Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
Chapter 60 Pertanyaan Yang Ambigu


__ADS_3

Sebelumnya, sebelum Nuke berteman dengan Putri, dia mengetahui Putri adalah orang yang sering bergaul dengan laki-laki ketimbang dengan perempuan. Putri memiliki sifat yang mudah marah jika seseorang mengabaikannya. Yah, sifat buruknya itu teman-teman sekelas mengetahui dan memakluminya.


Ini mengingatkannya dengan kejadian 5 hari yang lalu. Waktu itu ada seseorang wanita yang sedang menyebrang di perempatan ketika lampu sudah hijau. Kebetulan mobil yang di kenakan Nuke berhadapan dengan Wanita itu. Sang supir mengklaksoninya agar wanita itu cepat menyingkir dari tengah jalan, tapi sayangnya wanita itu menanggapinya dengan marah-marah lalu menunjuk ke arah mobil yang dinaikinya. Pada akhirnya supirnya turun dan berdebat dengan wanita itu.


Sifat Putri mengingatkannya dengan wanita keras kepala yang ada di dalam cerita itu, tapi dia memakluminya karena Putri adalah salah satu temannya.


Tapi tetap saja, sifat buruknya itu harus segera di hilangkan dengan secepatnya. Mungkin saja jika ada seseorang yang tidak bisa menerimanya, lalu mereka berdua berdebat dengan sangat keras. Tetapi yang lebih dikhawatirkannya lagi adalah mereka berdua berakhir dengan pertarungan. Untuk itulah dia akan mencoba tidak memanjakannya terlalu berlebihan dari biasanya.


"Yasudah. Jika kalian tidak ingin belajar, maka biar kita berdua saja yang akan belajar, sementara kalian tetap berada di dalam rumah."


Jika mereka berdua tidak ingin belajar sihir, maka akan lebih baik mereka tetap berada di dalam rumah. Daripada nanti mereka mengacau dan mengganggu dirinya dan Rani yang sedang belajar.


Oh iya, orang itu berkata jika akan mengajari sihir di di tanah lapang, tapi dia tidak mengetahui apa memang ada lapangan yang luas di daerah ini.


".... Apa kalian tidak keberatan dengan hal itu?" Sambung Nuke.


Putri tetap kekeh dengan keinginan egoisnya, samar-samar Nuke mendengar Putri menggerutu dengan cara menggesekkan giginya "Tch" Sementara itu Sabrina mulai merubah ekspresi berbeda dari sebelumnya.


Entah mengapa, dia bisa melihat ekspresi sabrina yang sedang gelisah menghadap ke arah Putri.


"Ah, kalau itu...... Gimana ini....?"


Sementara Sabrina tampak gelisah, ekspresinya menandakan mengajak Putri untuk menerimanya saja, namun Putri menanggapinya dengan emosi yang kian memuncak.


"Kau ikut saja Sana! Hmph...!! Sampai kapanpun, Aku tidak akan sudi belajar darinya. Aku lebih memilih tidak belajar daripada meminta tolong kepada orang itu!"

__ADS_1


Putri menaiki tangga dengan emosi yang dibawanya. Dia tidak menyangka sahabatnya sendiri yaitu Sabrina malah tidak berpandangan sama sepertinya.


"Dia memang keras kepala. Bagaimana denganmu?"


Ini adalah sebuah pelajaran untuknya agar berubah. Sikapnya itu yang egois mementingkan dirinya sendiri Nuke sangat tidak menyukainya. Dengan adanya kejadian ini Nuke berharap Putri bisa belajar untuk menghargai seseorang. Begitu pula dengan Sabrina. Dia sengaja mengucapkan kata itu untuk membuat mereka berdua memutuskan pilihannya. Sementara Putri menolak ajakannya, Sabrina mungkin akan menerimanya karena melihat sebelumnya dia tertarik dengan sihir.


Mau bagaimanapun, Sabrina tidak bisa menyembunyikan isi hatinya.


"Ah... Sepertinya aku akan menerimanya. Ahahaha" Sabrina tertawa kecil.


Benar saja, dia akan langsung menerimanya.


"Pilihan yang tepat. Kalau begitu nanti sore aku akan mengajarimu hal dasar yang telah diberikan pria itu kepadaku."


Yah, pada akhirnya dia mengucapkannya. Itu mungkin sudah menjadi takdirnya untuk mengingatkan Putri agar menghilangkan kepribadian buruknya. Nanti dia akan memikirkan cara untuk berbaikan dengannya. Tapi sebelum itu...


"... Kembali ke topik awal. Tadi sampai mana ya kita tadi?"


Dia terlalu fokus ke masalah saat ini sampai melupakan topik sebelumnya yang lupa dia bahas.


Ini adalah kebiasaan buruknya yang selalu kelupaan ketika mementingkan masalah penting dan melupakan masalah sebelumnya.


Kebiasaanya yang buruk itu harus segera dihilangkan, jika tidak dia akan berakhir sama seperti Putri.


Tapi sebelum dia berpikir terlalu jauh, pada akhirnya dia mulai mengingatnya.

__ADS_1


"Ah, ya. kalau tidak salah sampai seseorang yang terbangkitkan, tapi tanpa gejala."


Rani membalasnya dengan klise sambil memperhatikannya. Lalu dilanjutkan oleh Nuke membahas topik sebelumnya.


"Sepertinya begitu."


"Aku tidak bisa memastikan kalau kamu benar-benar terbangkitkan. Tapi, mengingat ada sesuatu yang berbeda pada kondisi tubuhmu, mungkin saja jika kamu benar terbangkitkan. Tapi mungkin kamu bisa bertanya kepada kakakmu itu untuk memastikan kebenarannya."


Orang itu pasti mengetahui kejadian ini. Tidak mungkin kan dia tidak menyadari fenomena aneh yang terjadi pada Rani?


"Ya, ya. Tadi juga sebelumnya kakak mengatakannya kepadaku kalau aku sepertinya bisa menggunakan sihir."


Seperti yang sudah diduga.


"Benarkah? Apa kakakmu itu bilang kepadamu kalau kamu adalah orang yang terbangkitkan?"


"Tidak. sepertinya kakak tidak bilang begitu."


Hmm... Jika orang itu tidak bilang begitu. Apa maksudnya Rani bisa menggunakan sihir sementara dia bukanlah salah satu dari orang yang terbangkitkan? Apa arti dari itu? Apa maksud dari ucapannya?


Tidak mungkin kan jika manusia bisa menggunakan sihir mengingat orang itu bilang jika hanya orang yang terbangkitkan saja yang bisa menggunakan sihir. Lalu mengapa Rani bisa mempelajarinya?


Setelah dia terlalu lama memasuki alam bawah sadarnya itu, akhirnya dia kembali kepada kenyataannya.


"Ah... Selama kakakmu itu bilang begitu, sepertinya memang itu kebenarannya."

__ADS_1


__ADS_2