
Sementara itu di sisi lain, Kediaman Rumah Rio. Di dalam kamar....
Seorang pria muda sedang tertidur pulas di dalam kamarnya.
Terik matahari masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Dan terik cahaya itu mengenai wajah dari pria yang sedang tertidur itu.
Sebuah bola cahaya berwarna biru yang entah datangnya darimana memasuki tubuh dari lelaki yang tertidur itu.
Sebagian kesadarannya memasuki kembali ke dalam tubuh klonnya.
"...."
Membuka kedua matanya secara perlahan, lelaki itu terbangun dari tidurnya. Pandangan pertama kali setelah dia membuka matanya adalah silauan yang sangat menyengat tertuju ke arah dirinya.
Akibatnya, pandangannya buyar tidak bisa melihat ke arah sekitar. Untuk menutupi hal itu, Rio menghalangi silauan terik matahari itu menggunakan tangannya dengan cara menopang ke arah cahaya itu berasal.
"Aku sudah kembali....." Gumam Rio sambil melihat kearah anggota tubuhnya.
Sementara dia memeriksa kondisi fisiknya yang baik-baik saja, sebuah suara terdengar dari arah lorong.
Suara langkah kaki terdengar melalui kedua kupingnya, dan langkah kaki itu semakin mendekat seperti sedang menuju ke arah kamarnya.
*Blussshh*
Suara langkah kaki itu menghilang setelah orang itu berdiri tepat di pintu luar kamar.
__ADS_1
Dan, orang itu adalah....
*Tok-Tok-Tok* Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar.
"Kakak! Apakah kamu ada di dalam?" Seseorang bertanya dari arah luar kamarnya.
Suara yang begitu lembut dan sepertinya dia mengenal dari suara itu. Suara dari seorang wanita, ternyata suara itu berasal dari adik perempuannya.
"Ya, aku ada di dalam, silahkan masuk!" Ucap Rio sambil mengganti ke posisi duduk agar terlihat lebih nyaman.
Setelah Rio menyuruh adiknya untuk masuk, Rani membuka pintu kamar. "Aku masuk kak."
Pandangan pertama setelah Rani memasuki ruang kamar kakaknya adalah dia melihat kakaknya sedang duduk bersila di atas kasurnya. Setelah itu pandangan selanjutnya adalah kakaknya menatap ke arah dirinya dengan bertanya "Ada apa kamu mencariku?"
Mendengar pertanyaan itu, Rani segera duduk di pinggir kasur, lalu menjawab pertanyaan kakaknya. "Ah, ya. Mereka bertiga sudah sadar kak. itu semua berkat kakak yang telah menolong mereka, terima kasih banyak kak."
Seperti yang diucapkan oleh kakaknya, tujuan awalnya adalah untuk memeriksa kondisi fisik dari kakaknya itu, dan meskipun dia melihatnya secara langsung, sepertinya kondisinya masih terbilang sehat.
Melalui perjalanan yang sangat berat dan panjang. Melewati segala rintangan untuk mencapai tujuan. Meskipun itu adalah hal yang tidak mungkin bagi seorang manusia biasa, tetapi kakaknya bisa melakukan hal tersebut.
Bisa dibilang, kakaknya adalah orang yang spesial. Dia bisa melakukan apa yang tidak bisa orang lain lakukan.
Meskipun begitu, sebagai seorang manusia biasa, Rani masih khawatir dengan kondisi kesehatan dari kakaknya. Karena baginya, kakak adalah seorang manusia sama seperti yang lainnya.
Tentunya mungkin sebagai seorang manusia, sebuah penyakit adalah suatu hal yang wajar. Apalagi terdapat banyak virus dan bakteri yang berterbangan di dunia kiamat ini, sangat tidak mungkin kan jika seseorang tidak mudah terserang penyakit?
__ADS_1
Dan untuk tujuan keduanya adalah...
"Ya, Nuke meminta kakak untuk menemuinya di kamar."
Ketika dia hendak pergi menuju kamar kakaknya, temannya yaitu Nuke menarik lengannya. Dia memberikan pesan kepadanya untuk di sampaikan kepada kakaknya jika ia ingin bertemu dengan Rio untuk mengucapkan rasa terimakasih.
Jadi Rani sekalian pergi untuk menyampaikan pesan tersebut, dan respon dari kakaknya saat ini adalah... "Baiklah, kakak akan menemuinya nanti." Balas Rio dengan turun dari kasurnya segera menuju ke arah jendela kamar.
Dia berjalan ke arah balkon kamarnya. Segera Rani mengikutinya dari arah belakang.
Terlihat dari wajahnya, sepertinya kakak sedang kelelahan. Tidak, dibandingkan dengan kelelahan, sepetinya dia sedang memikirkan sesuatu.
Sesuatu seperti apa yang membuat kakaknya sampai memikirkan suatu hal yang sangat berat?
Melihat kejadian itu membuat Rani penasaran dengan pikiran yang dipikirkan oleh kakaknya. Untuk menghilangkan rasa penasaran itu, jadi dia bertekad untuk menanyai itu secara halus. "Kak, apakah kakak baik-baik saja?" Tanya Rani.
Mendengar pertanyaan itu, Rio meresponnya dengan menanyai balik perkataan Rani. "Bagaimana menurutmu? Apakah kakakmu ini terlihat baik-baik saja?"
"Ah, ya. Menurutku kakak--" Ketika Rani ingin menyelesaikan katanya, Kakaknya menanggapinya dengan lelucon tertawa.
"Kakak baik-baik saja kok. Lihatlah, tubuhku masih sehat. Mungkin itu hanya perasaan kamu saja kali."
"Ah, ya benar. Mungkin itu hanya perasaan Rani saja yang terlalu mengkhawatirkan kakak." Wajah Rani memerah dan saat ini mendungkuk ke arah bawah untuk menahan rasa malu.
"Itu saja kak, sekali lagi terima kasih banyak karena telah menolong mereka bertiga." Rani berjalan menuju pintu kamar untuk menutupi rasa malu karena bertanya pertanyaan yang konyol kepada kakaknya.
__ADS_1
"Aku permisi dulu." Rani menutup pintu dan pergi meninggalkan kamar untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Pintu telah tertutup, keadaan kembali menjadi hening seketika.