
Langkah kaki terdengar dari berbagai arah. Sepertinya para zombie sudah memakan umpannya.
Alasannya dengan terciumnya bau darah manusia, itu akan menarik perhatian para zombie untuk mengikuti jejak aroma darah itu. Insting indra penciuman zombie lebih tajam ketimbang insting manusia. Mereka pasti akan datang jika diberi sedikit makanan. Apalagi makanan favorit mereka adalah darah dan daging manusia, mereka pasti akan segera datang jika diberi sebuah umpan.
"Mereka datang!"
Suara erangan itu semakin dekat dan terdengar melalui telinga Rio. Semua orang pasti akan ketakutan jika mendengar satu erangan dari zombie. Apalagi suara ini sampai sebanyak itu. Jika manusia tersudut dalam keadaan seperti ini, mungkin mereka hanya bisa pasrah meratapi nasibnya terbunuh oleh zombie sebanyak ini.
Zombie-zombie itu mulai terlihat dari dua jalur jalan raya.
Zombie itu sangat banyak. Mereka sedang menuju ke arah tempatnya berada.
Jika dihitung melalui tangan manusia, kemungkinan jumlah itu mencapai ratusan. Belum lagi ditambah dengan zombie yang sedang datang kemari melalui gang. Dengan zombie sebanyak itu, kemungkinan mencapai jumlah penduduk satu desa.
Para zombie di gang mulai terlihat. Mereka sedang menuju ke tempat dimana ia mencium bau darah. Dan juga semua jalur ditutupi oleh lautan zombie. Itu seperti sebuah parade yang pernah ia lihat di jalan raya, tetapi ini terlihat sedikit berbeda dari itu.
Zombie-zombie itu berada pada jarak 10 meter dari tempat Rio berada. Mereka semua berdesakan setelah menyatu dengan gerombolan zombie yang berada di jalan raya.
Sekiranya zombie berada di jarak 4 meter diantara titik mereka bertemu, dan sekarang saatnya dia melakukan suatu tindakan pencegahan.
"Sekarang, waktunya untuk memanen kristal sihir!"
"Desperation Aura!"
Satu kalimat yang di ucapkan oleh Rio membuat para zombie terdiam di tempat mereka.
Mereka yang hendak menyerang melompat ke arahnya, semuanya terjatuh ketanah. Sesuatu terdengar erangan yang lebih keras dari sebelumnya.
"EEKKK!!"
"ARGHHHH!!"
"GRRWWHH!"
__ADS_1
Mereka semua tampak kesakitan.
Mereka melukai dirinya sendiri selagi melakukan erangan.
Darah kotor dari para zombie bercucuran keluar selagi mereka melukai dirinya sendiri.
Dan.... Setelah itu satu persatu mereka terjatuh tergeletak ketanah.
Zombie-zombie yang tergeletak itu tidak bergerak lagi. Setelah menunggu beberapa menit, teriakan itu sedikit demi sedikit mereda. Yang ada di sekitarnya hanya ada sekumpulan mayat dan darah hitam yang bercucuran di jalan raya.
"Pembersihan selesai!"
Semua area yang berada di sekitar tempat ini semuanya telah di bersihkan.
"Cukup banyak juga Magic Stone yang dihasilkan oleh para mayat zombie ini. Tapi.... Jika dilihat dari dekat, sepertinya tidak mungkin untuk mengambil core dari tubuh mereka."
Dia melihat ke area sekitarnya, darah hitam dan daging yang sudah membusuk berada di mana-mana yang membuat dirinya merasa jijik dan enggan untuk mengambil inti core dari tubuh mayat para zombie.
"Tapi mau tidak mau aku harus melakukannya..."
Dia terus mengeluh selagi mengambil Kristal sihir di tumpukan mayat zombie menggunakan belatinya.
10 menit telah berlalu setelah dia memungut Kristal sihir itu. Sekitar lebih dari 400 Magic Stone dari berbagai jenis warna telah ia kumpulkan dan semuanya di satukan di bahu jalan. Tapi kebanyakan Kristal sihir yang ia kumpulkan berwarna putih/transparan dan ada juga beberapa yang berwarna biru yang ia dapati.
"Huff... Akhirnya selesai juga."
Setelah mengumpulkan Magic Stone itu dan menaruhnya di satu tempat, dia memasukan semuanya di dalam ruang penyimpanannya.
"Pakaianku sekarang jadi kotor."
Dia memandang ke arah pakaian yang dikenakannya.
Penampilannya jika dilihat dari dekat berbeda dari sebelumnya. Dimulai dari tangan dan sendal serta bajunya, semuanya ada bercak darah hasil dari mengambil Magic stone dari tumpukan mayat zombie itu.
__ADS_1
Meskipun hasilnya sepadan dan dia mendapatkan kristal sihirnya, tetapi dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan yang terlihat kotor seperti ini.
Jika memungkinkan dia ingin melakukan suatu pekerjaan yang tidak terlalu merepotkan, di lain sisi dia tidak harus terbebani sampai seperti ini.
Seharusnya dia menggunakan sihir instan Death dari awal.
Jika harus memilih, dengan mudah Rio akan memilih sihir instan Death. Dengan begitu dia tidak harus mengotori tangannya.
"Cleaning!"
Angin kecil berhembus ke arahnya setelah dia mengucapkan mantra tersebut.
"Dengan begini sekarang sudah bersih."
Rio meregangkan otot-otot tangannya setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya.
Kelihatannya semua noda darah yang tertempel di tangan dan pakaiannya semuanya telah menghilang, itu semua berkat sihir pembersihnya.
Setelah dia cukup puas dengan keadaan tersebut, dia mulai melangkah menjauhi genangan darah itu.
Dia berhenti diantara jarak kurang lebih 200 meter dari tempat kejadian. Tepatnya di sebuah perempatan perlintasan jalan raya.
Dia menopang dagunya sambil berfikir.
"Hmm... Kemungkinan zombie di pusat kota lebih banyak di bandingkan di daerah ini."
Dia bergumam pada dirinya sendiri selagi berfikir.
Pusat dari kota ini yang dimana tempatnya keramaian banyak orang. Mau itu siang hari maupun malam hari, kebanyakan para penduduk kota di sekitar berkeliling kesana kemari untuk mencari sebuah hiburan.
Apalagi dia mengingat jika Pembukaan grand opening Mal yang baru saja di bangun di selenggarakan di daerah itu dua hari yang lalu. Pastinya terdapat banyak kerumunan yang sangat padat di tempat itu.
Tetapi.... Bagi kebanyakan orang tempat semacam itu adalah tempat yang sangat berbahaya. Karena ditempat itu sudah pasti zombienya lebih banyak dibandingkan dengan daerah ini. Dan kemungkinan peluang bertemu dengan zombie Mutant dengan level yang lebih tinggi tidak kecil.
__ADS_1
Karena dia ingin mencari makhluk yang lebih kuat untuk tujuan mendapatkan Magic stonenya, pada akhirnya dia dapat membuat sebuah keputusan.
".... Sudah kuputuskan! aku akan pergi ke pusat kota!"