Invincible In Apocalypse

Invincible In Apocalypse
Chapter 84 Kesombongan Para Immortal


__ADS_3

Mereka berdua melayang di langit pada ketinggian 15 meter di atas tanah.


Asap dan debu dari hasil serangannya itu membuat penglihatan mereka terkecohkan, tetapi Jiang Chiyu mengibaskan tangannya dan dalam sekejab asap itu menghilang dari pandangan mereka.


Setelah asap menghilang, Tetua Mo, Jiang Chiyu dan Jiang Luo bersama Saudara/Saudari lainnya melihat ke arah lelaki itu berada. Tapi sebelum ia melihat ke arah Rio, seorang wanita mengenakan pakaian Kimono dengan katana yang sudah bersiap untuk menyerang terlihat berada di depan Rio sehingga membuat mata mereka kembali terkecohkan.


"Rio-sama. Maafkan saya karena datang terlambat. Ada sedikit masalah ketika berada di kediaman wanita itu sehingga saya datang terlambat untuk menemui anda." Ucap Wanita misterius itu dengan berlutut ke arah Lelaki itu.


"Kau bisa menjelaskannya nanti setelah permainan ini telah usai. Tapi sebelum itu bisakah kau tidak ikut campur dalam pertarunganku ini, Asura?" Jawab Rio kepada Wanita Misterius itu.


"Tunggu sebentar Rio-Sama. Ijinkan hamba untuk menghadapi mereka, dan terlebih lagi sudah tugas hamba sebagai pelayan setia Rio sama untuk dijadikan tameng hidup yang akan berguna untuk anda, Rio-sama."


"Jadi maksudmu aku tidak mungkin bisa mengalahkan para sampah ini?" Rio menatap tajam Asura yang berada di depannya. Sementara itu Asura mengalihkan pandangan matanya untuk menghindari tatapan tajam itu.


"Tidak, Saya tidak berani. Maksud saya anda adalah makhluk tertinggi di YGGDRASIL, jika ingin melawan makhluk agung seperti anda, lawan juga ada batasannya."


"Ha ha ha. Sepertinya mereka bahkan lebih buruk dari sampah." Rio tertawa kecil dengan terpaksa dan candaannya itu terdengar hingga ke telinga Tetua Mo dan Jiang Chiyu yang berada tidak jauh dari lokasi.


"Sombong juga kau! Ucapanmu sama sekali tidak ada rasa hormatnya kepada yang lebih Tua." Ucap Tetua Mo. Setelah itu ia melakukan Transmisi suara dengan Jiang Chiyu untuk memastikan pemuda yang ada di depannya. "Chiyu, apa kedua orang ini yang kamu ceritakan tadi?" Mata mereka saling bertemu disaat melakukan transmisi suara. Lalu Jiang Chiyu membalasnya dengan mengangguk.

__ADS_1


"Ya, tidak salah lagi. Kedua orang ini yang sudah menghancurkan Artifact tingkat atas keluarga Jiang kita."


Sementara itu Rio yang mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Tetua Mo, mulai merasa bosan dan sedikit kecewa dengan lawannya.


"Lebih tua? Apa kau membuatku tertawa?" Ucap Rio, Sebagai respon Tetua Mo melihat ke seluruh penjuru tubuh Rio menggunakan skillnya. Lalu setelah mengetahui hasilnya ia mulai tertawa.


"Apakah ini semacam lelucon bagimu? Dengan sekali lihat juga aku bisa mengetahui dari tulangmu itu jika kau hanya berada di umur kurang dari 100 tahun."


Mendengar pernyataan itu, Asura yang sudah geram ketika nama Tuannya direndahkan oleh Tetua Mo, Bangkit berdiri dan menunjuk ke arah tetua Mo dengan katananya.


"Makhluk rendahan! Ucapanmu itu sangat tidak sopan sekali ketika berhadapan dengan Entitas Tertinggi!!" Ucap Asura Dengan marah, lalu ia kembali berlutut di hadapan Rio untuk meminta persetujuan. "Rio-sama, ijinkan hamba untuk membunuh pria tua paruh baya itu. Orang itu sudah berani menyebut nama anda dengan tidak sopan."


"Ha ha ha ha.... Mampuslah kau mortal! Tetua dari keluarga Jiang kami telah turun tangan. Bahkan jika kau memohon untuk meminta belas kasihan, aku akan tetap membunuhmu dengan rasa sakit 10x lipat dari apa yang aku rasakan saat ini!"


Mendengar perkataan itu, Asura kembali meminta ijin kepada Tuannya untuk membunuh Jiang Nian. " Rio-sama, Apa hamba boleh membunuh wanita ****** ini?"


"Tidak. Ini adalah pertarunganku. Kau tidak boleh ikut campur di dalam pertarungan ini!" Rio membalasnya dengan menggelengkan kepalanya, tetapi di lain sisi Asura tetap bersikeras dengan keteguhan hatinya. Walaupun lawan mereka hanyalah sekumpulan semut, tapi tidak ada yang mengetahui apa ada item berbahaya yang di bawa oleh mereka. Namun keinginan egoisnya itu ditolak dengan tegas oleh Rio dengan menatap tajam ke arahnya.


"Tetapi Rio-sama..."

__ADS_1


"Apakah kau menentang keputusanku ini?!" Ucap Rio dengan kembali menatap tajam ke arahnya. Asura yang melihat itu langsung menundukkan kepalanya untuk meminta maaf dengan menyesali perbuatannya.


"Hamba tidak berani. Maafkan hamba karena telah bersikap lancang tadi." Asura menghilang dalam sekejab menjauh dari area pertarungan dan mengamatinya dari kejauhan. Sementara itu Jiang Nian yang sudah kesal di acuhkan oleh Rio di saat ia sedang berbicara, membuat emosinya makin memuncak dan pada akhirnya.


"Hei kau Mortal! Beraninya kau mengabaikan ku. Yah mau bagaimanapun kau akan segera mati! Aku ingin melihat Tetua Mo membunuhmu. Apakah mulutmu masih bisa mengucapkan kata sombong setelah mati! Oh, iya. Asal kau tau saja, setelah Kami membunuhmu, kami akan membunuh wanita lacur yang melarikan diri tadi! Selanjutnya adalah keluargamu. Ayahmu, Ibumu ataupun adikmu. Kami akan menyiksanya di depan mayatmu sampai kami merasa senang lalu membunuhnya dengan menyedihkan seperti dirimu! Ha ha ha ha!" Tawa Jiang Nian sampai terdengar oleh seluruh orang yang berada di area Pertarungan.


Tetua Mo mengeluskan jenggot nya dengan wajah sombongnya. Sementara itu Rio yang mendengarkan mulai bereaksi atas ucapan yang dikeluarkan oleh Jiang Nian.


"Hei kau wanita yang ada di sana!" Rio menunjuk ke arah Jiang Nian, lalu... " Sepertinya kau sudah bosan hidup ya. Kau boleh menghinaku sesuka dirimu, tapi aku tidak akan membiarkan orang lain menghina keluargaku! Sepertinya kau memang pandai bersilat lidah. Terlebih lagi, dari tadi aku mendengar dari mulutmu yang selalu merendahkan orang yang berada di bawahmu, apa kau tidak takut karma akan segera datang kepadamu?" Ucap Rio, sebagai Respon atas ucapannya Jiang Nian tertawa, lalu...


"Hahh? Memangnya kenapa kalau aku menghinamu?! Kau hanyalah mortal yang lebih rendah dari kami. Sadarilah posisimu, Mortal!" Ucap Jiang Nian, Saudari yang berada di sampingnya juga mengutarakan kata-kata yang sudah lama di pendamnya.


"Memangnya kau itu Dewa yang bisa berbuat apa saja semaumu? Sudah beruntung jika kami yang akan mengambil nyawamu yang tidak berharga itu. Diamlah di tempatmu dan biarkan Tetua Mo mengambil nyawamu tanpa rasa sakit!" Ucap Jiang Feiyu yang berada di samping Jiang Nian. Sebagai balasan Rio mulai sedikit terbawa emosi atas ucapannnya itu.


"Entahlah, tapi percaya atau tidak aku bisa merubah kalian menjadi seperti yang aku inginkan." Ucap Rio. Setelah itu ia menggerakan tangannya ke arah papan hologram yang ada di depannya. Memeriksa status Jiang Nian lalu ingin merubahnya. Sementara itu Jiang Nian yang mendengar ucapan itu mengerutkan keningnya, lalu kembali menghina Rio dengan semua emosi terpendamnya.


"Apa maksudmu?! Kau hanya menggertak dasar mortal! Tetua, cepat bunuh mortal ini dan beritahu Patriak jika dia-" ucap Jiang Nian. Tapi sebelum Jiang Nian menyelesaikan kata-katanya, secara tiba-tiba tubuhnya merasakan sakit yang amat luar biasa. Lalu setelahnya ia menyadari satu hal.


"Ada apa dengan tubuhku? Akhh..." Jiang Nian meraba tubuhnya, lalu sesuatu yang tidak bisa di jelaskan terjadi pada tubuhnya. "Akar spiritual ku... Tidak ada. Basis kultivasi ku yang sudah ku asah selama Ribuan tahun telah menghilang. Ada apa sebenarnya ini?" Tanya Jiang Nian dengan syok yang sangat mendalam.

__ADS_1


__ADS_2