
Sementara itu di sisi lain.
Halo, namaku adalah Laura. Aku sudah duduk di bangku kelas 11 SMA.
Seperti biasa, setelah sepulang sekolah, kami yang beranggotakan dua orang bersama ibuku sedang makan malam di rumah. Ayahku pergi bekerja di malam hari dan akan pulang keesokan paginya.
Setelah makan malam usai, kami pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.
Tetapi, entah mengapa tepat pukul 0:00 aku mendengar banyak suara dari luar, dan itu mengganggu tidurku. Pada akhirnya aku terbangun dan karena terlihat penasaran, aku melihat ke arah luar melalui jendela di kamarku.
Kamarku berada di lantai dua, jadi aku bisa melihat ke arah luar melalui balkon yang tersedia di kamarku.
Karena masih merasa mengantuk, aku mengucek-ucek mataku untuk melihat ke arah luar.
Selagi aku sedang mengucek-ucek mataku, tiba-tiba suara teriakan terdengar dari jalan raya yang berada di depan rumahku, jadi aku mencoba membuka mataku untuk melihat ke arah sumber suara.
Aku tekejut dengan pemandangan di depanku.
"Hah, apa?...."
Semua orang sedang bertarung satu sama lain.
Aku yang masih setengah sadar, tidak mempercayai apa yang berada di penglihatan mataku, jadi aku kembali mengucek mataku barangkali jika ini adalah mimpi.
Tapi semuanya terlihat jelas setelah aku mencubit pipiku.
Aku bisa merasakan rasa sakit itu. Semua orang sedang melakukan tindakan kekerasan.
Ada salah satu anak kecil yang mengeluarkan banyak darah, sepertinya ada bekas gigitan di kakinya.
{Tidak... Apa? Anak itu mati?}
{Bukankah itu anak tetangga sebelah rumahku?}
Aku sedikit akrab dengan anak yang dikenali itu, dan kini aku menyaksikan sendiri melihat anak itu terbunuh oleh orang dewasa.
"Tunggu, aku harus menelepon polisi.." setelah dia selesai mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba anak kecil itu yang tergeletak di tengah jalan tiba-tiba membuka matanya dan mulai bangkit berdiri.
__ADS_1
"Itu... Apakah dia masih hidup? Syukurlah..." Dengan amat lega Laura bersyukur jika anak itu tidak kenapa-napa.
Tetapi setelah anak itu bangkit dan berdiri, dia melakukan gerakan aneh. Kulitnya yang tampak berubah dengan mata putihnya sedang melihat keseliling arah seperti sedang mencari sesuatu.
Tepat setelah dia menoleh ke berbagai arah, anak kecil itu melihat ke arahnya.
"Dia... Kenapa?"
Setelah melihat ke arahnya, anak kecil itu berlari menuju dirinya, tetapi itu semua terhalang oleh pagar rumahnya.
Anak kecil itu menabrak pintu pagar rumah dan bangkit lagi dan menabrakan dirinya lagi selagi melihat ke arah dirinya.
Aku yang kaget terjatuh ke lantai dan tidak mempercayai dengan kejadian yang baru saja aku lihat.
Kakiku gemetar ketakutan. Aku sungguh takut kepada anak itu. Dia pasti memiliki niat membunuh yang dalam.
Setelah aku tidak berani untuk melihat keluar, aku menutup pintu balkonku dan menggesarkan hordengku agar tidak terlihat.
Aku berlari ke arah bawah untuk menemui ibuku.
Aku berjalan ke arahnya untuk menanyai hal apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu, sebenarnya apa yang terjadi?...."
Ibuku hanya diam membeku sambil melihat ke arah Televisi. Aku menoleh ke arah televisi dan mendengarkan berita yang di siarkan itu.
"Ya, Permirsa kami memiliki berita dadakan terbaru yang penting untuk saat ini. Bencana virus yang tidak di ketahui dari mana asalnya, sedang menjangkit di berbagai negara. Pemerintah telah mengupayakan agar penularan virus tidak menyebar ke seluruh berbagai kawasan. Proses karantina saat ini sudah gagal. Virus menyebar dengan sangat cepat melalui gigitan oleh orang yang telah terinfeksi. Untuk itu pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk berada di dalam rumah. Jangan keluar rumah sampai bencana ini mereda, dan jauhi orang yang telah terinfeksi untuk mencegah penularan lebih lanjut. Ya sekian dari kami, dan sampai jumpa di berita terbaru."
Aku syok mendengar berita yang ada di televisi itu.
{Apa? Apa-apaan itu?... Virus? Penularan jika tergigit? Jadi anak yang tadi itu sudah tertular? Ada apa dengan semua ini. Aku sama sekali tidak mengerti!}
{Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ini. Ah, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa menjadi seperti ini? Oh, iya. Ibu}
Aku beralih melihat ke arah ibuku yang berada di pojokan dan mencoba membantunya berdiri untuk duduk di sofa.
Ibuku benar-benar syok atas kejadian itu. Aku pun sama dengannya, tidak tahu mengapa aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ini.
__ADS_1
Aku melihat ke arah ibuku dan mencoba menggoyangkan pundaknya untuk mendapatkan kembali kesadarannya.
"Ibu.. ibu..!"
Ibuku mendapatkan kembali kesadarannya, dan langsung memelukku.
Dia benar-benar terbebani akan kejadian ini.
"Laura, kamu tetaplah di sini! Ibu akan mengunci pintu dan jendela dengan rapat."
"Ah, ya. Baik!"
Ibuku pergi meninggalkanku dan menutup semua pintu dan jendela dengan rapat.
25 menit telah berlalu.
Ibuku kembali ke ruang tamu dan duduk di sampingku.
Kami berdua gugup dan tidak melakukan apapun di ruang tamu. Semua ruangan terlihat tertutup dan terlihat aman.
Tetapi setelah itu tiba-tiba lampu seluruh ruangan mati.
"Kamu tetaplah di sini! Ibu akan pergi ke dapur untuk mengambil lilin. Pegang ini." Dia memberikan sebuah pisau yang di pegangnya kepadaku. Aku menerima pisau itu dan ibuku pergi ke arah dapur.
Selagi aku sendiri di ruangan ini, aku menyalakan lampu hp ku untuk menerangkan ruangan ini.
5 menit telah berlalu, ibuku belum kunjung datang menemuiku.
Aku yang sedang berada di ruang tamu, tiba-tiba mendengar teriakan seseorang dari arah luar.
Karena terlihat penasaran, aku membuka tirai hordeng sedikit dan melihat ke arah sumber suara.
Aku terkejut setelah melihat seorang pemuda yang tidak tahu asalnya dari mana, menyapa diriku dengan tangannya.
Aku kembali menutup tirai hordeng itu, dan....
{Itu tidak mungkin... Siapa dia? Manusia? Seorang lelaki? Apakah dia telah terinfeksi?}
__ADS_1