Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
chapter 30 Kebangkitan


__ADS_3

Sekitar lebih dari 10 menit telah berlalu setelah sarapan selesai. Pada saat ini Rio sedang menatapi kolam yang berisikan ikan mas dan sesekali dia melihat ke arah bayangan cermin air di dalam kolam itu.


Bayangan dari cermin itu menampaki dirinya. Sesekali ia melakukan postur senyum sambil menatap bayangan wajahnya itu, tetapi sayangnya sama sekali tidak berhasil.


"Lupakanlah...." Gumam Rio sambil beralih pergi ke arah taman yang terdapat meja dan kursi yang berada di sana.


Taman di sekelilingnya terdapat bunga-bunga yang sangat indah, mawar merah menderang bagaikan Matahari di sore hari.


Kata-kata yang cocok dengan pemandangan dari bunga itu, apalagi dia bisa melihatnya dari dekat.


"Apa kamu menyukai bunga mawar itu sayang?" Seorang wanita berjalan dari arah belakang dan pergi menuju arahnya.


"Hmm... Aku sama sekali tidak membencinya." Balas Rio sambil beralih pergi untuk duduk di kursi meja taman itu.


Santi mengikutinya dan duduk berhadapan di bangku kursi taman bersama dengan Rio.


"Kamu benar-benar tidak bisa jujur yah, sayang~" Goda Santi sambil menatap wajah Rio yang terlihat berbeda dari biasanya.


Udara di sekitar taman juga terlihat berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Tampak ada bekas dari embun di pagi hari dari semua tanaman yang ada di sekitar halaman. Sayang jika dia menyia-nyiakan pemandangan yang begitu menakjubkan itu.


"Apakah ada sesuatu yang lucu di wajahku ini?" Tanya Rio sambil menatap balik Santi.


"Ah, tidak. Hanya saja wajahmu itu benar-benar tampan~" Santi yang mencoba menggoda Rio dengan senyuman.


"Apakah aku bisa mengaggap itu sebagai pujian?"


"Oh, ya~? Kamu bisa menganggap nya begitu."


Ketika Rio yang merasa tidak terbiasa dengan tatapan Santi itu, sedangkan Santi yang masih terus menatapnya dengan senyuman, tiba-tiba ponsel yang berada di kantong celana Rio berbunyi.


"Ya, silahkan. Aku akan menunggumu di sini." Balas Santi dari kejauhan.


Rio mengangkat telepon itu yang merupakan panggilan dari adiknya.


"Kakak! Bisakah kamu pulang sekarang? Ada keadaan yang benar-benar gawat!" Rani yang mencoba berbicara tetapi dengan nada lantang dan terburu-buru.


"Tenanglah. Bicaralah dengan perlahan." Rio yang mencoba menyuruh adiknya bersikap tenang.

__ADS_1


"Baik." Setelah itu Rani mengambil nafas dan bersikap tenang, lalu menceritakan semua hal yang terjadi.


Menurut pada cerita yang di ceritakan oleh Rani, masalah utamanya terdapat pada ketiga temannya itu. Secara tiba-tiba mereka mengalami demam di waktu yang bersamaan.


Dalam ilmu kedokteran, penyakit itu bukanlah penyakit yang wajar, kecuali jika di tubuh mereka telah terserang oleh virus yang dapat menular di tubuh mereka.


Tetapi setelah Rio mendengar gejala-gejalanya, dia langsung mengetahui jika ketiga orang itu akan segera terbangkitkan.


Kejadian itu sama seperti Santi, yang dimana orang yang akan terbangkitkan akan mengalami demam seperti ini dulu sebelum satu hari mereka menjadi orang yang terbangkitkan.


Hal itu adalah hal yang biasa baginya, karena dia sudah pernah menangani satu kali dari kejadian seperti itu, dan pada saat ini, dia akan melakukannya lagi.


"Kamu tunggulah di rumah sekarang! Kompress dia agar panasnya menghilang, kakak akan datang sedikit terlambat."


"Ya, terimakasih kak."


Telepon telah di matikan, Rio menaruh kembali ponselnya di dalam kantong celananya.


Dia kembali berjalan ke arah Santi yang sedang duduk manis menunggunya.

__ADS_1


"Kau tetaplah berada di sini! Aku harus pergi ke luar sebentar."


__ADS_2