
"Ya. Aku lapar. Aku benar-benar lapar." Ucap Lilia Lavender dengan tersedu-sedu.
"Haahh." Rio menghembuskan nafasnya. Dia tidak menyangka jika alasan dari semua itu hanya karena seorang gadis yang sedang kelaparan.
Rio menatap Lilia Lavender dengan tatapan yang penuh belas kasihan, sementara Lilia Lavender membayangkan hal lain dari tatapannya itu.
"Tolong jangan bunuh aku. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku bersedia dijadikan sebagai tukang suruh-suruh mau itu membersihkan Rumah ataupun untuk mencari makanan. Tapi tolong jangan bunuh aku!"
"Hah.... Aku tidak akan membunuhmu kok. Ini terlihat seperti aku menindasmu gadis kecil." Rio merogoh kantungnya, mengambil sesuatu dari ruang penyimpanannya selagi sedang berbicara. " Sebenarnya aku hanya datang untuk meminta penjelasan kenapa kamu menyerangku. Tapi setelah mendengarkan pernyataanmu itu aku sedikit merasa lega....." Rio memberikan sapu tangannya kepada Lilia Lavender. "Ini ambilah dan seka air matamu itu!" Sang gadis menerimanya.
Rio benar-benar malu untuk mengungkapkannya tapi dia sebenarnya tidak ingin kejadian ini sampai tersebar luas ke bawahannya. Jika itu sampai terdengar ke telinga bawahannya itu. Mereka pasti akan mulai bergosip "Heee... Jadi Asgard-sama orangnya seperti itu ya. Dia suka menindas seorang gadis kecil."
__ADS_1
Berita semacam itu akan menjadi topik hangat di YGGDRSIL. Dan ketika ia mampir ke tempat itu, pandangan pertama mata orang-orang akan selalu tertuju ke arahnya. Rio sama sekali tidak menginginkan hal buruknya sampai tersebar ke bawahannya. Jadi untuk dari itu dia melakukan tindakan pencegahan dengan cara menjelaskan kesalahpahaman nya itu.
"Ah, ya. Terimakasih banyak, Tuan." Lilia Lavender menyeka air matanya dengan sapu tangan yang di berikan oleh Rio.
"Sama-sama. Setelah ini tujuan kau akan pergi kemana? Ah... Ya. aku belum mengetahui namamu gadis kecil. Siapa namamu?" Rio bertanya kepada Lilia Lavender, sebagai respon Lilia Lavender membungkuk dengan permohonan maafnya.
"Ya. Maaf selama ini aku tidak sopan. Ijinkan aku memperkenalkan diri." Lilia Lavender berdiri sambil memegang bagian gaun bawahnya, lalu.." Namaku Lilia Lavender, anda bisa memanggilku Lilia." Lilia Lavender membungkuk bak seperti gaya perkenalan bangsawan.
"Ohhh.. Kalau begitu namaku adalah Rio. Kau bisa memanggilnya dengan begitu." Respon Rio.
"Baiklah, Rio-sama. Ijinkan aku untuk menjawab. Tujuanku saat ini adalah pergi ke arah Utara untuk bertemu dengan pamanku."
__ADS_1
Setelah mendengar pernyataan itu, Rio mulai memandangi langit Utara yang berwarna hitam, lalu kembali menatap Lilia Lavender.
"Jadi begitu. Aku mengerti. Jadi sebenarnya kamu bukan makhluk dari dunia ini?" Ucapnya. Rio mendungkuk sambil memikirkan sesuatu.
"Ya. Anda benar sekali. Saya bukan berasal dari dunia ini. Tempat tinggalku sangat jauh. Berbeda dengan tempat ini, tempat tinggal saya terbentang di hamparan gurun yang gersang." Lilia Lavender menjelaskan tentang situasinya itu selagi Rio berfikir.
Setelah mendengar pernyataan itu, Rio penasaran dengan bagaimana Lilia Lavender bisa sampai ke tempat ini.
"Hmm... Aku memiliki suatu pertanyaan, bagaimana kamu bisa memasuki dunia ini? Apa mungkin ada suatu item yang dapat membuat Pintu GATE dari dunia lain terbuka?"
"Itu..." Lilia Lavender mendungkuk ke arah bawah, lalu kembali menatap Rio dengan mengucapkan kata yang terbata-bata. "Se- Sebenarnya beberapa hari yang lalu muncul sebuah gerbang yang tidak di kenal di taman istana. Pamanku memeriksa gerbang itu bersama dengan para kstaria lainnya. Setelah mengetahui kalau gerbang itu terhubung ke dunia lain, paman dan para ksatria lainnya bersiap-siap pergi untuk menelusuri isi dari kedalaman gerbang itu."
__ADS_1
Lilia Lavender mengalihkan tatapannya ke arah bawah, dia sama sekali tidak berani menatap Rio yang sedang menatap balik dirinya dengan tatapan yang serius. Ada perasaan Penindasan yang kuat dari tatapannya itu, membuat Lilia Lavender sama sekali tidak bisa menahan Penindasan nya itu.
"Lalu apa hubungannya gerbang itu denganmu?"