoona meminum obat yang di siapkan Erik.
Setelahnya Yoona membaringkan tubuhnya hendak tidur Erik tetap duduk di pinggir tempat tidur. Melihat istrinya yang akan tidur sambil memegang tangan Yoona, menunggui istrinya agar nyaman. Tidak merasa sendiri. Erik menyelimuti istrinya dan Yoona pun terlelap kemudian Erik mencium kening istrinya dengan penuh cinta. Erik menatap istrinya yang sedang tertidur tanpa hijab.
Ingatannya melayang ke beberapa waktu yang lalu. Dulu Erik mengagumi istrinya karena Yoona masih non muslim Erik menahan perasaannya.
__ADS_1
Setelah mengantar Yoona malam itu. Erik tidak pernah menyapa atau mengobrol dengan Yoona. Kalau pun bertemu di koridor rumah sakit Erik bersikap seolah seolah tidak mengenal Yoona. Hingga di hari itu Erik kaget melihat Yoona dengan busana muslimah menutup seluruh tubuhnya. Lengkap dengan kaus kaki. Erik menahan getaran di hatinya semakin rasa hatinya kuat semakin kuat pula Erik qiamullail ( sholat tengah malam ).
1 bulan pun berlalu Erik tetap teguh dengan qiamullailnya. Sampai siang itu Erika menghubunginya mengajak makan siang bareng Ahsan. Erika sudah memesan tempat VVIP. Agar nyaman bicara dan makan. Kami pun makan siang dengan lahap memang resto tempat kami makan terkenal dengan kelezatannya.
Erika membuka percakapan ia ingin aku taaruf aku jawab aku harus tahu dulu dengan siapa, Erika menyebutkan nama Yoona. Aku kaget. Makanan di mulutku seharusnya aku gigit hingga halus jadinya
tertelan dengan porsi besar. Aku pun tersedak. Erika memukul mukul badan belakangku sambil memberikan air mineral.
" Aku hanya terkejut ....apa dia mau sama aku...?.."
" Erik seharusnya kau meminta kepada Allah agar dia mau sama kamu, kamu minta agar hatinya hanya menyintaimu, kok malah ragu..." omel Erika.
Ahsan yang menyaksikan Erika mengomel ngomel dengan wajah kesal tersenyum bahkan tertawa kecil lucu melihat ekspresi Erika. Istriku menggemaskan batinnya.
__ADS_1
" Ya deh aku sholat istikaharah dulu...."
Erik melanjutkan makannya. Makan dengan lahap seakan ia harus menyiapkan pekerjaan berat. Erika melihatnya heran.
" Erik kau kenapa? kenapa makanmu begitu..? kau terlihat aneh.."
" Aku butuh energi jika di tolak aku kuat..." jawabnya asal. Erika melemparkan sendok garpu Erik menangkapnya sambil terus makan. Bagi Erik hal itu biasa karena kakek pernah melatihnya dengan mata tertutup dan kakek melempar pisau buah. Erik, Erika dan Adiba sudah terlatih untuk hal hal seperti itu. Ahsan yang kaget melihat interaksi kakak adik tersebut. Wow batinnya.
Makan pun selesai ketiganya berjalan beriringan. Kadang Erika memilin leher adiknya. Erik menepuk nepuk tangan kakaknya. Kadang teriak minta tolong Ahsan. Ahsan hanya tertawa melihat kelakuan mereka.
Erika menyetir mobil mengantar Ahsan kembali ke rumah sakit. Begitu juga dengan Erik. Tiba di rumah sakit bersamaan dengan ahsan. Mereka kembali berjalan beriringan. Beberapa dokter dan perawat menatap mereka penuh kagum. Keduanya tak peduli terus mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas beberapa perawat dan dokter ingin bergabung dengan mereka.
Ahsan duluan masuk keruangan. Ia pun pamit pada Erik akan masuk ke ruangannya. Erik pun berjalan ke ruangannya. Tiba di ruangan langsung ke jendela kaca ruangannya. Menatap langit kemudian bebungaan di taman yang mungil.
__ADS_1