
Ahsan duluan masuk keruangan. Ia pun pamit pada Erik akan masuk ke ruangannya. Erik pun berjalan ke ruangannya. Tiba di ruangan langsung ke jendela kaca ruangannya. Menatap langit kemudian bebungaan di taman yang mungil.
Jodoh memang mutlak urusan Allah. Aku meminta kepada Allah agar Yoona menerima aku menjadi pasangan hidupnya.
Alhamdulillah 2 minggu kemudian aku memdapat kabar dari kakakku bahwa Yoona mau aku menjadi pendampingnya. Ia hanya meminta sebaiknya kami tak bertemu hingga di hari akad aku menyanggupinya. Orang tuaku datang untuk melamar Yoona tentu saja keluarganya kaget melihat appaku. Orang nomor satu sukses di Kota Seoul. Akad nikah di laksanakan 2 minggu lagi.
Selama dua minggu kadang aku bertemu Yoona di rumah sakit secara instansi kami masih dalam satu team kerja. Seperti biasa seakan kami tak saling mengenal. Senyum pun tidak. Para perawat dan dokter tidak tahu apapun tentang hubungan kami.
Saat akad itu mereka heboh katanya kapan pacarannya, kapan dekatnya dan berbagai komentar lainnya. Wajar di negara yang penduduknya memeluk agama non muslim mereka tak mengenal ta'aruf.
Tiba tiba undangan lebih baik seperti itu, dari pada pacaran atau tunangan setelah itu gagal tentu ini akan menjadi fitnah di kedua belah pihak termasuk di dalamnya terganggunya kehormatan, jika kedua belah pihak tunangan ternyata tidak berjodoh tidak menjadi fitnah dan pembicaraan orang orang kehormatan pun terjaga.
Di hari akad aku berlatih dengan perasaan tak menentu. Seperti ini lah rasanya ta'aruf kemudian akad ketemu kalo di tempat kerja selebihnya tidak ada. Tidak ada teleponan tidak kirim pesan. Full semua rasa di ungkapkan setelah menikah. Setelah akad nikah aku belum melihat Yoona. Akan resepsi aku baru melihatnya istriku sangat cantik. Ketika aku memandangnya dia menunduk malu. Acara resepsi berlangsung tak ada obrolan di antara kami. Ketika keluargaku meminta kami makan, makan siang khusus untuk pengantin aku pertama kali menyentuh istriku. Tangannya aku rasa dingin. Aku berharap tanganku juga tidak dingin juga. Malu.
Waktu makan kami masih tak banyak bicara. Sama sama masih malu walaupun sudah halal.
" Sayaanggg.."
Panggilan istriku menyadarkan ku dari lamunanku.
__ADS_1
Aku menoleh berjalan ke arah istriku.
" Ada apa hmm...?.." membantu Istriku duduk bersandar di kepala tempat tidur.
" Apakah ada buah..? aku ingin cemilan buah..."
" Sebentar aku lihat di belakang..."
Aku berjalan ke dapur. Kulihat ada eomma sedang memotong buah. Kebetulan batinku.
" Eomma apakah ada buah lagi....?.."
" Boleh eomma...."
" Untuk Yoona, Yoona pingin buah..." jawab Erik.
" Kamu juga harus makan buah, supaya kamu sehat juga kalau kamu flu Yoona juga flu tertular sayang cucu eomma..."
" Ye eomma...appa mana Erik belum melihat appa?..."
__ADS_1
" Ada di ruang kerjanya..."
" Kamu mau ngobrol dengan appa...?.." jawab Karina sambil mengupas kulit buah dan memotongnya meletakkan di piring.
" Ani...hanya sekedar menanyakan appa..."
" Bawa buahnya...Yoona mungkin sudah tak sabar ingin makan buah.."
" Gomawoe eomma...." jawab Erik sambil mencium pipi Karina.
" Eriiiikkk...kenapa cium cium istri appa...." ujar David sambil mengelap bekas ciuman Erik.
" Kenapa di tinggal sendirian eomma..?..." memasang wajah puas.
Karina tertawa melihat candaan suami dan anaknya.
Alhamdulilah semoga Allah tetap memberikan kebahagiaan kepada kami doa Karina.
Bagaimana Karina tidak bersyukur betapa banyak yang menginginkan posisinya. Rezki yang lebih kebahagiaan dan anak anak yang sholeh tidak ada yang bermasalah.
__ADS_1