
Sekitar kurang lebih dua puluh anak tangga yang harus ia lewati untuk mencapai lantai dua. Rio berjalan perlahan melewati anak tangga. Sesampainya di pijakan ke enam belas, dari situ dia bisa melihat arah depannya terdapat segerombolan zombie yang sedang melihat ke arahnya.
"Ohh~ Sekumpulan kroco lainnya."
Zombie-zombie yang dilihatnya itu berbeda dengan yang ada di lantai satu. Dibandingkan dengan di lantai satu, zombie dilantai dua memiliki kekuatan dua, tidak, bahkan tiga kali lipat dari sebelumnya.
Mereka membawa sebuah senjata di tangannya. Ada yang membawa pedang dan pisau, dan ada pula yang membawa anak panah yang sudah di lapisi oleh racun di bagian ujungnya.
Yah, tapi dengan kekuatan seperti itu, masih tidak bisa menutupi fakta bahwa zombie itu masihlah lemah di hadapannya.
Setelah dia melewati dan berpijak di anak tangga ke 18, zombie-zombie yang dari tadi memperhatikan dirinya, setelah mendengar suara "Serang!" dari dalam kamar, Zombie-zombie itu langsung berlari menuju ke arahnya.
"Hmm... Bisakah kamu keluar dan jangan bersembunyi seperti seorang pengecut?" Ucap Rio memberitahu gadis yang memberikan instruksi kepada zombie untuk menyerangnya.
Salah satu dari gerombolan zombie itu menembakan anak panah yang sudah dilapisi oleh racun ke arahnya, tapi Rio berhasil menangkisnya menggunakan katananya.
__ADS_1
"Hentikanlah perlawanan yang sia-sia ini! Aku akan memberimu kesempatan untuk menyerah, Gadis kecil!"
Selanjutnya, beberapa zombie yang memegang senjata menyerang ke arahnya dengan cara menebaskan senjatanya ke arah Rio yang sedang menahan serangan anak panah yang tertuju ke arahnya, tapi pada akhirnya Rio menghindari serangan itu dengan cara menundukkan kepalanya lalu mulai menusuk zombie yang menyerang itu tepat di bagian perutnya.
"Itu cukup berbahaya kau tahu."
Setelah ia selesai menusuknya, Rio menendang mayat zombie itu dengan tujuan melepaskan tusukan katana dari tubuhnya, lalu mulai menyerang zombie lainnya yang berada di sampingnya.
Sementara ia sedang menebas beberapa zombie yang berada di samping kiri dan belakangnya, anak panah kembali ditembakan menuju ke arahnya, Rio menghindari itu dan anak panah itu tertancap di pembatas anak tangga.
"Mati kau!" Ucapnya, setelah itu mengarahkan tangannya ke arah zombie penembak itu. Energi sihir seperti peluru keluar dari jari telunjuknya dan menembus kepala zombie itu.
Zombie yang tertembak itu terjatuh ke lantai, sementara Rio mulai menebas zombie yang ada di hadapannya.
Penghalang yang mengganggu kesenangannya telah di bereskan, jadi dia akan menikmati pertarungan ini dengan menggunakan sedikit kekuatannya. Tapi walaupun begitu, meskipun zombie yang dilawannya hanyalah berlevel rendah, dia tidak bisa menurunkan kewaspadaannya kepada serangan-serangan yang tertuju ke arahnya.
__ADS_1
Ada kemungkinan ini hanyalah sebuah jebakan mengingat gadis yang mengendalikan zombie itu memiliki aura yang besar dari makhluk dunia ini.
Dan juga, besar kemungkinan gadis kecil itu ada sangkut pautnya dengan makhluk misterius yang selalu mengawasinya.
Jadi untuk dari itu dia tidak boleh menurunkan kewaspadaannya terhadap sekitarnya. Setelah ia selesai menebas banyak zombie, mayat-mayat bertebaran di sekitar ruangan lantai dua, tepat tersisa satu zombie lagi yang ada di hadapannya. Rio menebas zombie terakhir itu, lalu mulai menaruh katananya ke dalam sarung yang ada di pinggangnya.
"Akhirnya selesai juga."
"Gadis kecil, aku akan memberimu kesempatan terakhir untuk menyerah." Ucapnya sambil melangkah mendekat ruang kamar yang di tempati gadis itu.
Setelah itu ia berhenti tepat di depan pintu kamar gadis itu berada, dan mulai memegang gagang pintu itu.
Setelah tidak terjadi apa-apa, Rio mulai membuka pintu kamar itu secara perlahan.
"Hei, cobalah berpikir secara baik-baik, jika--"
__ADS_1
Tepat setelah setengah pintu kamar terbuka, serangan secara tiba-tiba tertuju ke arahnya. Untungnya skill pertahanan pasifnya aktif, dan senjata itu tertangkis membunyi suara "TING" Seperti membentur benda keras seperti baja.