Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
Chapter 71 Meminta Belas Kasihan


__ADS_3

Seseorang dengan kecepatan melebihi suara tepat mendarat di depannya. Lilia Lavender yang terkejut dengan kemunculan pemuda yang berada di depannya itu terjatuh ke aspal sambil gemetar ketakutan. Gadis kecil itu mundur dengan masih berada di posisinya.


"Jangan mendekat!" Lilia Lavender mundur dengan mendorongkan kaki kanannya ke arah aspal dan dibantu oleh kedua tangannya sementara pemuda itu berjalan maju mendekatinya.


"Hiiih.... Jangan mendekat!"


"Hei, aku sudah memberimu kesempatan untuk menyerah tapi kenapa kamu tidak memilih pilihan itu?"


Sementara Pemuda itu berbicara, Lilia Lavender yang sudah kehabisan tenaganya untuk mendorongkan tubuhnya menjauh dari pemuda itu kini telah pasrah diam di tempatnya.


Pemuda itu berhenti tepat di depannya. Lilia Lavender mendongkak untuk melihat wajah dari pemuda itu yang pada saat ini berekspresi senyum yang menyeramkan dari sudut pandangnya.


"Jadi.... Apa alasanmu melakukan hal seperti itu gadis kecil?"


Lilia Lavender gemetar. Seluruh tubuhnya merinding ketakutan membayangkan kejadian selanjutnya.


Dia melihat ke arah pinggang pemuda itu yang terdapat katana yang telah menghabisi klon dan Monster pemanggilnya.

__ADS_1


Lilia Lavender membayangkan jika pedang itu akan menusuk jantungnya setelah apa yang ia perbuat kepada pemuda itu sebelumnya.


Skakmat. Dia tidak bisa melarikan diri lagi kemanapun. Lilia Lavender telah menyadari kalau sebenarnya dari awal dia sama sekali tidak bisa melarikan diri dari pemuda yang ada di depannya itu.


Dia hanya berputar di dalam permainannya sendiri. Lilia Lavender seperti sebuah bidak catur yang sedang menantang seorang Raja.


Matanya kosong sambil menatap ke arah langit. Meratapi kebodohannya itu yang telah menantang dan menyombongkan kekuatannya kepada orang yang salah.


Lilia Lavender telah menyesal telah melakukan perbuatan yang tak seharusnya kepada lelaki itu.


Dia telah menyesal karena perbuatannya itu dapat membuatnya berakhir menjadi seperti ini. Hingga pada akhirnya....


"Ehh.... Gadis kecil. Jangan menangis."


Lilia Lavender menangis dengan sekuat tenaganya yang tersisa. Mengeluarkan air matanya yang sudah tidak bisa terbendung dihadapan pemuda itu.


"Kenapa kamu menangis? Ini terkesan seperti aku membullymu gadis kecil." Rio bingung dengan sedikit panik setelah melihat gadis yang berada di depannya menangis secara tiba-tiba. Sementara Lilia Lavender berkata sambil mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


"Setelah ini pasti kamu akan membunuhku kan?"


"Ehh... Apa kau berpikir seperti itu?"


"Pastinya... Bagaimana mungkin setelah apa yang telah aku lakukan kepadamu kamu akan melepaskan ku..... Aku minta maaf telah melakukan hal buruk kepadamu. Aku minta maaf telah melakukan itu. Aku terpaksa melakukan semua itu karena aku kelaparan."


"Jadi seperti itu... Alasan kamu melakukan semua itu hanya karena merasa lapar?" Rio sedikit mendungkuk dan menatap aspal. Jadi alasan mengapa gadis itu melakukan semua ini kepadanya hanya karena ingin mengambil darahnya.


Jawaban yang di keluarkan oleh gadis kecil itu terlihat masuk akal menurut Rio. Sebab jika dilihat dari mata gadis itu yang berwana hitam dan pupilnya yang berwarna kemerahan, terdapat Ras campuran antara Ghoul dan Vampir. Perbedaan genetik itu terlihat jelas dari sudut pandangnya.


"Ya. Aku lapar. Aku benar-benar lapar." Ucap Lilia Lavender dengan tersedu-sedu.


Sementara Rio merasa lega dan sedikit terkejut setelah mendengar ucapan gadis itu, sang gadis menanggapinya dengan serius.


"Haahh." Rio menghembuskan nafasnya. Dia tidak menyangka jika alasan dari semua itu hanya karena seorang gadis yang sedang kelaparan.


"Aku mohon. Tolong jangan bunuh aku. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku bersedia dijadikan sebagai tukang suruh-suruh mau itu membersihkan Rumah ataupun untuk mencari makanan. Aku juga bersedia melakukan pekerjaan kotor. Tapi tolong dengarkan permintaan egoisku ini, tolong jangan bunuh aku!"

__ADS_1


Lilia Lavender telah pasrah dengan nasib yang akan dia dapatkan kedepannya. Ya, semua itu demi keberlangsungan hidupnya. Dia rela menjual tubuhnya demi bisa mendapatkan belas kasihan oleh pemuda yang ada di depannya itu.


__ADS_2