
Santi kaget setelah mendengar pernyataan Rio yang secara tiba-tiba itu.
Santi bahkan tidak mengetahui isi percakapan diantara Rio dengan si pemangggil, tetapi intinya dia mengetahui kalau alasan Rio ingin pergi, pasti ada kaitannya dengan telepon yang baru saja dia angkat.
"Apa? Kamu ingin pergi!! Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku lagi?" Ucap Santi dengan perasaan penuh emosi.
"Tenanglah. Aku belum menjelaskan alasan kenapa aku ingin pergi. Tolong kendalikan emosimu, itu akan menambah beban pikiranmu." Balas Rio sambil mencoba untuk menenangkan Santi.
"Bagaimana bisa aku bersikap tenang?! Kamu menyadari jika di luar sangat berbahaya? Kenapa kamu bersikeras ingin pergi?" Tanya Santi sambil menggedorkan tangannya ke arah meja.
"Ada suatu hal penting yang harus aku urus di luar, jadi--" Sebelum Rio menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Santi memotong pembicaraannya.
"Hal penting seperti apa? Apa ada hal penting selain pacarmu ini di sini?! Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu di luar? Pokoknya aku tidak mengijinkan kamu pergi!!"
Santi tetap kekeh dengan keteguhannya, dan tidak membiarkan Rio untuk berpendapat mengenai alasan dia ingin pergi dari kediamannya.
Tapi di lain sisi, jika Rio tidak pergi, pasti adiknya akan meneleponnya kembali. Sedangkan kalau dia pergi secara diam-diam, pasti Santi akan mencurigainya dan akan marah-marah kepadanya ketika ia kembali.
__ADS_1
Jika itu sampai terjadi, Santi akan menderita stress karena terus memikirkan Rio yang telah pergi meninggalkannya. Kemungkinan terburuknya adalah dapat berpengaruh kepada buah hati kecilnya, dan berakhir menjadi masalah serius pada kehamilannya.
"Santi... Tolong jangan bersikap egois!"
"Tidak!! Kalau aku tidak mengijinkan untuk pergi, maka kamu tidak boleh pergi!!!" Santi bangkit dari kursinya dan segera pergi untuk meninggalkan halaman.
Tetapi sebelum Santi pergi, dia sempat berhenti di tempatnya dan menengok ke arah belakang untuk memberitahukan sesuatu.
"Ingat!! Jangan sesekali kamu keluar dari tempat ini!!!" Setelah itu dia kembali menghadap ke depan, lalu kembali berjalan menuju pintu rumah untuk masuk ke dalam.
Dia diam seribu kata sambil merenungkan kata-kata terakhir yang baru saja di ucapkan oleh Santi.
Kata-kata yang diucapkannya termasuk kedalam sebuah ancaman, dan ekspresi dingin dan marahnya merupakan bukan sifat pada dirinya sebelumnya.
Santi telah berubah. Sebelumnya dia adalah gadis ceria yang baik hati dengan sifat polosnya, tetapi kenapa sifatnya kini bisa berubah 180⁰?
Apakah itu karena Rio memberitahukan kepadanya jika ia akan pergi dari rumah, oleh karena itu dia marah kepadanya dan melarangnya?
__ADS_1
Jika benar begitu, itu hal yang sangat merepotkan.
"Dia benar-benar gadis yang egois. Aku belum menjelaskan alasannya, tetapi dia sudah melarangnya. Aku menduga jika cewe di bumi ini semuanya sama sepertinya. Benar-benar hal yang merepotkan." gumam Rio pada dirinya sendiri.
Hal yang membuatnya untuk keluar dari rumah ini saja tidak bisa.
Seharusnya Rio tidak perlu untuk meminta ijin kepada Santi terlebih dahulu untuk pergi. Tidak ada siapapun yang bisa membatasi kebebasannya, oleh karena itu Rio dapat pergi dengan sesuka hatinya.
Tetapi, Rio takut jika dia keluar secara diam-diam tanpa memberitahukannya, Santi pasti akan merasa sedih lagi dan hal yang terburuknya adalah berakibat dengan kondisi kesehatannya.
Dia sama sekali tidak ingin untuk memberikan tambahan beban pikiran kepada Santi, karena itu akan berakibat buruk dengan kandungannya.
Satu-satunya cara agar ia bisa pergi untuk menemui adiknya adalah dengan menggunakan suatu skill yang dapat membuat dirinya bisa menjadi dua. Jadi yang pertama Rio tetap berada di mansion Santi, dan yang kedua adalah tubuh yang satunya lagi dapat pergi untuk menemui adiknya.
Tetapi bagaimana cara untuk melakukan kedua pekerjaan itu? Skill apa yang paling cocok untuk tugas seperti ini.
"Sepertinya aku akan menggunakan tubuh kloningku." Tepat setelah dia mengucapkan kata-katanya, sesuatu bayangan dari tubuhnya keluar dengan secara halus.
__ADS_1