
Sementara itu di kediaman rumah Santi.
Satu jam telah berlalu sejak kesadarannya berada di tubuh klonnya. Saat ini kesadarannya telah kembali lagi ke tubuh utamanya.
Dia pada saat ini sedang duduk di pinggiran kasurnya sambil memeriksa panel sistemnya. Menuju ke fitur penyimpanannya, dan mengambil satu buah Magic Stone berwarna biru yang ia dapatkan dari hasil melawan Zombie Mutant Tingkat tiga sebelumnya.
Dia mengamatinya secara menyeluruh...
"Hmm.... Terdapat aliran energi sihir dari dalam Magic stone ini." Rio menyipitkan kedua matanya fokus ke arah Magic Stone yang dia pegang. "Berbeda dengan Magic Stone berwarna putih sebelumnya, ini terlihat seperti--" Ketika dia ingin menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu luar kamarnya.
"Sayang.... Apakah kamu sudah bangun?" Tanya Santi yang mengetuk pintu dari luar kamarnya.
"Ya. Aku baru saja bangun." Rio menaruh Magic Stone itu di sampingnya. Sedangkan Santi membuka pintu kamarnya sambil membawa sebuah Tas yang terlihat gemuk di pundaknya.
"Hmm..." Dia memperhatikan Santi yang sedang membawa tas yang cukup gemuk itu. Selain dari bentuk tas itu, ada satu yang menarik perhatian dirinya. Yaitu sebuah katana yang terlihat gagangnya dari luar tasnya itu.
Sementara dia masih memperhatikannya, Santi menyadari dari tatapan wajah Rio yang terus menatapi tasnya itu.
"Ah... Kamu menyadarinya? Ini adalah barang-barang yang akan kamu bawa di perjalanan nanti." Dia baru saja menaruh tas gemuk itu di kasur dan mulai membuka resleting tas itu untuk memperlihatkan isi **********. "Aku juga membawa beberapa snack ringan untuk di perjalanan, dan juga aku membuatkan kamu bento. Jika kamu lapar, kamu bisa memakan bekal itu. Ah, iya. Aku membawa katana milik ayah untuk melindungimu. Kamu bisa melihatnya.... ini" Sebuah katana berwarna biru dengan Motif naga di sarung pedangnya baru saja ia terima secara hati-hati.
Setelah selesai ia amati secara sekilas, Katana ini memiliki Motif naga tidak hanya di sarung pedangnya. Kepala naga itu terlihat jelas di gagangnya setelah ia membuka sedikit kain hitam yang menutupinya. Dan adapun permata yang berada di tengah-tengahnya yang berkilauan berwarna kebiruan, seperti sebuah sovenir yang sangat mahal.
__ADS_1
"Apakah tidak apa-apa memberikan katana ini kepadaku?"
Bagaimanapun juga katana ini terlihat mahal. Dan juga sangat berarti bagi Santi. Sangat tidak mungkin jika ia mengambil barang berharga bagi Santi untuk dirinya sendiri.
Dan adapun dilihat dari matanya yang baru saja ia lihat, sepertinya Santi baru saja menangis. Semua orang pasti mengetahui jika orang yang habis menangis meskipun mereka menyembunyikannya pasti ada bekas yang tertinggal di matanya.
"Tidak apa apa-apa. Justru aku akan senang jika kamu membawa Katana itu bersamamu."
Senjata ini mungkin akan berguna jika melawan zombie. Tapi jika itu melawan monster tentu saja Katana ini tidak akan bisa bertahan lama.
Tetapi, jika saja ia menambahkan sedikit material ke dalam Katana ini dan mengubahnya menjadi sebuah item, mungkin itu dapat lebih berguna dan juga daya serang dan daya tahannya akan ditingkatkan. Bukankah itu akan sedikit lebih terlihat menarik? Hanya melapisi bilahnya saja dengan material seperti adamantine akan berubah menjadi sebuah katana yang terlihat sangat hebat. Mungkin itu adalah pilihan yang lebih relevan. Itupun juga tidak akan merusak keindahannya.
"Baiklah jika kamu memaksanya aku akan menerimanya." Dia menaruh katana itu di sampingnya.
Dia tersenyum sambil melihat ke arah katana yang berada di kasur. Setelah itu dia secara tidak sengaja sekilas melihat ke arah sebuah kristal yang sangat mengkilau yang berada di samping katana tersebut.
Ia menyadarinya dan berekspresi penasaran terus menerus menatapi kristal sihir tersebut. Rio tau jika Santi sangat tertarik dengan kristal sihir itu, jadi dia berinisiatif untuk memperlihatkannya.
"Apa kamu menyukainya? Kamu bisa mengambilnya jika suka."
"Ah, tidak-tidak. Aku hanya penasaran saja dengan benda cantik ini." Dia menggelangkan kepalanya. Walaupun dia menyembunyikannya sekalipun, dilihat sekilas juga Rio menyadarinya jika Santi menyukai Magic Stone itu.
__ADS_1
Sekali lagi pandangan Santi sedikit demi sedikit memperhatikan Magic Stone yang berkilauan itu. Hmmm.... Rio bertanya-tanya kenapa Santi tidak jujur saja dan terus terang jika menyukai benda tersebut dan dengan begitu Rio bisa memberikannya. Bukankah itu akan sangat lebih mudah daripada ketimbang yang saat ini.
Apakah dia perlu untuk diberikan dorongan untuk mengungkapkan kejujurannya itu. Seharusnya dia terus terang saja bagaimanapun juga Mata dan ekspresi Santi tidak bisa disembunyikan dari mata Rio. Inisiatif mungkin akan diperlukan di situasi saat ini.
"Buka tanganmu...." Rio memegang tangan Santi dan memberikan Magic Stone itu kepadanya.
"Eh--"
Sedangkan itu Santi yang merasa kaget secara tiba-tiba, menggelengkan kepalanya sambil menggenggam sebuah permata berwarna biru yang Baru saja di berikan oleh Rio.
Wajahnya tampak bahagia setelah Rio memberikan Kristal sihir itu padanya. "Anggap saja ini sebagai hadiah. Simpan baik-baik dan rawat benda itu."
Kristal sihir ini walaupun tidak dapat memiliki efek apapun, Yah itu bisa juga dijadikan sovenir untuk memanjakan mata.
Santi juga menyukai benda ini, jadi tidak masalah untuk memberikannya.
"Ah. Terimakasih..."
"Kalau begitu, akan akan pergi sekarang. Kamu tetaplah berada di dalam rumah dan jangan lupa jika ada keadaan mendesak kamu bisa memanggilku dengan walkie talkie yang telah aku berikan padamu."
"Eh,...." Santi beralih menghadap Rio dan menaruh permata itu di kasur. " Bisakah kamu tetap berada di sini lebih lama lagi?" Tanya Santi dengan tatapan berharap jika Rio ingin mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
Tetapi, permintaan itu ditolak oleh Rio secara halus nan lembut. "Maaf. Aku sudah berada di sini untuk waktu yang cukup lama. Adikku sedang membutuhkan perhatianku, dan di rumah hanya ada dua orang yang ada di sana. Sebagai seorang kakak, kamu harus membagi waktu dan menengok keadaan adikmu bila sedang sakit. Perhatian dari kakaknya sangat di perlukan untuk membantu kesembuhannya."
"Ah, ya kamu benar. Kamu adalah seorang kakak yang baik. Kalau begitu kamu cepatlah pergi untuk menemui adikmu. Dia pasti akan sangat senang jika kamu bertemu dengannya. Apalagi dia memiliki kakak yang sangat baik sepertimu."