Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
Chapter 36 Tanda-Tanda Kebangkitan


__ADS_3

Pagi Hari, Kediaman Rumah Rio.


"Rani, kakak pulang..." Ucap Rio sambil membuka pintu rumah.


Setelah membuka pintu depan rumah, pemandangan pertama kali yang ia lihat hanya ada Tv dan sofa yang berada di depannya.


Tampak tidak ada seorangpun yang duduk di sofa, hanya ada keheningan yang ada yang menyelimuti ruangan ini.


"Dimana mereka semua?" Gumam Rio sambil melangkah menuju ruang tamu.


Setelah Rio berjalan ke arah sofa, terdengar suara bising dari lantai atas, tepatnya dari kamar Rani.


Untuk itu Rio yang hendak duduk di sofa, kini beralih pergi ke lantai atas untuk bertemu dengan Rani.


Tepat setelah dia melewati tangga, Rio kembali menggunakan skill mata tembus pandang untuk melihat siapa saja yang berada di ruangan itu.


Setelah mengidentifikasi isi dari ruangan tersebut, dia kembali menonaktifkan skillnya, lalu segera bergegas menuju ruang kamar.


Dia mengetahui jika Rani dan teman perempuannya berada di dalam kamar adiknya.


Ketiga temannya sedang tertidur dan mereka sepertinya mengalami demam.


Setelah berjalan melewati tangga, Rio akhirnya telah sampai di pintu luar kamar Rani, dan sedang mencoba mengetuk pintu kamar.


*Tok-Tok-Tok* suara ketukan.


"Rani... Ini kakak."


Tiga ketukan telah berlalu, tidak ada suara dari dalam kamar.


Ketika dia hendak mengetuk lagi pintu kamar, tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar yang menyebut dirinya.


"Masuk saja kak, pintunya tidak terkunci kok."

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Rio memegang gagang pintu dan membukanya hendak masuk ke dalam.


Di dalam kamar, terdapat ketiga temannya yang sedang berbaring di tempat tidur.


Rani yang sedang mengganti kompresan ketiga temannya, melihat ke arah kakaknya dan menyuruhnya untuk mendekat.


"Kakak, kesini!"


Rio merespon itu dan segera mendekat untuk memeriksa keadaan mereka.


Dilihat dari dekat, keadaan mereka sangat memprihatinkan.


Kedua gadis itu sedang tidak sadarkan diri. Panas, keringat dingin dengan tubuh pucat, itulah yang saat ini Rio lihat kepada ketiga wanita ini. Tetapi, gadis yang bernama Nuke ini berbeda dengan yang lainnya. Walau di keadaan kritis seperti ini, dia masih bisa menggerakan matanya dengan keadaan setengah sadar.


Matanya yang setengah terbuka itu melihat ke arah Rani yang sedang mengkompreskan kain di dahinya, dia secara sengaja menggerakan tangannya untuk meraih Rani.


Tangannya yang begitu gemetar dan lemas meraih lengan Rani. Sedangkan itu Rani yang menyadari jika Nuke berada dalam keadaan setengah sadar, meresponnya dengan memegang tangannya. "Tolong tunggu sebentar, kakak telah tiba di sini, dia pasti akan menolongmu." Respon Rani kepada Nuke yang dalam keadaan setengah sadar.


Setelah itu Nuke membalas respon Rani dengan mengucapkan suara kaku yang kurang begitu jelas sehingga Rani tidak mengerti kata-kata yang di ucapkannya. "R-aaa...nrrff"


"Kakak, bisakah kamu memeriksa mereka? Sejak pagi tadi mereka sudah seperti ini." Tanya Rani kepada kakaknya.


"Sebentar, biar kakak periksa dulu." balas Rio.


Rio mulai menggunakan skillnya untuk memeriksa ketiga tubuh gadis itu. Dan benar saja, ketiganya mengalami keadaan yang sama seperti Santi.


Terdapat aliran energi sihir yang berada di dalam tubuh mereka, tetapi aliran itu tersumbat sehingga tidak mengalir ke seluruh tubuh.


Ini adalah gejala awal dari kebangkitan.


Seperti yang sudah Rio duga, mereka bertiga akan segera di bangkitkan. Tetapi karena ada sumbatan di tubuhnya, itu akan menghambat untuk kebangkitan mereka. Jika ini tidak di atasi segera mungkin, kemungkinan terbesarnya mereka bertiga akan mati.


"Bukan masalah besar, kakak bisa menyembuhkan mereka."

__ADS_1


"Benarkah? Syukurlah." Rani yang merasa senang sambil bersyukur jika temannya bisa terselamatkan.


Rio mulai menyentuh telapak tangan Nuke untuk memperbaiki sumbatan itu. Sedangkan Nuke yang masih keadaan setengah sadar, menyadari tangannya di sentuh oleh Rio, dia meresponnya dengan mengucapkan kata-kata yang kurang begitu jelas.


"Thoo--lonh--ng"


"Tenang saja, kamu akan segera sembuh. Diamlah sebentar lagi, semuanya akan segera selesai."


Sambil membantu menghilangkan sumbatan energi Nuke, Rio juga melakukan hal yang sama kepada kedua gadis lainnya.


Setelah beberapa saat kemudian, panas dalam tubuh ketiga gadis itu sudah mereda, dan kini mereka sudah merasa lebih baik. Mereka bertiga saat ini sedang tertidur dengan nyenyak setelah seluruh tubuhnya di aliri energi sihir yang cukup membuatnya terasa nyaman


"Mereka sekarang sudah baik-baik saja, biarkan mereka bertiga beristirahat terlebih dahulu."


Setelah dia selesai mengucapkan katanya, seseorang membuka pintu kamar ini dan segera memasuki kamar.


Orang itu adalah Marsya dan ibunya yang sedang membawakan bubur yang berada di kedua tangannya.


"Kakak, buburnya sudah siap." Ucap Marsya.


"Ah, taruh saja di sini." Balas Rani.


"Baik!" Marsya menerima instruksi Rani dan menaruh bubur itu di atas Laci.


Setelah menaruh bubur, Marsya berjalan menghampiri ketiga saudari yang masih tertidur.


"Bagaimana keadaan kakak Nuke, kakak Putri dan kakak Sabrina? Apakah sudah lebih membaik?" Tanya Marsya.


"Ya, mereka akan segera siuman dalam beberapa menit lagi." Balas Rio.


"Syukurlah..." Marsya dan ibunya mengucapkan puji syukur dan merasa lega.


"Kalian tetaplah di sini sampai mereka siuman, aku ingin pergi ke kamarku untuk beristirahat."

__ADS_1


"Ah, ya. Kakak pasti merasa lelah setelah mengalami perjalanan panjang. Silahkan kembali ke kemar untuk beristirahat dengan baik." Balas Rani pada kakaknya.


Rio berjalan membuka pintu kamar, dan menutupnya kembali. Dia saat ini segera pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.


__ADS_2