Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
Chapter 29 Krisis Makanan


__ADS_3

Ruang Makan.


Sesampainya di meja makan, Rio duduk di kursi yang bersebelahan dengan Santi.


Terdapat 2 orang pelayan yang berdiri di belakang mereka, dan adapun Koki yang sedang menata dan merapikan makanan.


Sarapan hari ini berbeda dengan hari sebelumnya. Makanannya pun terlihat sedikit yang sedang di pamerkan di meja makan.


Setelah koki pergi ke arah dapur, Santi mulai memegang sumpitnya dan mengambil makanan, lalu menyodorkannya ke arah Rio.


"Aaahh~ Biarkan aku menyuapimu sayang."


Rio yang menanggapi itu melihat ke arah sampingnya, lalu memakan sayuran yang di suapi oleh Santi.


"Bagaimana rasanya? Enak~?" Tanya Santi sambil menatap ke arah wajahnya.


"Rasanya... Sepertinya masakan ini kurang asin." Jawab Rio sambil mengunyah.


"Ah, iyakah? Biarkan aku mencobanya." Santi dengan tatapan kecewa setelah mendengar jawaban Rio, dan saat ini dia mencoba mengambil sayuran untuk di cicipinya.


"Emm, hambar... Benar, masakan ini kurang garam."

__ADS_1


Santi yang kecewa dengan masakan yang di berikan oleh koki di kediamannya itu, dia mulai memanggil koki itu untuk memberinya penjelasan.


Sang koki menceritakan tentang keadaan pangannya yang ada di dapur.


Menurut cerita yang diceritakan sang koki, semua persediaan stok makanan dan rempah-rempah maupun penyedap rasa semuanya tersisa sedikit yang tersedia di dalam gudang.


Semua makanan itu harus di bagi untuk para pelayan dan pengawal, mereka juga manusia dan butuh makan, jadi Santi mengerti tentang kondisi itu.


"Ayo silahkan di makan, aku pikirkan tentang kondisi ini nanti." Santi yang mencoba memberitahu Rio untuk melanjutkan makan.


Krisis makanan. Itu adalah hal yang penting yang harus di hadapi di bencana zombie ini.


Jumlah stok makanan yang ada di gudang juga terbatas. Jika semua itu di bagi oleh para pelayan dan pengawal yang bekerja di kediaman ini, itu semua hanya cukup untuk bertahan selama dua hari.


Dia harus mengambil keputusan, bagaimanapun juga dia bertanggung jawab kepada 18 jiwa nyawa yang bekerja di kediaman ini.


"Kamu juga makan, jika kamu tidak makan itu akan membahayakan kandunganmu." Rio yang mencoba menyadarkan Santi yang sedang melamun.


"Ah, ya. Aku makan." Santi mengambil makanan yang ada di depan dengan sumpitnya, lalu memasukannya ke dalam mulutnya sambil melamun memikirkan sesuatu.


Rio yang menyadari hal itu, mencoba mencairkan suasana tegang di ruangan ini.

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak berpikir, itu hanya akan menggangu kesehatanmu. Jika kamu butuh makanan, kamu bisa mengambilnya di dalam kamarku. Disana ada cukup lebih beberapa kardus sayuran dan daging untuk bisa di masak. Ah, ya. Di sana juga ada rempah rempah dan snack yang bisa untuk dimakan, suruh para pelayan untuk mengambilnya." Rio yang mencoba menenangkan suasana sambil mengunyah makanan.


"Benarkah? Terimakasih... Itu sangat membantu sayang." Santi yang mencoba berdiri sambil memeluknya.


Santi langsung memerintahkan kedua pelayan yang berada di belakangnya untuk segera mengambil kardus makanan yang berada di kamar Rio untuk segera di pindahkan ke gudang untuk stok persediaan makanan.


Beban yang ada di dalam pikirannya telah hilang. Bagaimana tidak, Rio menghawatirkan jika Santi terlalu banyak memikirkan sesuatu ketika sedang hamil, kondisi itu akan berdampak kepada sang buah hati kecil.


Justru itu Rio mencoba menghilangkan rasa gelisah Santi untuk tidak berakibat kepada anaknya.


Jika itu sampai terjadi, anaknya mungkin akan terlahir prematur dan dia sama sekali tidak menginginkan kondisi seperti itu.


"Tidak masalah. Itu semua bagian dari tanggung jawabku." Balas Rio dengan ekspresi tenang.


Bagaimanapun juga Rio telah berjanji pada Ayahnya Santi tentang harus menjaga putrinya ketika ayahnya sedang pergi ke luar negeri.


Tanggung jawab dari seorang pria benar-benar tidak boleh di remehkan, apalagi kata-kata itu di ucapkan oleh penguasa dari dunia Asgard sendiri. Rio pasti akan menepati janjinya dan tidak mungkin untuk mengingkarinya.


"Ah, ya. Sekali lagi aku berterimakasih padamu. Berkatmu bantuan makanan itu bisa menambah persediaan stok cadangan makanan kita."


"Tidak usah di pikirkan. Lebih baik kamu makan terlebih dahulu, tidak enak jika kamu menunggu makanan itu menjadi dingin."

__ADS_1


"Ya, aku akan segera makan." Santi berpaling pergi dan duduk di kursinya sambil menyantap makanan yang ada di depan meja makan.


__ADS_2