
"Ada seorang pemuda berdiri di depan gerbang rumahku. Aku harus segera memberitahukan ini kepada ibu."
Aku berlari menuju arah dapur dengan membawa smartphone untuk penerangan dan pisau untuk berjaga-jaga yang telah di berikan oleh ibuku.
Tepat setelah sampai di pintu dapur, aku berjalan ke arah ibuku yang sedang mencari sesuatu di lemari.
"Ibu, ada seseorang di depan rumah. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Laura pada ibunya.
"Hah, apa? Seseorang? Bagaimana mungkin ada seseorang yang selamat di sekitar sini."
Karena terlihat tidak percaya, aku menarik lengan ibuku dan mencoba pergi ke ruang tamu. "Ikut denganku, Bu..."
Aku kembali mengintip melalui hordeng dengan ibuku.
Orang itu kembali menyapaku dan ibuku. Dengan reflek Aku kembali menutup kembali hordeng itu.
"Halo, bukankah lebih baik jika kamu segera membukakan gerbangnya?" Orang yang berada di gerbang berteriak kepadaku dan ibuku.
"Apa yang harus kita lakukan Bu? Apa tidak apa-apa untuk membiarkannya masuk?" Tanyaku.
"Jangan! Kita belum mengetahui dia telah terinfeksi atau tidak. Lebih baik jangan membukakan pintu dan biarkan dia pergi dengan sendirinya." Ibuku dengan tegas menolak pernyataan ku.
"Uh, baik Bu."
Aku menuruti perkataan ibuku dan mengintip gerak-gerik dari pemuda yang ada di luar melalui hordengku.
Pemuda itu belum pergi dan masih terus berdiri di sana sambil kehujanan.
Pakaiannya basah kuyup akibat hujan.
Aku merasa kasihan dengan pemuda itu, tetapi aku harus menuruti perkataan ibuku untuk tidak membukakan pintu untuknya.
Aku duduk di sofa dan kembali bolak balik untuk mengintip keadaan di luar, sedangkan itu ibuku sedang menyalakan lilin di sekitar ruangan lainnya.
Ketika aku duduk, aku kembali bangkit dan berjalan ke hordeng, mencoba mengintip ke arah luar melalui hordeng, tetapi aku terkejut dengan yang ada di luar.
{Pria itu... Menghilang?}
__ADS_1
{Apakah pria itu telah pergi?}
Tetapi setelah memikirkan itu, aku sadar akan kejadian aneh itu.
Benar sekali, pintu gerbang yang berada di rumahku terbuka lebar. Gemboknya juga berada di tanah.
{Apa?! Bagaimana mungkin! Itu... Dimana pria itu?}
Karena terlihat penasaran, aku mencoba melihat ke segala arah melalui kaca jendelaku.
Tidak ada siapapun disana, dimana pria yang tadi?
Ketika aku melihat ke arah samping kiri dan kananku, tiba-tiba sebuah wajah nongol dari arah depanku, kami berhadapan satu sama lain. "Halo... Bisakah kamu membukakan pintunya?"
Aku terkejut dengan penampakan pria itu, lalu dengan reflek menutup tirai hordeng dengan berteriak sambil mundur ketakutan. "Ahhh! Hantu!!"
Aku terjatuh ke sofa dan mencoba kembali bangkit.
Orang itu berada tepat di luar pintu ini, dan pada sat ini dia terus menggerakkan gagang pintu, tetapi pintu itu tidak terbuka karena masih terkunci dari dalam.
"Hei, gadis muda? Apakah kamu akan membiarkan tamu mu ini basah kuyup kehujanan di luar? Bisakah aku masuk?"
{aku harus memberitahukan ini kepada ibu, bahwa lelaki itu memaksa untuk masuk ke dalam rumah}
Untuk itu aku berlari menuju ke belakang untuk mencari ibuku.
Setelah mencari ruangan demi ruangan, aku akhirnya menemukan ibuku yang sedang menyalakan lilin di ruang tengah.
"Ibu...." Sambil berlari mengarah ke ibunya.
"Astaga, kamu membuat ibu kaget saja. Ada apa Laura?" Tanya ibunya
"Hah... hah.." Laura mendungkuk untuk mengambil nafas, lalu.... "Lelaki itu berhasil memasuki halaman rumah!"
"Apa? Bagaimana mungkin dia bisa masuk?!"
"Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba menerobos pagar dan terus menggedor-gedor pintu untuk bersikeras masuk."
__ADS_1
"Cepat ikut ibu!" Ibuku menarik lenganku menuju ruang tamu dengan membawa pisau di lengannya.
Ruang Tamu.
Tidak ada suara dari luar. Susana di sana tampak hening. Tidak seperti apa yang aku ceritakan.
"Dimana? Tidak ada?" Ibuku sambil melihat dari balik hordeng.
Ibuku melihat ke segala arah, tetapi tidak menemukan lelaki itu.
Tetapi dia menemukan suatu kejanggalan. Gerbang rumahnya tiba-tiba terbuka, dan gemboknya pun telah hancur jatuh di tanah.
{Bagaimana ini mungkin? Apakah ini karena petir yang menyambar?}
"Hei, aku berada di sini..." Seseorang sedang berbicara dari balik pintu.
Ibuku yang sedang melihat dari hordeng, melirik ke arah balik pintu.
"Halo..." Sapa lelaki itu.
Ibuku terkejut setelah melihat seorang pemuda yang sedang duduk tepat di balik pintu.
"Ah, kamu! Apa yang kamu lakukan di situ?" Tanya ibuku ke lelaki muda itu.
"Aku hanya numpang untuk meneduh saja. Jika hujannya telah usai, aku akan segera pergi dari sini."
"Sana pergi! Kamu pasti telah terinfeksi! Kamu hanya akan menarik perhatian zombie di sekitar untuk segera datang ke rumah ini. Sana menjauhlah dari kami!"
"Huh, hujan darahnya telah berhenti." Gumam lelaki itu setelah melirik ke arah luar yang dimana hujan telah berhenti.
"Tunggu, apa maksudmu? Hujan darah?"
"Ya. Lebih baik kalian berdua tetaplah berada di dalam rumah. Karena hujannya telah berhenti, aku pergi dulu."
Lelaki itu pergi meninggalkan kami berdua, dan anehnya sebelum dia pergi, dia sempat mengunci gerbang rumah ini.
"Ah, dia telah pergi. Apa yang harus kita lakukan Bu?" Sambil melihat dari balik hordeng
__ADS_1
"Biarkan saja. Lagian kita tidak mengenal lelaki itu."
"Baik, Bu."