Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
Chapter 28 Pemandangan Pegunungan


__ADS_3

Pagi Hari. Pukul 5:30


Rio bangun dari tidurnya, dan bangkit pergi menuju ke arah balkon kamar.


Sedangkan untuk saat ini Santi masih tertidur di kamarnya. Ia sudah mengetahui kenapa Santi masih tertidur, penyebabnya adalah begadang yang sampai terlalu larut malam.


Untuk saat ini dia enggan untuk membangunkan Santi dan membiarkannya tertidur untuk beberapa jam.


Pemandangan di depan saat dia berdiri di balkon benar-benar indah.


"Pemandangan yang indah." Gumam Rio sambil memegang besi pembatas.


Menatap pegunungan dan tidak ada suara dari klakson maupun bau tidak sedap dari asap kendaraan, Rio benar-benar sangat menikmatinya.


Apalagi dia berfikir jika pemandangan itu di pandang sambil menikmati secangkir kopi dan memakan roti, itu pasti sangat lebih enak untuk menikmatinya.


Kebetulan di balkon itu terdapat kursi dan meja, jadi Rio duduk di salah satu dari kedua kursi itu dan merogoh ruang penyimpanannya.


Dia mengambil sebuah koran dan sebungkus coffe beserta peralatan pembuatan kopi dan menaruhnya di atas meja.


Sambil menuangkan air dan meracik kopi, pandangan ia teralihkan karena melihat burung-burung berterbangan menuju ke arah pegunungan.


Persiapan telah selesai, ia mulai meminum kopi itu sambil menggeser kan kursinya menghadap ke arah pegunungan.


*Sluruup... ahhh~*


"Ini enak. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku meminum kopi." Dia meminum kopi sambil menyilangkan posisi kakinya.


Rasa manis dari kandungan kopi dan susu itu, Rio sangat menikmatinya.

__ADS_1


Apalagi dia menikmatinya sambil menatap ke arah pegunungan yang begitu indah.


Dia berharap jika pemandangan ini akan terus ia nikmati untuk waktu yang lama, karena itu berkaitan dengan keinginannya di waktu kecil.


Waktu Rio kecil, ia pernah bercita-cita menjadi seorang Fotografer. Alasannya sangat mudah, ia sangat ingin menatap pemandangan alam yang indah.


Tetapi sayangnya cita-citanya tidak tercapai karena dunia mengalami bencana yang mengakibatkan ia terbunuh di tengah-tengah bencana zombie itu.


Untungnya ia berenkarnasi ke dunia yang penuh dengan aura energi sihir, dan melakukan petualangan di bebagai planet sambil meningkatkan kekuatannya.


10 Juta tahun telah berlalu, tetapi jika dihitung dengan waktu di bumi, itu dihitung menjadi 10,000 Tahun.


Dia kini telah menjadi kuat dan tidak terkalahkan. Satu persatu semua musuhnya ia habisi dengan tangannya.


Jujur saja, musuh yang pernah dilawannya cukup tidak layak untuk di sebut sebagai lawannya.


Bagaimana tidak? Rio melawan semua musuh itu dengan tidak bersungguh-sungguh, hingga pada akhirnya dia bosan dengan lawannya.


Masa lalunya tersegel oleh system' yang dia milikinya. Ia memaksa Sytem untuk membuka segel itu dan hasilnya Sytem menuruti ke inginannya.


Setelah semua ingatan itu memasuki ke dalam dirinya, ia mengingat tentang adik perempuannya.


Rio meninggalkan dunia Asgard dan memecah garis ruang dan waktu untuk pergi ke masa lalu demi bertemu dengan adiknya.


Hasilnya ia kembali kemasa lalu dan mencoba menyelamatkan adiknya dari bencana zombie ini.


Penyesalannya tentang adiknya, ia benar-benar menyimpannya di dalam hatinya yang paling terdalam.


Dan pada saat ini, Rio sudah berjanji akan melindungi adiknya dari segala macam ancaman yang dapat membahayakan keselamatan adiknya.

__ADS_1


Kembali ke Kenyataan.


Jam sudah menunjukan Pukul 6:35 Pagi.


Kalau ini hari biasanya, dia saat ini sudah bersiap-siap untuk berangkat pergi ke sekolah. Tetapi jangankan pergi ke sekolah, semua orang saja sedang bersembunyi akibat bencana zombie ini.


Bertahan hidup demi sepotong makanan, itu adalah kata-kata yang cocok di pakai untuk di keadaan seperti ini.


"Tidak baik loh meminum kopi selagi perut belum di isi." Seseorang berbicara dari arah belakangnya.


Rio menengok ke arah belakang selagi di posisinya.


Orang yang berbicara itu berjalan ke depan dan memeluk pundaknya dari belakang.


"Kau sudah bangun?" Tanya Rio sambil beralih menghadap ke arah depan.


"Aku baru saja bangun. Apakah kamu merindukanku?" Santi yang mencoba menggoda Rio.


"Tidak." Sepatah kata dari Rio dengan tidak berekspresi.


Melihat ekspresinya itu, Santi mengganti tampang cemberut dan menarik lengan Rio untuk mencoba menyentuh perutnya.


"Ada apa? Apakah kamu mengalami masalah dengan kandunganmu?" Tanya Rio dengan keheranan.


"Tidak. Hehe, aku hanya lapar." Santi yang mencoba menggodanya untuk kedua kalinya.


Santi menarik lengan Rio, dan....


"Ayo kita sarapan bersama sayang...."

__ADS_1


"Ya, sebentar. Aku akan menghabiskan kopi ku dulu." Rio mengambil kopi, dan menegukan tegukan terakhir dari sisa kopi dan bangkit berdiri untuk berjalan bersama Santi menuju meja makan.


__ADS_2