Indonesia Dan Korea

Indonesia Dan Korea
Extra Part 2


__ADS_3

Temanku juga mengirimkan video abang ipar dan keluarganya. Surat kepemilikan rumah sudah di tangan perampok. Karena sudah tidak ada tersisa harta yang berharga. Untuk memastikan aku membayar dan mengirim detektif swasta untuk memastikan. Setelah tiga hari mata mataku memberikan informasi dan bukti, apa yang di katakan temanku tepat tidak ada yang meleset sedikitpun.


Aku tak tahu harus bersyukur atas kematiannya atau bersedih. Informasi yang aku terima valid. Setidaknya aku bisa bebas dari cengkramannya. Aku memohon pada Allah agar mengampuni dosa dosanya dan aku pun sudah memaafkan segala salah dan kekhilafannya.


Aku selamat karena aku tidak putus memohon pertolongannya. Sholat malam. Kepada siapa lagi aku memohon pertolongan? aku sendiri. Orang tua sudah meninggal dan aku anak tunggal. Dengan tiga anak yang masih butuh perhatian dan kasih sayang. Ternyata Allah menggantinya saat aku di negara lain.


Di negara ini aku bertemu jodoh yang kedua dan kebahagiaan untukku dan anak anakku.


Mengenang semua itu seolah membuka kembali kenangan yang penuh luka. Aku sudah mengubur semua itu dalam dalam. Sekarang aku bahagia dengan anak anakku. Allah sudah mengganti dengan yang lebih baik.


Oeeeekk Oeeekk Oeeeekk

__ADS_1


Suara tangisan anak Erika menyadarkanku dari lamunanku. Aku berdiri dari dudukku. Berjalan mendekati cucuku.


" Kenapa sayang? sini sama halmeoni ( nenek )....."


tanganku meraih tubuh mungil berusia 5 bulan tersebut. Tangisnya berhenti. Aku gendong cucuku aku bacakan ayat kursi dan albaqarah 1-5. Tak lama malaikat kecil tersebut tertidur. Perlahan aku letakkan tubuh mungil teraebut di box bayi. Dia tetap tertidur. Aku ambil anaknya satu lagi hal yang sama aku lakukan hingga tertidur. Tinggal satu bayi lagi fokus dengan ASI. Karena dua bayi sudah tertidur aku meminta baby sitter tersebut rehat di kamar belakang. Mereka mengangguk senang. Aku katakan aku akan membangunkan jika anak Erika terbangun.


Bagiku baby sitter dan asisten rumah tangga orang orang yang di perhatikan juga. Mereka juga manusia yang kadang lelah sama seperti majikannya.


Adiba sejauh yang aku lihat suaminya sangat menyayanginya. Selama hamil Adiba masih di bolehkan untuk di bekerja di Ha Entertaiment dengan deal setelah melahirkan di rumah. Bagiku tak masalah yang penting anak anak bahagia.


Erik usianya sekarang masih 25 tahun. Dia masih single. Di setiap akhir sholat malamku. Aku selalu mendoakan agar dia di berikan pendamping terbaik.

__ADS_1


Erik hanya ingin wanita korea yang sholehah. Entah dimana aku mendapatkannya mengingat negara ini negara non muslim. Aku sudah menyodorkan CV anak Imam masjid pusat Seoul. Erik belum menyentuh CV tersebut. Jodoh Erik sudah aku serahkan pada Allah SWT.


Aku mendekati cucuku yang masih fokus dengan ASI. Perlahan aku mengangkatnya dan meletakkan ke box bayi pagi.


" Istirahatlah...biar Mamah yang menjaga ketiganya.."


" Terima kasih mah..." Sebuah ciuman mendarat di pipiku. Dengan bergandengan tangan pasangan suami istri itu memasuki kamar Erika ketika masih gadis.


Aku tatap ketiga cucuku. Lalu duduk di kursi samping box. Dari pintu kamar David memandangku. Kemudian berjalan mendekatiku.


" Menjaga cucu hmmm?..." tanyanya. Aku mengangguk. David mencium kening istrinya.

__ADS_1


" Terima kasih telah mendampingiku...menualah bersamaku..."


__ADS_2